Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SERANGAN jantung merupakan kondisi serius yang memerlukan penanganan segera dan dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia atau jenis kelamin.
Serangan jantung terjadi ketika otot jantung tidak menerima cukup darah, sehingga kondisi ini menyebabkan ketergangguan pada otot jantung dan kematian jaringan dan disebut infark miokard. Berikut beberapa ciri dan faktor risiko serangan jantung yang bisa dideteksi sejak dini, sebelum kematian terjadi.
Orang yang mengalami serangan jantung akan mengalami nyeri dada yang terasa seperti tertekan atau tertindih, dan dapat menyebar ke leher, rahang, lengan, hingga menembus punggung. Rasa sakitnya terkadang terasa seperti tertimpa benda berat dan berlangsung lebih dari beberapa menit.
Baca juga : Generasi Muda Banyak yang Mengalami Serangan Jantung, Apa Penyebabnya?
Gejala-gejala ini termasuk mual, muntah, dan sakit perut. Meski tidak khas, beberapa orang mungkin mengalami nyeri pada perut sebagai salah satu ciri serangan jantung. Sakit perut akibat penyakit jantung biasanya disertai dengan rasa nyeri pada ulu hati yang terkadang disalahartikan sebagai sakit maag.
Kesulitan bernapas juga bisa menjadi ciri serangan jantung. Kondisi ini bisa disebabkan oleh tidak berfungsinya pompa jantung sehingga darah tidak dapat mengalir dengan lancar dan tertumpuk di paru-paru.
Keringat dingin yang tiba-tiba dapat mengindikasikan serangan jantung. Hal ini karena jantung membutuhkan tenaga lebih besar untuk memompa darah melalui arteri yang tersumbat, sehingga tubuh menjadi berkeringat dan mencoba menjadi dingin saat jantung beraktivitas ekstra.
Baca juga : Terapkan Gaya Hidup Sehat, Cara Utama Cegah Penyakit Jantung
Rasa lelah yang berlebihan tanpa alasan yang jelas bisa menjadi tanda serangan jantung ringan pada wanita, karena organ tersebut perlu bekerja ekstra untuk memompa darah melalui pembuluh yang tersumbat.
Sebelum terkena serangan jantung, beberapa penderita juga mengalami gangguan pencernaan ringan dan masalah gastrointestinal lainnya.
Jantung terus bekerja tanpa henti. Seiring bertambahnya usia, risiko melemah dan menebalnya otot jantung juga semakin meningkat. Risiko terkena serangan jantung yang meningkat pada pria setelah usia 45 tahun dan wanita setelah usia 55 tahun atau setelah menopause.
Baca juga : Rekomendasi 8 Jenis Suplemen yang Bisa Meningkatkan Kekebalan Tubuh
Jika ayah atau saudara laki-laki Anda didiagnosis menderita penyakit jantung koroner sebelum usia 55 tahun, atau ibu atau saudara perempuan didiagnosis menderita penyakit jantung koroner sebelum usia 65 tahun memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung.
Memiliki kebiasaan gaya hidup seperti makan yang tidak sehat juga dapat menjadi salah satu faktor risiko terkena serangan jantung. Contoh pola makan yang tidak sehat, yaitu terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh dan natrium.
Kurangnya aktivitas fisik, apalagi berolahraga, juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Hal ini sebab jantung akan lebih terlatih bila rutin berolahraga.
Asap pada rokok mengandung nikotin dan karbonmonoksida yang dapat merusak lapisan jantung serta menyempitkan pembuluh darah. Oleh karena itu, tidak jarang perokok lebih rentan terkena serangan jantung.
Terakhir faktor risiko serangan jantung adalah Kelebihan berat badan atau obesitas. Hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, karena rentang gerak jantung terbatas dan tertutup oleh lemak di dalam tubuh. (Z-10)
VILPA merupakan akitifitas singkat tetapi intens yang biasa kita lakukan. Durasi setiap aktivitas biasanya hanya 30–60 detik, tetapi intensitasnya cukup tinggi.
Sseorang yang terbiasa terpapar sinar matahari aktif umumnya memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian nonkanker/non-CVD.
Tingkat kematian akibat stroke di Indonesia mencapai 178,3 per 100.000 penduduk (disesuaikan dengan usia).
Kematian jantung mendadak (Sudden Cardiac Death/SCD) menjadi ancaman serius yang tak bisa dianggap remeh.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa sesaat sebelum kematian, otak memperlihatkan peningkatan aktivitas yang tidak biasa.
Di era digital, informasi menyebar dengan cepat, terutama melalui media sosial. Namun, tidak semua kabar yang viral dapat dipercaya
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Tes darah baru mampu mendeteksi risiko komplikasi mematikan pada pasien hypertrophic cardiomyopathy (HCM). Terobosan besar bagi jutaan pengidap jantung genetik.
Peradangan kronis pada gigi dan gusi bukan sekadar rasa nyeri, melainkan proses biologis yang memengaruhi pembuluh darah.
Para pelari disarankan agar rutin mendeteksi masalah jantung, seperti keberadaan plak, sedini mungkin.
LDL, yang dikenal sebagai kolesterol jahat, merupakan faktor utama penyakit kardiovaskular.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved