Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Sang "Putra Mahkota" Libia Saif al-Islam Gaddafi Dikabarkan Tewas Terbunuh

Thalatie K Yani
04/2/2026 06:39
Sang
Saif al-Islam Gaddafi, putra mantan pemimpin Libia Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas tertembak. (Media Sosial X)

SAIF al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libia Kolonel Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas tertembak pada Selasa waktu setempat. Kematian pria berusia 53 tahun yang sempat digadang-gadang sebagai pewaris kekuasaan ayahnya ini telah dikonfirmasi oleh kepala tim politiknya, menurut laporan Kantor Berita Libia.

Meski demikian, detail mengenai insiden tersebut masih diselimuti ketidakpastian akibat versi peristiwa yang berbeda. Pengacara Saif mengatakan kepada kantor berita AFP unit "komando empat orang" melakukan pembunuhan di kediamannya di kota Zintan. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Di sisi lain, muncul versi berbeda dari pihak keluarga. Saudara perempuan Saif menyatakan kepada televisi Libya bahwa ia meninggal di dekat perbatasan negara tersebut dengan Aljazair.

Sosok Berpengaruh yang Kontroversial

Lahir tahun 1972, Saif al-Islam lama dipandang sebagai sosok paling berpengaruh sekaligus ditakuti di Libia setelah ayahnya. Ia memainkan peran kunci dalam upaya normalisasi hubungan Libia dengan Barat pada periode 2000-an, termasuk negosiasi yang membuat ayahnya menghentikan program senjata nuklir.

Meskipun tidak memegang jabatan resmi di pemerintahan, ia adalah penggerak kebijakan dan negosiator ulung yang berhasil membuat sanksi internasional terhadap Libia dicabut. Saat itu, sebagian pihak menganggapnya sebagai wajah reformis dari Libya yang sedang berubah.

Namun, Saif selalu menepis isu ia dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya. Ia pernah menyatakan kursi kekuasaan "bukanlah peternakan untuk diwariskan."

Jejak Hukum dan Ambisi Politik Terakhir

Pasca jatuhnya rezim Gaddafi pada 2011, nasib Saif berubah drastis. Ia ditahan milisi di kota Zintan selama hampir enam tahun. Ia dituduh berperan penting dalam penindasan brutal terhadap protes anti-pemerintah yang berujung pada perang saudara.

Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sempat memburunya atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan. Selain itu, pada tahun 2015, pengadilan Libya menjatuhkan vonis mati secara in absentia atas perannya dalam tindakan keras terhadap demonstran.

Setelah bertahun-tahun menghilang dari publik, Saif mengejutkan dunia pada 2021 dengan mengumumkan pencalonannya sebagai presiden dalam pemilu yang kemudian ditunda tanpa batas waktu. Kabar kematiannya kini menandai berakhirnya ambisi politik salah satu tokoh paling polarisasi dalam sejarah modern Libya. (BBc/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya