Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Rusia dan Tiongkok Mungkin tidak Dukung Iran jika AS Menyerang

Wisnu Arto Subari
15/1/2026 22:57
Rusia dan Tiongkok Mungkin tidak Dukung Iran jika AS Menyerang
Warga Iran.(Al Jazeera)

RUSIA dan Tiongkok siap mendukung Iran yang dilanda protes dan diancam oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Namun, dukungan itu akan berkurang jika AS melakukan aksi militer. Ini kata para ahli kepada AFP, Kamis (15/1).

Iran adalah sekutu penting bagi kedua kekuatan nuklir tersebut, menyediakan drone untuk Rusia dan minyak untuk Tiongkok. 

Namun, para analis mengatakan kepada AFP bahwa kedua negara adidaya itu hanya akan menawarkan bantuan diplomatik dan ekonomi kepada Teheran untuk menghindari konfrontasi dengan Washington.

"Tiongkok dan Rusia tidak ingin berhadapan langsung dengan AS terkait Iran," kata Ellie Geranmayeh, seorang pakar kebijakan senior untuk lembaga think tank Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri.

Teheran, meskipun melakukan upaya terbaik selama beberapa dekade, gagal membangun aliansi formal dengan Moskow dan Beijing.

Jika Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Iran, "baik Tiongkok maupun Rusia akan memprioritaskan hubungan bilateral mereka dengan Washington," kata Geranmayeh.

Pendapatnya, Tiongkok harus menjaga hubungan yang halus dengan pemerintahan Trump. Rusia ingin Amerika Serikat tetap terlibat dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina.

"Mereka berdua memiliki prioritas yang jauh lebih tinggi daripada Iran." 

Ukraina sebelum Iran

Terlepas dari hubungan dekat mereka, "Perjanjian Rusia-Iran tidak termasuk dukungan militer," hanya bantuan politik, diplomatik, dan ekonomi, kata analis Rusia Sergei Markov kepada AFP.

Alexander Gabuev, direktur Carnegie Russia Eurasia Center, mengatakan Moskow akan melakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk menjaga rezim tetap bertahan. Namun, "Pilihan Rusia sangat terbatas," tambahnya.

Menurutnya, dihadapi dengan krisis ekonominya sendiri, "Rusia tidak dapat menjadi pasar raksasa untuk produk Iran," atau memberikan pinjaman besar. 

Nikita Smagin, seorang spesialis hubungan Rusia-Iran, mengatakan bahwa jika terjadi serangan AS, Rusia hampir tidak dapat berbuat apa-apa. "Mereka tidak ingin mengambil risiko konfrontasi militer dengan kekuatan besar lain seperti AS, tetapi pada saat yang sama, mereka siap mengirimkan persenjataan ke Iran," katanya.

"Menggunakan Iran sebagai aset tawar-menawar adalah hal yang biasa bagi Rusia," kata Smagin tentang strategi jangka panjang tersebut. Pada saat sama, Moskow juga bernegosiasi dengan Washington mengenai Ukraina.

Markov setuju. "Krisis Ukraina jauh lebih penting bagi Rusia daripada krisis Iran," ujarnya. 

Tiongkok hati-hati

Tiongkok juga siap membantu Teheran secara ekonomi, teknologi, militer, dan politik saat menghadapi tindakan AS yang bukan militer seperti tekanan perdagangan dan serangan siber. Ini kata Hua Po, seorang pengamat politik independen yang berbasis di Beijing, kepada AFP.

Jika Amerika Serikat melancarkan serangan, Tiongkok, "Akan memperkuat hubungan ekonominya dengan Iran dan membantunya melakukan militerisasi untuk berkontribusi dalam menjebak Amerika Serikat dalam perang di Timur Tengah," tambahnya.

Hingga saat ini, "Tiongkok bersikap hati-hati dan mengekspresikan diri dengan menahan diri, mempertimbangkan taruhan minyak dan stabilitas regional," kata peneliti hubungan Iran-China, Theo Nencini dari Sciences Po Grenoble.

"Tiongkok diuntungkan dari melemahnya Iran yang memungkinkannya untuk mengamankan minyak berbiaya rendah dan memperoleh mitra geopolitik yang cukup besar," katanya.

Namun, ia menambahkan, "Saya sulit membayangkan mereka terlibat dalam konfrontasi dengan Amerika atas Iran." Beijing kemungkinan akan mengeluarkan kecaman, tetapi tidak akan membalas.

Hua mengatakan krisis Iran kemungkinan tidak akan berdampak pada hubungan Tiongkok-AS secara keseluruhan.

"Masalah Iran bukanlah inti dari hubungan antara kedua negara," ujarnya. "Tidak satu pun dari mereka akan memutuskan hubungan satu sama lain karena Iran." (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya