Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Nabi Ishaq AS: Kelahiran Ajaib, Dakwah Palestina, hingga Wafat

Wisnu Arto Subari
29/1/2026 14:05
Nabi Ishaq AS: Kelahiran Ajaib, Dakwah Palestina, hingga Wafat
Ilustrasi.(Freepik)

DALAM sejarah kenabian, kisah Nabi Ishaq AS memegang peranan pivotal sebagai mata rantai yang menghubungkan risalah tauhid Nabi Ibrahim AS dengan generasi nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Lahir dari mukjizat ilahi kepada pasangan yang telah lanjut usia, kehidupan Nabi Ishaq adalah bukti nyata kekuasaan Allah SWT yang melampaui logika manusia.

Sebagai putra kedua Nabi Ibrahim AS setelah Nabi Ismail AS, Nabi Ishaq tumbuh menjadi sosok yang saleh, berilmu tinggi, dan penerus dakwah di wilayah Syam (Palestina). Namanya diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai hamba yang berpengetahuan luas. Berikut ulasan mendalam mengenai perjalanan hidup, dakwah, hingga wafatnya Nabi Ishaq AS yang sarat hikmah.

Kabar Gembira: Mukjizat Kelahiran di Usia Senja

Kisah kelahiran Nabi Ishaq AS bermula dari kedatangan tamu-tamu misterius ke kediaman Nabi Ibrahim AS. Tamu-tamu tersebut sejatinya adalah malaikat yang menyamar menjadi manusia tampan. Kedatangan mereka memiliki dua tujuan utama yaitu memberitakan azab bagi kaum Nabi Luth (kaum Sodom) dan membawa kabar gembira bagi Ibrahim dan istrinya, Sarah.

Saat itu, Sarah yang berdiri di balik tabir tertawa (atau tersenyum heran) ketika mendengar para malaikat menyampaikan bahwa ia akan mengandung. Reaksi ini sangat manusiawi, mengingat Sarah saat itu sudah sangat tua (riwayat menyebutkan usia 90 tahun) dan mandul, sementara Nabi Ibrahim berusia sekitar 100 tahun.

Momen ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Hud ayat 71-73:

"Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub. Dia (istrinya) berkata: 'Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua renta dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.' Para malaikat itu berkata: 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.'"

Nama Ishaq sendiri sering dikaitkan dengan kata Ibrani Yitzhak yang berarti dia tertawa merujuk pada reaksi Sarah saat mendengar kabar tersebut. Kelahiran ini menjadi bukti bahwa hukum alam tunduk sepenuhnya pada Kun Fayakun Allah SWT.

Masa Tumbuh Kembang dan Karakteristik

Nabi Ishaq AS tumbuh di lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai tauhid di bawah bimbingan langsung Khalilullah (Kekasih Allah), Nabi Ibrahim. Berbeda dengan kakaknya, Nabi Ismail, yang dibawa ke lembah gersang Mekah, Nabi Ishaq menetap di wilayah Kan'an (Palestina).

Al-Qur'an menggambarkan Nabi Ishaq sebagai sosok yang memiliki sifat-sifat mulia:

  • Berilmu Tinggi: Allah menyifatinya sebagai ghulam 'alim (anak yang berilmu).
  • Saleh dan Jujur: Beliau dikenal memiliki akhlak yang lurus dan tidak pernah menyekutukan Allah.
  • Penyabar: Mewarisi kesabaran ayahnya dalam menghadapi ujian hidup dan dakwah.

Pernikahan dan Garis Keturunan Bani Israil

Ketika beranjak dewasa, Nabi Ibrahim tidak menginginkan Ishaq menikah dengan wanita Kan'an yang saat itu mayoritas tidak mengenal Allah. Maka, diutuslah pelayan terpercaya ke wilayah Haran (Irak) untuk mencarikan istri dari kerabat Ibrahim. Dari pencarian tersebut, Nabi Ishaq menikah dengan Rifqah binti Betuel (dalam tradisi biblikal dikenal sebagai Ribka/Rebecca).

Seperti ibundanya Sarah, Rifqah juga sempat mengalami kesulitan memiliki keturunan. Namun, berkat doa Nabi Ishaq yang mustajab, Allah menganugerahkan mereka anak kembar saat usia Ishaq mencapai 60 tahun. Kedua anak tersebut adalah:

  1. Al-Aish (Esau): Lahir lebih dulu, tubuhnya kemerahan dan berbulu. Ia menjadi nenek moyang bangsa Edom (Romawi).
  2. Ya'qub (Jacob): Lahir memegang tumit kakaknya. Kelak ia diangkat menjadi Nabi dan bergelar Israil (Hamba Allah). Dari Nabi Yaqub inilah lahir 12 suku Bani Israil, termasuk Nabi Yusuf AS, Musa AS, Daud AS, hingga Isa AS.

Perjalanan Dakwah di Palestina

Setelah Nabi Ibrahim wafat, tongkat estafet dakwah di wilayah Syam diteruskan oleh Nabi Ishaq. Misi utamanya adalah menjaga ajaran Hanif (lurus) dan mengajak penduduk Kan'an serta keturunannya sendiri untuk menyembah Allah semata.

Dakwah Nabi Ishaq tidak diwarnai dengan konflik fisik yang besar seperti Nabi Musa atau Nabi Muhammad, tetapi lebih kepada pembinaan akidah dan moral keluarga serta masyarakat sekitar. Allah memuji dakwah Nabi Ishaq dalam Surah As-Saffat ayat 113:

"Dan Kami beri dia keberkahan pula kepada Ishaq. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri."

Nabi Ishaq dikenal sangat menekankan pentingnya mendirikan salat dan menunaikan zakat kepada umatnya, syariat yang terus berlanjut hingga nabi-nabi setelahnya.

Wafat dan Lokasi Makam

Nabi Ishaq AS dikaruniai umur yang panjang. Para sejarawan Islam menyebutkan beliau wafat pada usia sekitar 180 tahun. Sebelum wafat, beliau memastikan bahwa risalah kenabian akan diteruskan oleh putranya, Ya'qub.

Nabi Ishaq dimakamkan di tempat yang sama dengan ayahnya, Nabi Ibrahim, dan ibunya, Sarah. Lokasi tersebut kini dikenal sebagai Masjid Ibrahimi (Cave of the Patriarchs) di kota Hebron (Al-Khalil), Tepi Barat, Palestina. Hingga tahun ini, tempat tersebut tetap menjadi salah satu situs paling suci dan bersejarah bagi umat Islam, sekaligus menjadi saksi bisu garis keturunan para nabi.

Ringkasan Fakta Nabi Ishaq AS

Ayah/Ibu Nabi Ibrahim AS & Siti Sarah
Saudara Nabi Ismail AS (Saudara tiri seayah)
Istri Rifqah binti Betuel
Anak Al-Aish & Nabi Yaqub AS
Wilayah Dakwah Kan'an (Palestina)
Gelar Bapak Bani Israil (melalui jalur Yaqub)

Hikmah yang Dapat Diambil

Kisah hikmah Nabi Ishaq memberikan pelajaran berharga bagi umat manusia di zaman modern ini:

  1. Harapan yang Tak Pernah Putus: Kelahiran Ishaq mengajarkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Doa yang dipanjatkan puluhan tahun oleh Ibrahim dan Sarah akhirnya dikabulkan di waktu yang paling tepat menurut Allah.
  2. Pentingnya Kaderisasi Keluarga: Nabi Ishaq berhasil mendidik anaknya, Yaqub, menjadi penerus risalah. Ini menunjukkan pentingnya pendidikan agama dalam keluarga sebagai benteng utama.
  3. Perdamaian dan Kesabaran: Sosoknya yang tenang dan damai mengajarkan bahwa dakwah bisa dilakukan dengan kelembutan dan keteladanan akhlak.

Semoga kisah Nabi Ishaq AS ini menjadi inspirasi bagi kita untuk terus memperbaiki diri dan menjaga keimanan kepada Allah SWT.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya