Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

PM Australia: Serangan Teror di Festival Yahudi Pantai Bondi Dipicu Ideologi Islamic State

Thalatie K Yani
16/12/2025 07:28
PM Australia: Serangan Teror di Festival Yahudi Pantai Bondi Dipicu Ideologi Islamic State
Perdana Menteri Anthony Albanese mengonfirmasi penembakan massal yang menewaskan 15 orang di perayaan Hanukkah Bondi dipicu oleh ideologi 'Islamic State'. (AFP)

PERDANA Menteri Australia Anthony Albanese mengungkapkan petunjuk awal mengenai motif mendalam di balik serangan teror yang menargetkan festival Yahudi di Pantai Bondi, Sydney, akhir pekan lalu. Albanese menyebutkan ayah dan anak yang menjadi pelaku penembakan massal tersebut tampaknya didorong "ideologi Islamic State."

"Tampaknya ini dimotivasi oleh ideologi Islamic State," ujar Albanese, memberikan keterangan pers mengenai perkembangan penyelidikan.

Serangan yang terjadi pada Minggu malam tersebut menargetkan perayaan Hanukkah di pantai  Bondi dan menewaskan 15 orang. Otoritas Australia telah segera menetapkan insiden tragis ini sebagai tindakan terorisme antisemit, namun rincian mengenai radikalisasi pelaku baru diungkapkan oleh Perdana Menteri.

Albanese menegaskan ideologi tersebut telah ada selama lebih dari satu dekade. Ideologi itu telah mengarah pada kebencian, serta dalam kasus ini, "kesiapan untuk terlibat dalam pembunuhan massal."

Pelaku Sempat Menarik Perhatian Intelijen

Pelaku yang diidentifikasi sebagai Sajid Akram, 50, dan putranya, Naveed Akram, 24, melancarkan serangan brutal selama 10 menit menggunakan senjata laras panjang, menembaki kerumunan di pantai. Sajid Akram tewas di tempat setelah ditembak oleh aparat kepolisian.

Sementara itu, putranya, Naveed, ditangkap dan saat ini berada dalam kondisi koma di rumah sakit dengan luka serius, di bawah penjagaan ketat polisi.

Albanese juga mengungkapkan Naveed Akram sebelumnya pernah menarik perhatian badan intelijen Australia tahun 2019. Pada saat itu, ia tidak dianggap sebagai ancaman yang mendesak. "Ia menarik perhatian mereka karena keterkaitannya dengan orang lain," jelas Albanese.

"Dua dari orang yang berasosiasi dengannya didakwa dan dipenjara, tetapi ia tidak dipandang sebagai orang yang menjadi perhatian saat itu."

Penyelidikan mendalam terus dilakukan oleh pihak berwenang untuk menguraikan sejauh mana keterlibatan keduanya dengan jaringan terorisme dan bagaimana proses radikalisasi ideologi kebencian tersebut terjadi, yang berujung pada tindakan pembunuhan massal di salah satu lokasi paling terkenal di Australia. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik