Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Serangan AS ke Venezuela Dinilai Berdampak Luas pada Geopolitik dan Energi Global

Media Indonesia
05/1/2026 22:35
Serangan AS ke Venezuela Dinilai Berdampak Luas pada Geopolitik dan Energi Global
Presiden Venezuela Nicolas Maduro( MARCELO GARCIA / Venezuelan Presidency / AFP)

PAKAR Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad), Teuku Rezasyah menilai serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela berpotensi mengubah peta kekuatan geopolitik dan geoekonomi global, khususnya di kawasan Amerika Latin. 

Menurutnya, langkah militer tersebut akan memunculkan persepsi negatif terhadap AS di mata negara-negara kawasan.

"Secara geopolitik, di kawasan Amerika Latin, Amerika Serikat akan dicermati sebagai adikuasa pembawa petaka," kata Teuku Rezasyah dihubungi Media Indonesia, Senin (5/1).

Dia menambahkan, negara-negara di Amerika Latin kemungkinan akan membatasi kerja sama ekonomi dengan Washington sebagai bentuk respons politik.

Rezasyah menyebut bahwa serangan tersebut berpotensi mendorong konsolidasi regional di Amerika Latin untuk mengambil jarak dari pengaruh AS. Negara-negara di kawasan itu, menurutnya, akan berupaya menyamakan persepsi dalam berhubungan dengan Washington.

"Negara di Amerika Latin akan membangun konsolidasi, guna menyamakan persepsi mereka dalam berurusan dengan AS," ujarnya. 

Dia juga memperkirakan akan terjadi perubahan dalam sistem perdagangan regional. 

"Secara bertahap, mereka akan mengurangi penggunaan US Dollar dalam perdagangan," lanjutnya.

Dampak konflik tersebut juga diprediksi akan terasa kuat pada stabilitas pasar energi global, terutama sektor minyak. Rezasyah menyebut pasar minyak dunia berpotensi mengalami gejolak signifikan.

"Pasar minyak dunia akan bergolak. Karena Tiongkok akan mencari sumber minyak yang baru, di luar Venezuela dan Kanada," jelasnya. 

Selain itu, ia memperkirakan sejumlah negara produsen minyak akan melakukan pembatasan ekspor. 

"Diperkirakan Iran akan membatasi ekspor minyak," katanya.

Rezasyah juga menyoroti krisis di kawasan lain yang dapat memperparah kondisi pasar energi global. 

"Sementara krisis Sudan yang melibatkan Arab Saudi dan Uni Arab Emirat berpotensi membatasi penjualan minyak dunia," ujarnya.

Terkait potensi gangguan terhadap rantai pasok energi global, Rezasyah menilai konflik ini dapat memperparah ketidakstabilan pasokan, mengingat posisi Venezuela sebagai salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.

"Rantai pasok energi dunia akan terganggu akibat keengganan banyak negara menggenjot produksi minyak mereka," kata Rezasyah.

Ia juga memprediksi adanya perubahan sikap dari negara-negara pengimpor energi dalam menyikapi meningkatnya risiko geopolitik di Amerika Latin. Menurutnya, situasi ini dapat menjadi momentum percepatan transisi energi.

"Negara-negara pengimpor energi akan semakin sadar akan perlunya berkolaborasi bagi penggunaan energi terbarukan," ujarnya.

Rezasyah turut mengingatkan skenario terburuk yang perlu diantisipasi oleh dunia internasional apabila konflik antara AS dan Venezuela terus meningkat. Salah satu dampak ekstrem yang mungkin terjadi adalah pergeseran kebijakan energi sejumlah negara ke arah energi nuklir.

"Jika konflik terus meningkat, akan banyak negara berpaling ke energi nuklir," tegasnya. Ia menilai energi nuklir dipandang lebih menguntungkan dalam jangka panjang. 

"Karena selain murah untuk jangka panjang, negara pemilik nuklir akan merasa diri mereka lebih aman dari serangan Amerika Serikat," pungkasnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya