Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

2 Agen ICE Diduga Beri Kesaksian Palsu Terkait Penembakan Migran di Minneapolis

Thalatie K Yani
14/2/2026 03:57
2 Agen ICE Diduga Beri Kesaksian Palsu Terkait Penembakan Migran di Minneapolis
Dua agen imigrasi AS (ICE) terancam pidana setelah ketahuan memberikan kesaksian palsu dalam kasus penembakan migran di Minneapolis. (ABC News)

KASUS penembakan seorang migran oleh agen Layanan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) di Minneapolis bulan lalu mengambil giliran yang mengejutkan. Pihak otoritas mengungkapkan adanya dugaan kuat dua petugas lapangan memberikan "pernyataan tidak jujur" di bawah sumpah terkait kronologi kejadian tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur ICE, Todd Lyons, mengonfirmasi bahwa kedua petugas yang identitasnya masih dirahasiakan tersebut telah dibebaskan tugaskan sementara (cuti administratif). Langkah tegas ini diambil sembari menunggu hasil penyelidikan internal yang sedang berlangsung.

Rekaman Video Membantah Klaim Petugas

Awalnya, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) melaporkan seorang petugas federal terpaksa menembak kaki seorang pria setelah diserang menggunakan sekop dan gagang sapu oleh tiga orang migran pada 14 Januari lalu.

Namun, narasi tersebut runtuh setelah bukti baru muncul. Lyons menyatakan bukti video mengungkap fakta yang bertolak belakang dengan apa yang disampaikan para petugas di pengadilan.

"Bukti video mengungkapkan kesaksian di bawah sumpah yang diberikan dua petugas terpisah tampaknya merupakan pernyataan yang tidak jujur," ujar Lyons dalam pernyataan resminya, Jumat waktu setempat.

Akibat temuan ini, hakim telah mengabulkan permohonan untuk membatalkan dakwaan terhadap dua pria yang sebelumnya dituduh menyerang petugas tersebut.

Ancaman Pemecatan dan Pidana

Lyons menekankan pihaknya tidak akan menoleransi segala bentuk pelanggaran integritas, terutama terkait proses hukum. Investigasi kini tengah dilakukan secara intensif oleh kantor Kejaksaan AS.

"Berbohong di bawah sumpah adalah pelanggaran federal yang serius. Setelah penyelidikan selesai, para petugas tersebut terancam pemutusan hubungan kerja (PHK), serta potensi tuntutan pidana," tegas Lyons.

Pernyataan Kontradiktif Pemerintah

Kasus ini sempat memicu reaksi keras dari pejabat tinggi. Tak lama setelah insiden, pemerintah menyatakan bahwa kedua pria tersebut adalah warga negara Venezuela tanpa status hukum legal. Sekretaris Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, bahkan sempat memberikan pernyataan simpati kepada agen yang terlibat.

"Dia dipukuli, dia memar, dia terluka, dia sedang mendapatkan perawatan, dan kami bersyukur dia berhasil selamat," ujar Noem kala itu.

Kini, dengan munculnya bukti video yang menyanggah klaim tersebut, fokus penyelidikan beralih sepenuhnya kepada integritas para agen di lapangan yang diduga melakukan rekayasa keterangan dalam penembakan tersebut. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya