Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Produksi Dikebut, AS Tingkatkan Kapasitas Tomahawk Usai Serangan ke Iran

Ferdian Ananda Majni
01/4/2026 15:32
Produksi Dikebut, AS Tingkatkan Kapasitas Tomahawk Usai Serangan ke Iran
Presiden AS Donald Trump.(Anadolu )

Sejumlah pejabat di Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengungkapkan kekhawatiran setelah Amerika Serikat menggunakan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk dalam konflik melawan Iran.

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut dan dikutip The Washington Post, jumlah penggunaan itu hampir sembilan kali lipat dibandingkan rata-rata pembelian rudal Tomahawk oleh Pentagon setiap tahunnya.

Kapasitas produksi maksimum rudal ini diperkirakan mencapai sekitar 2.330 unit per tahun. 

Tiga kontrak produksi yang dimiliki Raytheon masing-masing mencakup 600 unit, sementara BAE Systems memiliki kontrak untuk memproduksi hingga 530 unit per tahun. 

Data ini mengacu pada laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang bersumber dari dokumen anggaran Pentagon.

Namun demikian, CSIS mencatat bahwa realisasi pengadaan aktual oleh militer AS hanya berada di kisaran 90 unit per tahun.

Penggunaan Tomahawk secara besar-besaran dalam konflik ini memicu kekhawatiran di kalangan pejabat dan analis pertahanan. Hal ini disebabkan tingginya biaya serta keterbatasan produksi rudal tersebut.

Dari sisi harga, biaya Tomahawk berbeda tergantung varian. Untuk versi berbasis darat, satu unit rudal bernilai sekitar 2,2 juta dolar AS atau sekitar Rp37 miliar, sementara sistem peluncurnya dapat melebihi 6 juta dolar AS atau sekitar Rp101 miliar.

Adapun varian yang diluncurkan dari kapal perusak maupun kapal selam dapat mencapai harga lebih dari 4 juta dolar AS atau sekitar Rp67 miliar per unit.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri pertahanan hanya mampu memproduksi puluhan hingga ratusan rudal per tahun untuk kebutuhan Amerika Serikat. Hal ini tercermin dalam dokumen anggaran Kementerian Pertahanan AS.

Pembaruan terbaru dari Pentagon menunjukkan adanya langkah untuk meningkatkan kapasitas produksi Tomahawk. RTX Corporation mengumumkan bahwa produksi tahunan akan ditingkatkan hingga lebih dari 1.000 unit per tahun melalui perjanjian baru.

Tomahawk sendiri merupakan salah satu dari berbagai amunisi canggih yang digunakan AS dalam operasi militernya terhadap Iran.

Senator dari Partai Demokrat, Jack Reed, dalam sidang awal pekan ini mengungkapkan skala penggunaan senjata tersebut.

"Ribuan rudal Tomahawk, rudal serang presisi, dan senjata ofensif jarak jauh lainnya ke Iran, ditambah pula pencegat Patriot, THAAD, dan Standard dalam jumlah yang mengkhawatirkan," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, turut menanggapi laporan tersebut. 

"AS memiliki stok amunisi, peluru, dan senjata yang lebih dari cukup untuk mencapai tujuan Operasi Epic Fury," sebutnya.

"Meskipun demikian, Presiden (Donald) Trump selalu sangat fokus pada (penguatan) Angkatan Bersenjata dan dia akan terus menyerukan kepada kontraktor pertahanan untuk lebih cepat membangun senjata buatan Amerika, yang merupakan yang terbaik di dunia," tambahnya.

Di sisi lain, Pentagon menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung setiap operasi militer.

Juru bicara Kementerian Pertahanan, Sean Parnell, mengatakan Departemen Perang memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan misi apa pun pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden dan dalam jangka waktu berapa pun.

Sebagai informasi, Tomahawk merupakan rudal jelajah yang memiliki jangkauan lebih dari 1.000 mil dengan tingkat akurasi tinggi. Sistem ini mampu menghantam target yang dilindungi pertahanan udara canggih.

Rudal ini pertama kali dikembangkan pada era Perang Dingin dan terus mengalami peningkatan teknologi hingga saat ini. Tomahawk menjadi salah satu sistem senjata jarak jauh andalan Pentagon.

Pengoperasiannya terutama dilakukan oleh Angkatan Laut AS, meskipun dalam beberapa tahun terakhir juga mulai digunakan oleh Angkatan Darat. Selain itu, negara sekutu seperti Angkatan Laut Inggris turut mengoperasikan sistem persenjataan ini. (Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya