Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Kesabaran Sarah dan Ketegaran Hajar: Pelajaran Parenting Keluarga Ibrahim

Wisnu Arto Subari
26/1/2026 22:43
Kesabaran Sarah dan Ketegaran Hajar: Pelajaran Parenting Keluarga Ibrahim
Ilustrasi.(Freepik)

DALAM bentangan sejarah peradaban manusia, keluarga Nabi Ibrahim AS memegang posisi yang sangat sentral. Beliau bukan hanya dikenal sebagai Bapak Para Nabi (Abul Anbiya), tetapi juga kepala keluarga yang berhasil memimpin dua rumah tangga besar yang kelak melahirkan dua bangsa besar dan agama-agama samawi. Namun, di balik sosok Ibrahim yang agung, terdapat dua pilar kekuatan yang sering kali hanya dibahas dari sisi emosional semata: Sarah dan Hajar.

Kini saat isu ketahanan keluarga dan pola asuh (parenting) menjadi tantangan global yang kompleks, kisah Sarah dan Hajar menawarkan lebih dari sekadar drama sejarah. Kisah mereka menjadi cetak biru tentang manajemen emosi, pembagian peran, dan visi jangka panjang dalam mendidik generasi penerus. Artikel ini akan mengajak Anda menyelami kedalaman karakter kedua ibunda ini dan bagaimana mereka membentuk karakter Ismail dan Ishaq.

Intisari Pembahasan:

  • Profil psikologis Sarah: Kesetiaan dan ujian penantian panjang.
  • Profil psikologis Hajar: Ketangguhan single-parent di tanah gersang.
  • Dinamika manusiawi: Mengelola kecemburuan menjadi energi positif.
  • Metode didik (Parenting) yang melahirkan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.
  • Relevansi nilai keluarga Ibrahim di era modern.

Sarah: Arsitek Kesabaran dan Kemuliaan Nasab

Siti Sarah adalah cinta pertama Nabi Ibrahim. Beliau dikenal sebagai wanita yang memiliki kecantikan luar biasa dan kecerdasan tinggi. Namun, ujian terbesar Sarah bukanlah kemiskinan atau ancaman fisik, melainkan ujian 'waktu' dan 'harapan'. Puluhan tahun menikah, Sarah tidak kunjung dikaruniai keturunan.

Dalam perspektif psikologi modern, tekanan sosial bagi seorang istri yang belum memiliki anak sangatlah berat. Namun, Sarah menunjukkan kelasnya sebagai wanita beriman. Ia tetap setia mendampingi Ibrahim berdakwah dari satu negeri ke negeri lain, menghadapi raja-raja tiran, tanpa sedikit pun mengurangi rasa hormatnya kepada sang suami.

Puncak dari kebesaran hati Sarah yaitu ketika ia sendiri yang menawarkan Hajar, budak hadiah dari Raja Mesir, untuk dinikahi oleh Ibrahim agar suaminya memiliki keturunan. Ini keputusan rasional yang menekan ego pribadi demi tujuan yang lebih besar (legacy). Buah dari kesabaran puluhan tahun ini akhirnya dibayar lunas oleh Allah dengan kelahiran Ishaq di masa tua Sarah yang kelak menurunkan Nabi Yaqub, Yusuf, Musa, hingga Isa AS.

Hajar: Simbol Ketegaran dan Tawakkul Total

Jika Sarah adalah simbol kesabaran dalam kemapanan, Hajar adalah simbol ketegaran dalam keterasingan. Hajar, yang awalnya seorang putri bangsawan Mesir yang kemudian menjadi pelayan, memiliki mental baja. Ujian Hajar dimulai justru setelah ia melahirkan Ismail.

Atas perintah Allah, Nabi Ibrahim harus membawa Hajar dan bayi Ismail ke lembah Bakkah (Mekah) yang tandus, tidak berpenghuni, dan tidak ada air. Momen ketika Ibrahim beranjak pergi dan Hajar bertanya, "Apakah ini perintah Allah?" adalah momen paling ikonik dalam sejarah kepasrahan manusia.

Ketika Ibrahim mengiyakan, Hajar menjawab dengan tegas, "Jika demikian, Allah tidak akan menelantarkan kami." Hajar tidak pasif menunggu takdir.

Ia berlari (Sa'i) dari bukit Safa ke Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari air. Ini mengajarkan prinsip parenting yang krusial: Ikhtiar maksimal adalah bentuk tertinggi dari doa. Hajar mendidik Ismail menjadi anak yang tangguh, mandiri, dan sangat menghormati ayahnya meski jarang bertemu.

Dinamika Manusiawi: Mengelola Emosi dalam Rumah Tangga

Al-Qur'an dan riwayat sejarah tidak menutupi fakta bahwa ada gesekan manusiawi (ghirah atau cemburu) antara Sarah dan Hajar. Ini justru membuat kisah mereka sangat relevan dan membumi. Keluarga Nabi bukanlah keluarga malaikat tanpa emosi, tetapi manusia biasa yang berjuang mengelola perasaannya di bawah koridor syariat.

Nabi Ibrahim berperan sebagai penengah yang adil. Beliau tidak memarahi Sarah atas kecemburuannya dan tidak menelantarkan Hajar. Solusi pemisahan tempat tinggal (Syam untuk Sarah, Mekah untuk Hajar) adalah strategi manajemen konflik (conflict resolution) yang dipandu wahyu untuk menjaga keharmonisan jangka panjang dan menyebarkan dakwah ke dua wilayah strategis.

Aspek Parenting Gaya Asuh Sarah (Jalur Ishaq) Gaya Asuh Hajar (Jalur Ismail)
Lingkungan Tumbuh Palestina (Syam) yang subur dan berperadaban mapan. Mekah yang gersang, keras, dan menuntut survival skill.
Fokus Pendidikan Hikmah, kenabian, dan kepemimpinan intelektual. Ketahanan fisik, kemandirian, dan ketaatan total (pengorbanan).
Output Karakter Nabi Ishaq: Tenang, bijaksana, penerus dakwah di bani Israil. Nabi Ismail: Tangguh, pembangun peradaban (Ka'bah), leluhur Nabi Muhammad SAW.

Pelajaran Parenting: Mencetak Generasi Rabbani

Keberhasilan Ibrahim, Sarah, dan Hajar bukan diukur dari kekayaan materi, melainkan dari keberhasilan mencetak anak yang saleh. Ketika Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, jawaban Ismail adalah, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu." (QS As-Saffat: 102).

Jawaban ini mustahil keluar dari mulut seorang anak jika ibunya (Hajar) tidak mendidiknya dengan rasa cinta dan hormat yang tinggi kepada Allah dan ayahnya. Hajar tidak pernah meracuni pikiran Ismail dengan kebencian karena 'dibuang' ayahnya.

Sebaliknya, ia menanamkan bahwa ayahnya ialah utusan Allah yang harus ditaati. Inilah puncak keberhasilan parenting: menanamkan nilai (value) yang melampaui kehadiran fisik orangtua.

Pertanyaan Seputar Istri Nabi Ibrahim

Siapakah istri pertama Nabi Ibrahim?

Istri pertama Nabi Ibrahim adalah Sarah. Beliau adalah wanita terhormat dari keluarga nabi yang menemani perjuangan Ibrahim sejak awal di Babilonia hingga hijrah ke Palestina dan Mesir.

Apakah Hajar adalah seorang budak?

Hajar awalnya seorang putri bangsawan di Mesir. Namun karena situasi politik, ia menjadi pelayan di istana Firaun.

Kemudian, Raja Mesir menghadiahkan Hajar kepada Sarah sebagai bentuk penghormatan. Sarah kemudian memerdekakan Hajar dan menikahkannya dengan Ibrahim.

Mengapa Siti Hajar ditinggal di Mekah?

Peristiwa ini bukan karena keinginan pribadi Ibrahim atau kemarahan Sarah semata, melainkan skenario Allah (wahyu) untuk membangun pusat peradaban baru di sekitar Kakbah yang kelak menjadi kiblat umat Islam sedunia.

Checklist: Implementasi Parenting Ala Keluarga Ibrahim

Bagaimana orangtua modern bisa meniru jejak mereka?

  • Visi Jelas: Tentukan visi keluarga bukan hanya untuk sukses dunia, tetapi keselamatan akhirat.
  • Kerjasama Tim: Suami dan istri adalah tim. Tutupi kekurangan pasangan dengan kelebihan diri, seperti Sarah yang melengkapi Ibrahim.
  • Positive Vibes: Jangan menjelekkan pasangan di depan anak, seperti Hajar yang menjaga citra Ibrahim di mata Ismail.
  • Kemandirian: Ajarkan anak survival skill dan tanggung jawab sejak dini, jangan terlalu dimanja fasilitas.
  • Doa Tanpa Putus: Amalkan doa Nabi Ibrahim, "Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a'yun" (Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati).

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya