Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Mengenal Misi Perdamaian UNIFIL, Ternyata Indonesia Jadi Kontributor Pasukan Terbesar!

 Gana Buana
30/3/2026 19:11
Mengenal Misi Perdamaian UNIFIL, Ternyata Indonesia Jadi Kontributor Pasukan Terbesar!
Indonesia Jadi Kontributor Pasukan Terbesar.(Instagram)

MISI perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Libanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) selama puluhan tahun menjadi salah satu pilar stabilitas di kawasan Timur Tengah. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, muncul tren yang mengkhawatirkan: sejumlah negara mulai mempertimbangkan bahkan sudah menarik pasukannya dari misi ini.

Fenomena ini bukan sekadar dinamika biasa dalam operasi penjaga perdamaian. Jika tren ini berlanjut, dampaknya bisa jauh lebih besar, tidak hanya bagi Libanon, tetapi juga bagi stabilitas regional dan kredibilitas misi perdamaian global.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik gelombang penarikan pasukan ini?

Apa Itu UNIFIL dan Mengapa Penting?

Dilansir dari Antara, UNIFIL dibentuk pada tahun 1978 dengan tujuan utama menjaga perdamaian di perbatasan Libanon dan Israel. Seiring waktu, mandatnya berkembang mencakup pemantauan gencatan senjata, membantu pemerintah Libanon mengontrol wilayah selatan, serta melindungi warga sipil.

Berdasarkan data terbaru PBB per Maret 2026, UNIFIL terdiri dari 8.203 personel dari 47 negara, dengan Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar dengan sekitar 756 pasukan, hanya sedikit di bawah Italia sebagai penyumbang terbesar.

Namun, kompleksitas konflik di wilayah tersebut membuat misi ini selalu berada dalam tekanan.

Jumlah Pasukan UNIFIL per Negara 2026

Total: 8.203 personel dari 47 negara

Kontributor Besar

  • Italia - 774
  • Indonesia - 756
  • Spanyol - 657
  • India - 642
  • Ghana - 624
  • Prancis - 606
  • Nepal - 553
  • Malaysia - 515
  • China - 471

Indonesia menempati posisi kedua sebagai kontributor terbesar di UNIFIL.

Kontributor Menengah

  • Irlandia - 295
  • Kamboja - 181
  • Jerman - 178
  • Serbia - 168
  • Austria - 163
  • Korea Selatan - 162
  • Finlandia - 140
  • Polandia - 140
  • Bangladesh - 119
  • Sri Lanka - 117
  • Tanzania - 76

Kontributor Kecil

  • El Salvador - 35
  • Moldova - 33
  • Brunei - 21
  • Hungaria - 16
  • Brasil - 10
  • Malta - 6
  • Mongolia - 4
  • North Macedonia - 4
  • Kazakhstan - 3
  • Latvia - 3

Kontributor Sangat Kecil

  • Armenia - 1
  • Kolombia - 1
  • Estonia - 1
  • Fiji - 1
  • Malawi - 1
  • Nigeria - 1
  • Peru - 1
  • Qatar - 1
  • Siprus - 2
  • Guatemala - 2
  • Kenya - 2
  • Sierra Leone - 2
  • Turki - 2
  • Inggris - 2
  • Zambia - 2

Indonesia bukan sekadar peserta, tetapi termasuk kontributor terbesar di UNIFIL dengan 756 personel, hanya sedikit di bawah Italia. Sebagian besar negara lain hanya mengirim puluhan hingga satuan personel.

Mengapa Negara Mulai Menarik Pasukan?

Ada beberapa faktor utama yang mendorong negara-negara mulai mempertimbangkan penarikan pasukan dari UNIFIL:

1. Risiko Keamanan yang Meningkat

Konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di Libanon, termasuk Hizbullah, mengalami eskalasi dalam beberapa periode terakhir. Kondisi ini meningkatkan risiko bagi pasukan penjaga perdamaian.

Insiden yang melibatkan korban dari pasukan UNIFIL menjadi alarm serius bagi negara pengirim pasukan. Ketika risiko meningkat, tekanan domestik untuk menarik pasukan juga ikut naik.

2. Tekanan Politik Dalam Negeri

Di banyak negara, keputusan mengirim atau mempertahankan pasukan di luar negeri tidak lepas dari dinamika politik domestik.

Ketika terjadi korban jiwa atau situasi dianggap tidak lagi aman, parlemen atau publik sering mendorong pemerintah untuk mengevaluasi bahkan menghentikan partisipasi dalam misi tersebut.

3. Efektivitas Misi Dipertanyakan

Seiring berjalannya waktu, muncul pertanyaan apakah UNIFIL masih efektif dalam menjalankan mandatnya.

Jika konflik terus berulang dan tidak ada solusi jangka panjang, sebagian pihak menilai bahwa kehadiran pasukan penjaga perdamaian hanya bersifat “menahan” konflik, bukan menyelesaikannya.

4. Perubahan Prioritas Global

Banyak negara kini menghadapi tantangan lain seperti konflik regional, krisis ekonomi, atau kebutuhan pertahanan dalam negeri.

Akibatnya, alokasi sumber daya untuk misi luar negeri seperti UNIFIL mulai dipertimbangkan ulang.

Negara yang Sudah dan Berpotensi Menarik Pasukan

Beberapa negara sudah mengambil langkah konkret, sementara lainnya masih dalam tahap evaluasi:

  • Argentina menjadi salah satu negara yang sudah menarik pasukannya dari UNIFIL.
  • Italia mulai membuka opsi penarikan di tengah meningkatnya ketegangan.
  • Indonesia masih dalam tahap evaluasi, terutama setelah insiden yang melibatkan prajuritnya.
  • Korea Selatan dan Kroasia memiliki rencana penarikan dalam kerangka kebijakan jangka panjang.

Walaupun belum terjadi eksodus besar-besaran, sinyal yang muncul menunjukkan adanya perubahan sikap global terhadap misi ini.

Dampak Jika Banyak Negara Menarik Pasukan

Jika tren penarikan ini berlanjut, ada beberapa dampak besar yang perlu diperhatikan:

1. Melemahnya Stabilitas di Lebanon Selatan

UNIFIL berperan sebagai “penyangga” antara pihak-pihak yang berkonflik. Berkurangnya pasukan dapat menciptakan kekosongan keamanan yang berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok bersenjata.

2. Risiko Eskalasi Konflik

Tanpa kehadiran pasukan internasional yang netral, potensi bentrokan langsung antara pihak-pihak yang bertikai bisa meningkat.

Hal ini tidak hanya berdampak pada Libanon, tetapi juga dapat memicu ketegangan regional yang lebih luas.

3. Menurunnya Kredibilitas Misi Perdamaian PBB

Jika banyak negara menarik diri, hal ini bisa mengirim sinyal bahwa misi tersebut tidak lagi efektif atau tidak aman.

Dalam jangka panjang, ini dapat memengaruhi kepercayaan terhadap operasi penjaga perdamaian PBB di berbagai belahan dunia.

4. Tekanan terhadap Negara yang Masih Bertahan

Negara-negara yang tetap mempertahankan pasukan akan menghadapi beban lebih besar, baik dari sisi operasional maupun risiko keamanan.

Masa Depan UNIFIL: Menuju Akhir Mandat?

Dilansir dari Media Indonesia, mandat UNIFIL sendiri direncanakan berakhir pada akhir 2026. Hal ini menambah dimensi baru dalam dinamika penarikan pasukan.

Beberapa analis melihat tren penarikan ini sebagai tanda bahwa negara-negara mulai bersiap menghadapi kemungkinan berakhirnya misi tersebut.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa justru di tengah ketidakpastian inilah kehadiran UNIFIL menjadi semakin penting. (Ant/Media Indonesia/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya