Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Perang Iran: Dampak Hujan Hitam dan Polusi Logam Berat di Teheran hingga Puluhan Tahun

Haufan Hasyim Salengke
16/3/2026 11:33
Perang Iran: Dampak Hujan Hitam dan Polusi Logam Berat di Teheran hingga Puluhan Tahun
Kepulan asap membubung dari fasilitas penyimpanan minyak setelah serangan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Iran, pada 8 Maret.(Arash Khamooshi/The New York Times)

LANGIT Teheran tidak lagi sekadar abu-abu karena polusi industri; kini ia menumpahkan 'hujan hitam' yang membawa pesan kematian terselubung. Serangan pesawat nirawak (drone) Israel yang menghantam depo minyak dan kilang raksasa di pinggiran ibu kota Iran pada 8 Maret lalu telah memicu bencana lingkungan yang diprediksi akan bertahan hingga puluhan tahun ke depan.

Nejat Rahmanian, profesor teknik kimia dari University of Bradford, mengenang memori pahit 35 tahun silam saat Perang Teluk berkecamuk. Kala itu, pembakaran ladang minyak di Kuwait oleh pasukan Irak mengirimkan jelaga dan sulfur dioksida hingga ke Pegunungan Himalaya. Kini, pemandangan serupa kembali menghantui 18,5 juta penduduk metropolitan Teheran, namun dengan ancaman yang jauh lebih intim dan mematikan karena titik ledakan berada tepat di depan pintu rumah mereka.

Ancaman Toksisitas Akut

Para ahli memperingatkan bahwa campuran hidrokarbon, logam berat, dan sulfur dioksida yang dilepaskan ke atmosfer telah menyatu dengan awan hujan. Hasilnya adalah presipitasi asam yang mampu menyebabkan luka bakar kimiawi pada kulit dan kerusakan permanen pada paru-paru.

"Kombinasi kebakaran minyak katastrofik dengan curah hujan membuat polutan ini jauh lebih berbahaya bagi kesehatan manusia karena lebih mudah diserap oleh sistem saraf dan darah," ujar Dimitris Kaskaoutis, fisikawan dari National Observatory of Athens.

Ketegangan semakin meningkat ketika imbauan kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk tetap berada di dalam rumah bertabrakan dengan seruan pemerintah Iran yang justru mendorong warga turun ke jalan untuk reli politik. Bagi warga yang memiliki akses, melarikan diri ke wilayah utara menjadi satu-satunya pilihan rasional demi menghindari udara yang terasa 'berat' dan beracun.

Bencana yang Terisolasi

Sejak kampanye militer dimulai pada 28 Februari, pemutusan akses internet dan telepon di Iran menyulitkan pendataan skala polusi secara akurat. Namun, lembaga nonprofit Conflict and Environment Observatory (CEOBS) telah mengidentifikasi lebih dari 300 insiden yang berisiko merusak lingkungan sejak permusuhan pecah.

Lembah Teheran yang diapit pegunungan Alborz memperburuk situasi melalui fenomena thermal inversion, di mana polutan terjebak dan tidak bisa terdispersi. Tanpa adanya pembersihan yang mahal dan rumit, residu logam berat seperti timbal, kadmium, dan nikel akan terus mengendap di tanah dan air, menciptakan krisis kesehatan jangka panjang bagi kelompok rentan, terutama anak-anak dan ibu hamil.

Kini, di tengah deru mesin perang, para ilmuwan hanya bisa memantau dari jauh, mendokumentasikan kerusakan demi akuntabilitas masa depan, sembari berharap fasilitas nuklir dan desalinasi di kawasan tersebut tidak menjadi target berikutnya yang akan memicu kiamat ekologi di Timur Tengah. (Japan Times/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya