Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

AS Sebut Presiden Venezuela Nicolas Maduro Harus 'Pergi'

Thalatie K Yani
23/12/2025 06:31
AS Sebut Presiden Venezuela Nicolas Maduro Harus 'Pergi'
Sekretaris Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, menegaskan Nicolas Maduro harus mundur. AS terus tekan Venezuela lewat blokade minyak dan operasi militer.(Media Sosial X)

PEMERINTAHAN Amerika Serikat secara terbuka menyatakan keinginan mereka agar Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, segera melepaskan kekuasaannya. Pernyataan ini menjadi salah satu indikasi terkuat sejauh ini Washington secara aktif mendorong perubahan kepemimpinan di Caracas melalui serangkaian tekanan militer dan ekonomi.

Sekretaris Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, menegaskan posisi Washington dalam sebuah wawancara dengan Fox News. Merujuk pada operasi pencegatan kapal-kapal pengangkut minyak, Noem memberikan pesan keras kepada dunia internasional.

"Kami tidak hanya mencegah kapal-kapal ini, tetapi kami juga mengirimkan pesan ke seluruh dunia bahwa aktivitas ilegal yang dilakukan Maduro tidak dapat dibiarkan, dia harus pergi," tegas Noem.

Blokade Minyak dan Tekanan Militer

Langkah tegas ini menyusul pengumuman Presiden Donald Trump awal bulan ini mengenai blokade terhadap kapal-kapal minyak yang terkena sanksi saat berlayar menuju atau dari Venezuela. Hingga saat ini, militer Amerika Serikat telah menyita dua unit kapal dan tengah mengejar kapal ketiga.

Washington tidak hanya menggunakan kekuatan laut, tetapi juga menyematkan tuduhan berat terhadap Maduro. Ia dituding memimpin organisasi "narco-teroris" yang dijuluki Cartel of the Suns (Kartel Matahari). Bahkan, pemerintah AS menawarkan hadiah sebesar US$50 juta (sekitar Rp780 miliar) bagi siapa saja yang memberikan informasi hingga penangkapan Maduro.

Untuk memperkuat tekanan, Amerika Serikat telah mengerahkan armada kapal perang besar di Karibia, termasuk kapal induk terbesar di dunia. Pesawat militer AS pun dilaporkan berulang kali terbang di sepanjang pesisir pantai Venezuela dalam beberapa pekan terakhir.

Operasi Kontroversial di Perairan Internasional

Selain blokade minyak, pasukan AS telah melakukan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang diduga melakukan penyelundupan narkoba di Karibia dan Pasifik Timur. Operasi ini mengakibatkan kehancuran hampir 30 kapal dan merenggut sedikitnya 104 nyawa.

Meskipun administrasi Trump bersikeras bahwa target utama serangan adalah pemberantasan perdagangan narkoba, Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles, memberikan pernyataan yang berbeda kepada majalah Vanity Fair. Wiles menyebut serangan tersebut memang sengaja dilakukan untuk menekan Venezuela.

Menurut Wiles, Presiden AS "ingin terus meledakkan kapal-kapal itu sampai Maduro menyerah."

Di sisi lain, operasi militer ini mulai menuai kritik internasional. Pemerintah AS dianggap belum memberikan bukti konklusif bahwa kapal-kapal yang menjadi sasaran benar-benar membawa narkotika. Sejumlah pakar hukum internasional pun memperingatkan bahwa serangan mematikan tersebut kemungkinan besar melanggar hukum internasional. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya