Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Siapa Saif al-Islam Gaddafi? Akhir Perjalanan Sang Pewaris Takhta Libia

Thalatie K Yani
04/2/2026 08:02
Siapa Saif al-Islam Gaddafi? Akhir Perjalanan Sang Pewaris Takhta Libia
Saif al-Islam Gaddafi, putra paling berpengaruh dari Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas di Zintan. Simak profil dan perjalanan politiknya dari calon pemimpin hingga buronan ICC.(EPA-EFE)

SAIF al-Islam Gaddafi, putra paling menonjol dari mendiang pemimpin Libia Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas di kota Zintan, wilayah barat Libia. Kabar kematian pria berusia 53 tahun ini dikonfirmasi penasihat politiknya, Abdullah Othman, dan pengacaranya, Khaled el-Zaydi, Selasa (3/2/2026), meski rincian penyebab kematiannya masih belum diungkap secara jelas.

Kematian Saif al-Islam menandai berakhirnya ambisi politik dari sosok yang pernah dianggap sebagai pewaris takhta ayahnya. Sejak pemberontakan tahun 2011, ia menetap di Zintan. Awalnya sebagai tahanan, namun sejak 2017 berstatus bebas dan mulai merancang kembalinya dinasti Gaddafi ke panggung kekuasaan.

Wajah Progresif di Balik Rezim Otoriter 

Lulusan London School of Economics (LSE) ini sempat dikenal dunia sebagai wajah "progresif" Libia. Ia memainkan peran kunci dalam menormalisasi hubungan Libia dengan Barat, termasuk memimpin negosiasi nuklir dan kompensasi bagi korban pengeboman Lockerbie. Namun, reputasi akademisnya sempat tercoreng akibat kontroversi hibah dana dari yayasan miliknya kepada LSE.

Saat gelombang Arab Spring menghantam Libia pada 2011, citra progresifnya runtuh. Ia memilih setia berdiri di samping ayahnya dan dituduh melakukan kekerasan ekstrem terhadap demonstran. Hal ini membuatnya masuk dalam daftar sanksi PBB dan menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang.

Pelarian dan Upaya Kembali ke Politik 

Setelah jatuhnya Tripoli pada 2011, ia ditangkap milisi di Zintan. Meskipun pengadilan di Tripoli sempat menjatuhkan hukuman mati secara in absentia pada 2015, ia dibebaskan oleh batalion Abu Bakr as-Siddiq pada 2017 melalui skema amnesti.

Setelah bertahun-tahun bersembunyi di bawah tanah, Saif mengejutkan dunia lewat wawancara dengan The New York Times pada 2021. Ia mengibaratkan kembalinya ke publik seperti aksi perlahan.

"Saya telah jauh dari rakyat Libia selama 10 tahun. Anda perlu kembali pelan-pelan, pelan-pelan. Seperti striptease," ujarnya kala itu.

Upaya terakhirnya untuk berkuasa terjadi pada November 2021, saat ia mendaftarkan diri sebagai calon presiden di kota Sebha. Namun, pemilu tersebut gagal terlaksana akibat ketidakstabilan politik yang terus melanda Libia hingga hari ini.

Kematian Saif al-Islam kini meninggalkan lubang besar bagi para pendukung lama rezim ayahnya yang berharap ia bisa menyatukan kembali negara yang terpecah tersebut. (Al Jazeera/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya