Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Iran Siap Berdamai dengan AS di Jenewa, Syaratnya?

Thalatie K Yani
26/2/2026 08:38
Iran Siap Berdamai dengan AS di Jenewa, Syaratnya?
Ilustrasi(Media Sosial X)

IRAN memasuki babak baru perundingan nuklir yang krusial dengan Amerika Serikat di Jenewa, Kamis (26/2) waktu setempat. Tehran menyatakan keyakinannya kesepakatan dapat dicapai, asalkan pemerintahan Donald Trump bersedia menghormati sejumlah prasyarat diplomatik yang sebelumnya telah dibahas melalui utusan khusus.

Para diplomat Iran menetapkan tiga syarat utama, pengakuan hak simbolis Iran untuk memperkaya uranium, izin untuk mengencerkan stok uranium yang telah diperkaya tinggi, dan tidak adanya kontrol terhadap program rudal balistik mereka.

Meskipun pejabat Iran mengklaim utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, sempat menerima prinsip-prinsip ini dalam pembicaraan tidak langsung sebelumnya, ketidakpastian kini membayangi meja perundingan.

Sinyal Kontradiktif dari Washington

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, justru memberikan peringatan keras. Ia menyebut akan menjadi "masalah besar" jika Iran menolak merundingkan masalah rudal mereka.

Sikap ini sejalan dengan pidato kenegaraan (State of the Union) Presiden Trump yang bernada konfrontatif. Trump menuduh Iran masih mengejar ambisi nuklir dan terus membangun program rudal balistik yang mengancam Eropa.

"Kami telah memusnahkannya (fasilitas nuklir) dan mereka ingin memulainya dari awal lagi," tegas Trump dalam pidatonya, merujuk pada serangan AS tahun lalu.

Pernyataan ini berbanding terbalik dengan pesan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Sebelum bertolak ke Jenewa, Araghchi menegaskan komitmen damai negaranya melalui media sosial.

"Posisi fundamental kami sangat jelas. Iran tidak akan pernah, dalam kondisi apa pun, berupaya mengembangkan senjata nuklir; di saat yang sama, kami warga Iran tidak akan pernah melepaskan hak kami untuk mendapatkan manfaat dari teknologi nuklir damai," ujar Araghchi.

Mencari Jalan Tengah

Tim negosiasi Iran dikabarkan bersedia memberikan "kemenangan politik" bagi Trump dengan merancang kesepakatan yang terlihat lebih baik daripada perjanjian tahun 2015 era Barack Obama. Sebagai langkah awal, delegasi AS kabarnya hanya meminta Iran membatasi pengayaan uranium di bawah 5% untuk keperluan sipil.

Namun, kendala utama tetap pada sektor ekonomi. Hingga kini, tawaran AS belum mencakup pencabutan sanksi secara langsung. Sebaliknya, Iran justru menuntut pembebasan aset-aset mereka yang dibekukan di luar negeri sebagai jaminan komitmen yang tidak dapat ditarik kembali.

Direktur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, yang turut hadir di Jenewa, memperingatkan bahwa situasi kini berkembang menjadi sangat berbahaya seiring dengan penguatan militer besar-besaran AS di kawasan Timur Tengah.

"Pencapaian kesepakatan sudah dalam jangkauan, tetapi hanya jika diplomasi diprioritaskan," pungkas Araghchi.

Jika diplomasi ini menemui jalan buntu, kekhawatiran akan terjadinya konflik terbuka yang melibatkan seluruh wilayah Timur Tengah diprediksi akan menjadi kenyataan yang tak terelakkan. (The guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya