Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Rusia secara resmi mengutuk keras pembunuhan Seif al-Islam Khadafi, putra mantan pemimpin Libia Muammar Khadafi, yang tewas dalam sebuah serangan di Kota Zintan, Libya barat laut. Moskwa mendesak adanya penyelidikan menyeluruh untuk menyeret para pelaku ke meja hijau.
Seif al-Islam, 53, dilaporkan tewas pada Selasa (3/2), setelah sekelompok pria bersenjata yang tidak dikenal menyerbu kediamannya. Saluran televisi Libia al-Ahrar mengungkapkan putra Khadafi dibunuh di Kota Zintan. Kantor Kejaksaan Agung Libia pada Rabu mengonfirmasi bahwa Seif al-Islam meninggal dunia akibat luka tembak.
"Kami mengutuk keras kejahatan ini. Kami berharap penyelidikan menyeluruh akan dilakukan dan para pelakunya akan diadili," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam pernyataan resminya, Rabu (4/2). "Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan teman-teman almarhum," imbuhnya, seperti dilansir kantor berita negara Rusia, TASS.
Mengancam rekonsiliasi nasional
Kematian tokoh yang sempat digadang-gadang sebagai calon kuat presiden ini dipandang sebagai upaya sabotase terhadap proses perdamaian di Libia. Dewan Kepresidenan Libia, melalui ketuanya Mohamed al-Menfi, menyatakan bahwa pembunuhan ini sengaja dirancang untuk merusak upaya rekonsiliasi nasional.
"Penting bagi kita untuk menggagalkan tujuan di balik pembunuhan ini, yaitu merusak upaya rekonsiliasi nasional demi terselenggaranya pemilu yang bebas dan adil," ujar Al-Menfi. Ia juga menyerukan kepada seluruh kekuatan politik di negara itu untuk menahan diri dan menghindari provokasi publik yang dapat memperkeruh suasana.
Sejak jatuhnya rezim Muammar Khadafi pada 2011 akibat intervensi militer pimpinan NATO, Libia terus terjebak dalam konflik internal. Seif al-Islam sempat muncul kembali di panggung politik pada 2021 dengan mencalonkan diri sebagai presiden.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved