Headline
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Kumpulan Berita DPR RI
LANGIT Teheran tidak lagi sekadar abu-abu karena polusi industri; kini ia menumpahkan 'hujan hitam' yang membawa pesan kematian terselubung. Serangan pesawat nirawak (drone) Israel yang menghantam depo minyak dan kilang raksasa di pinggiran ibu kota Iran pada 8 Maret lalu telah memicu bencana lingkungan yang diprediksi akan bertahan hingga puluhan tahun ke depan.
Nejat Rahmanian, profesor teknik kimia dari University of Bradford, mengenang memori pahit 35 tahun silam saat Perang Teluk berkecamuk. Kala itu, pembakaran ladang minyak di Kuwait oleh pasukan Irak mengirimkan jelaga dan sulfur dioksida hingga ke Pegunungan Himalaya. Kini, pemandangan serupa kembali menghantui 18,5 juta penduduk metropolitan Teheran, namun dengan ancaman yang jauh lebih intim dan mematikan karena titik ledakan berada tepat di depan pintu rumah mereka.
Para ahli memperingatkan bahwa campuran hidrokarbon, logam berat, dan sulfur dioksida yang dilepaskan ke atmosfer telah menyatu dengan awan hujan. Hasilnya adalah presipitasi asam yang mampu menyebabkan luka bakar kimiawi pada kulit dan kerusakan permanen pada paru-paru.
"Kombinasi kebakaran minyak katastrofik dengan curah hujan membuat polutan ini jauh lebih berbahaya bagi kesehatan manusia karena lebih mudah diserap oleh sistem saraf dan darah," ujar Dimitris Kaskaoutis, fisikawan dari National Observatory of Athens.
Ketegangan semakin meningkat ketika imbauan kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk tetap berada di dalam rumah bertabrakan dengan seruan pemerintah Iran yang justru mendorong warga turun ke jalan untuk reli politik. Bagi warga yang memiliki akses, melarikan diri ke wilayah utara menjadi satu-satunya pilihan rasional demi menghindari udara yang terasa 'berat' dan beracun.
Sejak kampanye militer dimulai pada 28 Februari, pemutusan akses internet dan telepon di Iran menyulitkan pendataan skala polusi secara akurat. Namun, lembaga nonprofit Conflict and Environment Observatory (CEOBS) telah mengidentifikasi lebih dari 300 insiden yang berisiko merusak lingkungan sejak permusuhan pecah.
Lembah Teheran yang diapit pegunungan Alborz memperburuk situasi melalui fenomena thermal inversion, di mana polutan terjebak dan tidak bisa terdispersi. Tanpa adanya pembersihan yang mahal dan rumit, residu logam berat seperti timbal, kadmium, dan nikel akan terus mengendap di tanah dan air, menciptakan krisis kesehatan jangka panjang bagi kelompok rentan, terutama anak-anak dan ibu hamil.
Kini, di tengah deru mesin perang, para ilmuwan hanya bisa memantau dari jauh, mendokumentasikan kerusakan demi akuntabilitas masa depan, sembari berharap fasilitas nuklir dan desalinasi di kawasan tersebut tidak menjadi target berikutnya yang akan memicu kiamat ekologi di Timur Tengah. (Japan Times/B-3)
Senator dari Partai Demokrat, Chris Murphy, menilai Presiden Donald Trump telah kehilangan kendali atas konflik yang kini meluas di kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump meminta negara pengguna minyak Selat Hormuz untuk ikut mengirim militer guna membuka blokade Iran yang memicu lonjakan harga minyak global.
Perang Iran dan Israel kini memasuki fase menentukan. Simak rincian jumlah korban tewas di Iran, Lebanon, hingga pasukan AS pasca serangan 28 Februari.
Hussein Ibish mengungkap mengapa negara-negara Teluk mulai meragukan aliansi keamanan dengan AS di tengah ancaman Iran. Simak analisis lengkapnya di sini.
AS pindahkan 2.000 Marinir dan Kapal Serbu Tripoli dari Jepang ke Timur Tengah. Donald Trump peringatkan Iran soal jalur minyak Selat Hormuz. Baca selengkapnya.
Studi terbaru mengungkap bayi lahir tahun 2003-2006 terpapar lebih banyak zat kimia PFAS daripada dugaan semula.
Perusakan lingkungan adalah kerusakan alam akibat ulah manusia. Ketahui penyebab, dampak, dan cara mencegahnya di sini!
Pengertian kerusakan lingkungan, penyebab, dampak, dan solusi praktis untuk menjaga bumi. Pelajari cara mengatasi kerusakan lingkungan!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved