Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Ribuan Dokumen Jeffrey Epstein Ditarik Setelah Identitas Para Korban Bocor ke Publik

Thalatie K Yani
04/2/2026 04:48
Ribuan Dokumen Jeffrey Epstein Ditarik Setelah Identitas Para Korban Bocor ke Publik
Departemen Kehakiman AS (DOJ) menarik ribuan dokumen kasus Jeffrey Epstein setelah identitas para penyintas bocor akibat kesalahan redaksi yang fatal.(US Department of Justice)

DEPARTEMEN Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) terpaksa menarik ribuan dokumen terkait kasus mendiang predator seksual Jeffrey Epstein dari situs resmi mereka. Langkah darurat ini diambil setelah terungkapnya kebocoran identitas para penyintas akibat kesalahan proses sensor (redaksi) yang dianggap fatal.

Pengacara para korban mengungkapkan kegagalan sensor pada dokumen yang dirilis Jumat lalu telah menjungkirbalikkan kehidupan hampir 100 penyintas. Data sensitif mulai dari alamat email hingga foto-foto polos yang masih menampilkan nama dan wajah korban tersebar secara luas.

Pelanggaran Privasi Terburuk dalam Sejarah

Dalam pernyataan resminya, para korban menyebut insiden ini sebagai hal yang memuakkan. Mereka menegaskan bahwa sebagai korban, mereka tidak seharusnya diekspos, diteliti kembali, apalagi mengalami trauma berulang.

Brittany Henderson dan Brad Edwards, dua pengacara yang mewakili korban, bahkan melayangkan surat kepada hakim federal di New York. Mereka menyebut insiden ini sebagai "pelanggaran privasi korban yang paling parah dalam satu hari sepanjang sejarah Amerika Serikat."

Beberapa korban melaporkan dampak nyata dari kebocoran ini. Salah satu penyintas mengaku menerima ancaman pembunuhan setelah rincian rekening bank pribadinya terpublikasi. Sementara itu, Annie Farmer, salah satu korban Epstein, menyampaikan kekecewaannya kepada BBC.

"Sangat sulit untuk fokus pada informasi baru yang terungkap karena betapa besarnya kerusakan yang dilakukan DOJ dengan mengekspos para penyintas seperti ini," ujar Annie Farmer.

Pengakuan Kesalahan dari DOJ

Pihak DOJ mengakui adanya kesalahan tersebut dan mengklaim bahwa insiden ini disebabkan "kesalahan teknis atau manusia." Dalam surat yang diajukan ke hakim federal pada hari Senin, DOJ memastikan dokumen-dokumen yang dipermasalahkan telah diturunkan untuk proses sensor ulang.

"Semua dokumen yang diminta oleh korban atau penasihat hukum untuk dihapus hingga kemarin malam telah ditarik untuk redaksi lebih lanjut," tulis pernyataan DOJ.

Seorang juru bicara DOJ menyatakan pihaknya sangat serius dalam melindungi korban. Mereka mengeklaim telah menyensor ribuan nama dari jutaan halaman yang dipublikasikan. Menurut mereka, informasi yang tidak tersensor hanya mencakup 0,1% dari total halaman yang dirilis.

Tuntutan Transparansi yang Berantakan

Perilisan dokumen ini merupakan mandat dari undang-undang yang disetujui Kongres AS, yang mewajibkan pemerintah mempublikasikan seluruh file terkait Epstein. Sejauh ini, jutaan dokumen telah dibuka ke publik, termasuk 3 juta halaman teks, 180.000 gambar, dan 2.000 video yang dirilis Jumat lalu.

Namun, pengacara hak-hak perempuan Gloria Allred menilai proses tersebut sangat ceroboh. Ia menemukan banyak nama korban yang hanya dicoret dengan garis tipis namun tetap bisa terbaca jelas.

Lisa Phillips, korban lainnya, menegaskan DOJ telah gagal memenuhi tiga persyaratan utama mereka.

"Satu, banyak dokumen masih belum diungkapkan. Dua, tanggal rilis yang ditetapkan sudah lama lewat. Dan tiga, DOJ merilis nama-nama banyak penyintas. Kami merasa mereka sedang mempermainkan kami, tapi kami tidak akan berhenti berjuang," tegas Phillips.

Jeffrey Epstein sendiri ditemukan tewas di sel penjara New York pada 10 Agustus 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur. Kematiannya meninggalkan banyak misteri yang hingga kini terus digali melalui jutaan dokumen yang perlahan dibuka ke publik. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya