Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Nabi Ismail AS: Mukjizat Zamzam, Perintah Kurban, hingga Wafat

Wisnu Arto Subari
29/1/2026 21:46
Nabi Ismail AS: Mukjizat Zamzam, Perintah Kurban, hingga Wafat
Ilustrasi.(Freepik)

NABI Ismail AS menempati posisi yang sangat istimewa dalam sejarah peradaban Islam. Beliau bukan hanya sekadar putra dari Khalilullah (Nabi Ibrahim AS), tetapi juga merupakan Bapak Bangsa Arab (Abul Arab) dan kakek moyang dari Nabi Muhammad SAW. Kehidupan Nabi Ismail adalah epik tentang kepatuhan total, kesabaran tanpa batas, dan fondasi dari ritual haji yang dijalankan jutaan umat Islam hingga tahun ini.

Dari tangisannya yang memancarkan air Zamzam hingga lehernya yang ikhlas diserahkan demi perintah Allah, setiap fase kehidupan Nabi Ismail merupakan pelajaran tauhid. Berikut rekam jejak perjalanan hidup Nabi Ismail AS dari kelahirannya hingga wafatnya di Tanah Suci.

Kelahiran yang Dinanti dan Kecemburuan di Kanaan

Nabi Ibrahim AS mencapai usia senja--riwayat menyebutkan 86 tahun--tetapi belum juga dikaruniai keturunan dari istrinya, Sarah. Melihat kerinduan suaminya akan penerus dakwah, Sarah dengan hati yang lapang mengizinkan Ibrahim menikahi budak perempuannya yang berasal dari Mesir, Hajar.

Atas kehendak Allah SWT, Hajar segera mengandung. Kelahiran Ismail membawa sukacita luar biasa bagi Ibrahim. Nama Ismail sendiri berasal dari bahasa Ibrani Yisya-el yang bermakna Allah Mendengar sebagai bukti bahwa Allah mendengar doa-doa panjang Ibrahim.

Namun, fitrah manusiawi muncul. Kelahiran Ismail memicu kecemburuan pada diri Sarah, yang saat itu belum memiliki anak (sebelum akhirnya mengandung Ishaq). Demi menjaga keharmonisan dan memenuhi skenario Ilahi, Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa Hajar dan bayi Ismail keluar dari Palestina.

Hijrah ke Lembah Gersang: Awal Mula Zamzam

Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling dramatis dalam sejarah kenabian. Nabi Ibrahim membawa istri dan bayinya menempuh perjalanan jauh menuju lembah Bakkah (Mekah). Saat itu, Mekah hanyalah gurun tandus tak berpenghuni, tanpa air, dan tanpa tanaman.

Ketika Ibrahim beranjak pergi meninggalkan mereka, Hajar mengejar dan bertanya, "Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang tidak ada kawan dan tidak ada sesuatu apapun ini?" Setelah diulang beberapa kali tanpa jawaban, Hajar bertanya dengan cerdas, "Apakah Allah yang memerintahkan ini kepadamu?"

Ibrahim menjawab singkat, "Ya."

Mendengar itu, Hajar berkata dengan keyakinan penuh, "Jika demikian, Allah tidak akan menelantarkan kami."

Mukjizat Air Zamzam

Sepeninggal Ibrahim, bekal air pun habis. Bayi Ismail mulai menangis kehausan. Naluri keibuan Hajar membuatnya berlari panik antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali mencari bantuan atau sumber air. Peristiwa ini kini diabadikan sebagai rukun Sa'i dalam ibadah haji.

Pertolongan Allah datang bukan dari tempat Hajar berlari, melainkan dari hentakan kaki (atau sayap Malaikat Jibril di dekat kaki) bayi Ismail. Air memancar deras di tengah gurun.

Hajar segera mengumpulkan air itu sambil berkata zamzam (berkumpullah). Sumber air inilah yang mengubah Mekah menjadi pusat peradaban hingga hari ini.

Ujian Terberat: Perintah Penyembelihan (Idul Adha)

Nabi Ismail tumbuh menjadi anak yang santun dan penyabar (halim). Nabi Ibrahim sering mengunjunginya di Mekah. Saat Ismail mencapai usia sa'ya (usia di mana anak sudah bisa berusaha/bekerja), datanglah ujian keimanan tertinggi.

Nabi Ibrahim bermimpi diperintahkan Allah untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Mimpi seorang nabi adalah wahyu. Dengan berat hati tetapi patuh, Ibrahim menyampaikan hal tersebut kepada Ismail.

Jawaban Nabi Ismail diabadikan dalam Al-Qur'an Surah As-Saffat ayat 102:

"Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Saat pisau tajam sudah di leher Ismail, dan keduanya telah berserah diri sepenuhnya, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba besar (gibas) dari surga. Peristiwa ini menjadi syariat kurban (Idul Adha) yang mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus di atas segalanya, bahkan di atas cinta kepada anak dan keluarga.

Membangun Kakbah dan Doa untuk Umat Akhir Zaman

Setelah lulus dari ujian kurban, Allah memberikan perintah mulia lain: meninggikan fondasi Baitullah (Kakbah). Ayah dan anak ini bekerja sama. Nabi Ismail mengangkut batu dan Nabi Ibrahim menyusunnya. Batu tempat pijakan Ibrahim saat membangun dinding yang tinggi kini dikenal sebagai Maqam Ibrahim.

Saat membangun Kakbah, keduanya memanjatkan doa visioner yang dampaknya terasa hingga ribuan tahun kemudian (Surah Al-Baqarah: 129):

"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu..."

Doa ini dikabulkan ribuan tahun kemudian dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW di kota Mekah, yang merupakan keturunan langsung dari Nabi Ismail AS.

Wafat dan Makam Nabi Ismail

Nabi Ismail AS diangkat menjadi Rasul untuk berdakwah kepada kabilah-kabilah Arab (seperti Kabilah Jurhum) yang mulai menetap di Mekah karena adanya air Zamzam. Beliau menikah dengan wanita dari kabilah Jurhum dan menurunkan bangsa Arab Musta'ribah (Arab yang terarabkan).

Menurut para sejarawan Islam seperti Ibnu Katsir, Nabi Ismail AS dikaruniai umur panjang hingga 137 tahun. Beliau wafat di Mekah dan dimakamkan di dekat Kakbah.

Lokasi Makam: Banyak riwayat kuat menyebutkan bahwa makam Nabi Ismail dan ibundanya, Siti Hajar, terletak di dalam Hijr Ismail (area setengah lingkaran di sebelah utara Ka'bah). Oleh karena itu, area Hijr Ismail dianggap sebagai bagian dari Ka'bah, dan orang yang salat di dalamnya mendapatkan pahala seperti salat di dalam Ka'bah.

Fakta Kunci Nabi Ismail AS

Orang Tua Nabi Ibrahim AS & Siti Hajar
Gelar Dzabiihullah (Yang akan disembelih Allah - lalu diganti)
Lokasi Dakwah Mekah (Jazirah Arab)
Peninggalan Abadi Ka'bah, Air Zamzam, Syariat Kurban, Ibadah Sa'i
Keturunan Utama Suku Quraisy -> Nabi Muhammad SAW

Hikmah Kehidupan Nabi Ismail

  1. Bakti Anak kepada Orangtua (Birrul Walidain): Kesediaan Ismail untuk disembelih adalah bentuk kepatuhan tertinggi seorang anak kepada ayahnya yang menjalankan perintah Tuhan.
  2. Kesabaran Membawa Keajaiban: Dari kesabaran di gurun tandus, muncullah Zamzam. Dari kesabaran menghadapi pisau, muncullah penebusan domba surga.
  3. Pentingnya Membangun Peradaban: Nabi Ismail tidak hanya beribadah, tetapi juga membangun infrastruktur spiritual (Ka'bah) dan sosial (hidup berdampingan dengan Kabilah Jurhum) yang menjadi cikal bakal peradaban Islam.

Kisah Nabi Ismail AS mengajarkan kita bahwa di balik setiap kesulitan dan ujian berat yang dihadapi dengan keimanan, Allah SWT selalu menyiapkan rencana yang jauh lebih indah dan mulia.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya