Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DEPARTEMEN Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) akhirnya membuka sensor terhadap sejumlah nama penting yang tercantum dalam dokumen penyelidikan Jeffrey Epstein. Langkah ini diambil menyusul tekanan kuat dari anggota parlemen yang telah meninjau versi asli dokumen tersebut tanpa sensor.
Anggota DPR dari Partai Republik, Thomas Massie, mengungkapkan DOJ sebelumnya menutupi identitas beberapa tokoh dalam dokumen FBI tahun 2019. Nama-nama yang kini terungkap mencakup taipan bisnis Les Wexner, asisten lama Epstein Lesley Groff, dan agen model asal Prancis Jean-Luc Brunel. Ketiganya tercantum dalam dokumen tersebut sebagai rekan konspirator Epstein.
Les Wexner, mantan CEO L Brands (induk perusahaan Victoria’s Secret), diketahui pernah mempekerjakan Epstein sebagai pengelola keuangan. Meski namanya muncul, perwakilan hukum Wexner menyatakan pada saat penyelidikan, jaksa menegaskan Wexner bukanlah target maupun rekan konspirator.
"Mr. Wexner bekerja sama sepenuhnya dengan memberikan informasi latar belakang tentang Epstein dan tidak pernah dihubungi lagi," bunyi pernyataan resmi tim hukum Wexner.
Senada dengan itu, pengacara Lesley Groff, Michael Bachner, mengeklaim kliennya tidak pernah diberitahu bahwa ia dianggap sebagai konspirator. Groff sendiri telah memberikan keterangan secara sukarela kepada jaksa dan dinyatakan tidak akan dituntut.
Sementara itu, Jean-Luc Brunel ditemukan tewas di sel penjaranya pada 2022 saat menunggu persidangan atas kasus pemerkosaan anak di bawah umur. Kematiannya dinyatakan sebagai bunuh diri.
Selain tokoh bisnis, sensor juga dibuka pada sebuah email singkat tahun 2009 kiriman Epstein yang berbunyi, "Di mana kamu? Apa kamu baik-baik saja, aku suka video siksaan itu."
Awalnya identitas penerima email tersebut disembunyikan. Namun, Wakil Jaksa Agung Todd Blanche kemudian mengonfirmasi bahwa penerimanya adalah Sultan Bin Sulayem, seorang pengusaha ternama asal Uni Emirat Arab yang menjabat sebagai CEO DP World. Hingga kini, belum jelas apa yang dimaksud dengan "video siksaan" dalam korespondensi tersebut.
Anggota DPR Ro Khanna dan Thomas Massie terus mendesak transparansi penuh. Khanna bahkan menyebutkan enam nama pria di lantai bursa DPR yang menurutnya sengaja dilindungi oleh DOJ dalam dokumen yang disensor ketat.
Di sisi lain, Direktur FBI Kash Patel menyatakan informasi yang dimiliki otoritas saat ini masih terbatas.
"Jika ada informasi kredibel bahwa ia (Epstein) memperdagangkan gadis-gadis kepada orang lain, saya akan membawa kasus itu kemarin juga," ujar Patel dalam dengar pendapat di Kongres.
Kasus ini kembali menyoroti kesepakatan non-prostitusi tahun 2007 yang kontroversial, di mana Epstein berhasil menghindari tuntutan federal dan hanya menjalani hukuman ringan di penjara negara bagian, sebuah keputusan yang hingga kini terus menuai kritik tajam. (CNN/Z-2)
Dokumen FBI terbaru mengungkap pengakuan mantan Kepala Polisi Palm Beach yang mengklaim Donald Trump meneleponnya pada 2006 untuk membongkar perilaku menyimpang Jeffrey Epstein.
Raja Charles III mengambil langkah tegas dengan mengusir Pangeran Andrew dari Royal Lodge menyusul terungkapnya dokumen baru terkait skandal Jeffrey Epstein.
File terbaru kasus Jeffrey Epstein mengungkap email dari Andrew Mountbatten-Windsor berisi laporan rahasia kunjungan resmi dan peluang investasi pemerintah.
Dokumen email terbaru mengungkap peran Andrew Mountbatten-Windsor dalam memperkenalkan Jeffrey Epstein ke keluarga kerajaan Uni Emirat Arab saat kunjungan kenegaraan 2010.
Dr. Peter Attia, pakar panjang umur kenamaan, menghadapi kecaman publik dan pemutusan kontrak setelah dokumen Epstein mengungkap korespondensi vulgar dan pertemanan akrab mereka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved