Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Konflik Sudan Meningkat, PBB Tarik Penjaga Perdamaian

Ferdian Ananda Majni
19/12/2025 14:32
Konflik Sudan Meningkat, PBB Tarik Penjaga Perdamaian
Logo PBB.(AFP/MICHAEL M SANTIAGO)

PASUKAN Sementara PBB untuk Abyei (UNISFA) pada Kamis (18/12) mengumumkan penarikan dan evakuasi pangkalan logistiknya di Kadugli, negara bagian Kordofan Selatan, Sudan menyusul serangan mematikan yang menargetkan personel penjaga perdamaian.

Dalam pernyataannya, UNISFA menyebut keputusan menarik pasukan diambil setelah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi keamanan di wilayah tersebut. Penilaian itu menyimpulkan bahwa situasi yang ada telah menghambat kemampuan PBB untuk menjalankan operasionalnya di Kadugli.

"Keputusan ini diambil setelah penilaian ekstensif terhadap situasi keamanan yang berlaku di Kadugli, yang telah melumpuhkan kemampuan PBB untuk berfungsi di daerah tersebut,” kata UNISFA dikutip Anadolu, Jumat (19/12).

Misi PBB tersebut menambahkan bahwa aktivitas di Kadugli dapat kembali dipertimbangkan apabila kondisi keamanan memungkinkan. 

"Kami akan mempertimbangkan lagi dimulainya kembali aktivitas kami di Kadugli ketika situasi memungkinkan," lanjut pernyataan itu.

UNISFA juga menegaskan komitmennya untuk tetap melaksanakan mandat PBB di kawasan tersebut dan menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan secara saksama.

Keputusan evakuasi ini diambil setelah insiden berdarah pada 13 Desember, ketika enam penjaga perdamaian asal Bangladesh tewas dan delapan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan pesawat nirawak. Serangan tersebut dilaporkan dilakukan oleh Pasukan Pendukung Cepat (Rapid Support Forces/RSF) terhadap markas misi PBB di Kadugli.

UNISFA pertama kali dikerahkan pada 2011, menyusul meningkatnya ketegangan di wilayah Abyei yang kaya minyak, kawasan sengketa antara Sudan dan negara tetangganya, Sudan Selatan.

Menurut sejumlah organisasi hak asasi manusia, wilayah Kadugli telah dikepung oleh RSF bersama sekutunya, Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan-Utara (SPLM-N), sejak bulan-bulan awal konflik. Daerah tersebut juga dilaporkan berulang kali menjadi sasaran serangan artileri dan pesawat tak berawak.

Konflik bersenjata antara militer Sudan dan RSF yang meletus sejak April 2023 telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi, memperburuk krisis kemanusiaan di negara tersebut. (Anadolu/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya