Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Iran Mendadak Sunyi Senyap usai Pembunuhan Massal

Khoerun Nadif Rahmat
17/1/2026 12:00
Iran Mendadak Sunyi Senyap usai Pembunuhan Massal
Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) berjalan keluar terminal setibanya dari Iran di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Selasa (24/6/2025). Pemerintah Indonesia lewat Kementerian Luar Negeri pada gelombang pertama berhasil memulangkan 11 orang WNI dari wi(Antara)

TINDAKAN keras mematikan dari otoritas keamanan Iran tampaknya telah meredam gelombang protes untuk saat ini. 

Di tengah laporan media pemerintah mengenai penangkapan massal lanjutan pada Jumat (16/1) waktu setempat, situasi di berbagai kota dilaporkan sunyi di bawah bayang-bayang ancaman intervensi Amerika Serikat.

Kekhawatiran akan serangan AS mulai menyurut sejak Rabu (14/1), setelah Presiden Donald Trump menyatakan adanya laporan bahwa pembunuhan di Iran mulai mereda. 

Langkah itu menyusul diplomasi intensif yang dilakukan sekutu AS, termasuk Arab Saudi dan Qatar, guna mencegah serangan militer Washington yang dikhawatirkan berdampak buruk bagi kawasan.  

Kendati demikian, Gedung Putih menegaskan bahwa presiden Donald Trump tetap memperingatkan Teheran akan adanya konsekuensi serius jika pertumpahan darah kembali berlanjut. 

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menambahkan bahwa Presiden memahami ada sekitar 800 rencana eksekusi mati yang telah dihentikan.

"Semua opsinya tetap di atas meja," ujar Leavitt dikutip dari Al Arabiya.

Aksi protes ini pertama kali pecah pada 28 Desember dipicu lonjakan inflasi dan ekonomi yang lumpuh akibat sanksi. Namun, gerakan tersebut dengan cepat berubah menjadi tantangan besar bagi kemapanan rezim ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.

Meski aliran informasi terhambat akibat pemutusan akses internet, sejumlah warga di Teheran menyebut ibu kota telah sunyi sejak Minggu (11/1). Drone dilaporkan terbang mengitari kota di mana tidak ada lagi tanda-tanda protes besar pada Kamis (15/1) maupun Jumat (16/1).

Kelompok hak asasi manusia Hengaw mengonfirmasi hilangnya kerumunan massa protes, namun menekankan bahwa situasi keamanan masih sangat restriktif.

"Sumber independen kami mengonfirmasi kehadiran militer dan keamanan yang besar di kota-kota di mana protes sebelumnya terjadi, serta di beberapa lokasi yang tidak mengalami demonstrasi besar," lapor Hengaw. 

Meski demikian, riak kerusuhan sporadis masih terjadi. Hengaw melaporkan seorang perawat wanita tewas akibat tembakan langsung pasukan pemerintah di Karaj. Sementara itu, media Tasnim melaporkan adanya pembakaran kantor dinas pendidikan di wilayah Falavarjan oleh perusuh pada Kamis.

Seorang warga lansia di wilayah barat laut Iran menggambarkan kengerian kekerasan yang terjadi pada awal fase protes.

"Saya tidak pernah melihat pemandangan seperti itu sebelumnya," sebut laporan Hengaw.

Data dari lembaga hak asasi manusia HRANA mencatat jumlah korban tewas kini telah mencapai 2.677 orang, yang mencakup 2.478 demonstran dan 163 orang dari pihak pemerintah. Angka kematian ini jauh melampaui jumlah korban pada periode kerusuhan-kerusuhan sebelumnya di Iran.

Pihak kepolisian Iran melalui saluran Press TV mengeklaim bahwa ketenangan kini telah pulih di seluruh negeri. Namun, keberadaan aparat bersenjata lengkap di titik-titik strategis menunjukkan bahwa kesunyian yang terjadi saat ini berada di bawah kendali keamanan yang sangat ketat. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya