Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Jadi Target Utama Israel

Khoerun Nadif Rahmat
28/2/2026 18:57
Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Jadi Target Utama Israel
Serangan Israel dibantu AS ke Iran, Sabtu (28/2/2026).(Antara/X)

OPERASI militer yang menyasar lokasi sipil dan infrastruktur vital di Teheran diduga kuat menempatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai target utama. Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik nadir yang sangat membahayakan setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran, Sabtu (28/2).

Operasi militer tersebut memicu serangan balasan kilat dari Teheran yang menyasar pangkalan-pangkalan AS serta sejumlah negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Ketegangan itu menyeret kawasan ke ambang perang terbuka yang lebih luas, memaksa Uni Eropa mulai mengevakuasi personel non-esensial mereka dari wilayah tersebut.

Dikutip dari Kan, serangan udara tersebut secara spesifik menyasar tokoh-tokoh kunci di lingkaran kekuasaan tertinggi Iran.

"Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian termasuk di antara target serangan tersebut," tulis Kan dikutip dari AFP.

Selain kedua tokoh tersebut, nama penasihat pemimpin tertinggi sekaligus mantan Menteri Pertahanan, Ali Shamkhani, juga disebut masuk dalam daftar target, meski efektivitas serangan terhadap para pejabat tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya.

Seorang sumber keamanan Israel yang berbicara dengan syarat anonim menegaskan bahwa operasi ini bertujuan untuk melumpuhkan otak di balik ancaman terhadap kedaulatan mereka.

"Dalam serangan pembuka kami, kami mengincar target-target profil tinggi, orang-orang yang terlibat dalam rencana untuk menghancurkan Israel," tegas sumber tersebut. 

Dampak dari serangan ini langsung memicu rentetan ledakan di ibu kota Teheran, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan meluncurkan barisan rudal balistik ke arah Israel dan negara-negara tetangga yang menampung pangkalan militer AS.

Situasi semakin rumit setelah kelompok pro-Iran di Irak, Kataeb Hizbullah, mengancam akan melakukan serangan balasan dalam waktu dekat menyusul serangan udara yang menghantam pangkalan militer Jurf al-Sakher yang menewaskan dua pejuang mereka.

"Kami akan segera mulai menyerang pangkalan-pangkalan Amerika sebagai tanggapan atas agresi mereka," ungkap kelompok tersebut dalam pernyataan resminya.

Sementara itu, Qatar secara terang-terangan mengutuk keras serangan rudal Iran yang jatuh di wilayah mereka setelah beberapa ledakan terdengar di Doha. Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan "kecaman kerasnya atas penargetan wilayah Qatar oleh rudal balistik Iran. Hal ini dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasionalnya," seraya menambahkan bahwa mereka "mempertahankan hak penuh untuk menanggapi serangan ini".

Kecaman serupa datang dari Arab Saudi yang mengutuk agresi Iran terhadap negara-negara tetangga seperti UEA, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania, meskipun Riyadh tidak secara eksplisit menyebutkan ledakan yang juga terdengar di ibu kota mereka sendiri.

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Uni Eropa (UE) menyerukan semua pihak untuk menahan diri secara maksimal. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan keprihatinan mendalam atas perkembangan ini, terutama terkait risiko terhadap keamanan nuklir dan stabilitas global.

"Memastikan keamanan nuklir dan mencegah tindakan apa pun yang dapat memperburuk ketegangan atau merusak rezim non-proliferasi global adalah hal yang sangat penting. Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri secara maksimal, melindungi warga sipil, dan sepenuhnya menghormati hukum internasional," ujar Von der Leyen.

Senada dengan itu, diplomat tinggi UE, Kallas, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah memfasilitasi keberangkatan warga negara UE dan menarik staf non-esensial dari kawasan konflik. Kallas menegaskan bahwa program rudal balistik dan nuklir Iran, serta dukungan terhadap kelompok teror, merupakan ancaman serius bagi keamanan global.

"Perkembangan terbaru di Timur Tengah sangat berbahaya. Rezim Iran telah membunuh ribuan orang," tulisnya di media sosial. (Ndf/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya