Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Ngadu ke OPEC+, Maduro: AS Ganggu Minyak Venezuela

Dhika Kusuma Winata
01/12/2025 15:31
Ngadu ke OPEC+, Maduro: AS Ganggu Minyak Venezuela
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump meninggalkan Gedung Putih di Washington, D.C. Selasa (25/11/2025) waktu setempat.(Xinhua/Hu Yousong)

VENEZUELA meminta dukungan negara-negara OPEC+. Presiden Nicolas Maduro menuduh Amerika Serikat melakukan agresi langsung yang bertujuan melemahkan produksi minyaknya dan mengguncang stabilitas pasar energi global.

Permintaan bantuan itu disampaikan Presiden Maduro melalui surat kepada Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, serta seluruh negara anggota. Surat tersebut dipublikasikan Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, di Telegram pada Minggu waktu setempat.

Dalam surat itu, seperti dilaporkan Euronews, Caracas menegaskan meningkatnya operasi militer AS di kawasan Karibia merupakan pelanggaran hukum internasional sekaligus ancaman nyata terhadap stabilitas energi dunia.

Pemerintah Maduro menilai langkah Washington bertujuan mendestabilisasi negara itu dan mengganggu kapasitas ekspornya. Venezuela meminta agar OPEC+ menunjukkan solidaritas karena jika terjadi eskalasi dianggap dapat membahayakan produksi minyak Venezuela dan kestabilan pasar global.

Surat tersebut dikirim bertepatan dengan Konferensi Tingkat Menteri OPEC+ di tengah serangan udara AS terhadap kapal-kapal di Karibia dan pengerahan militer besar-besaran hanya beberapa kilometer dari pesisir Venezuela.

Permintaan dukungan itu muncul setelah pemerintah AS menginstruksikan penutupan wilayah udara Venezuela dan sekitarnya. Hal itu memaksa maskapai internasional menghentikan penerbangan, membatalkan rute, dan membuat ribuan penumpang terlantar.

Caracas menanggapi dengan mengaktifkan rencana darurat untuk memulangkan warga negara yang terjebak di luar negeri sembari menuding Washington menciptakan blokade de facto.

Sejumlah pemerintah Amerika Latin, termasuk Kolombia di bawah Presiden Gustavo Petro, menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan dan mendorong penyelesaian melalui mekanisme mediasi internasional guna mencegah situasi semakin memburuk.

Para analis memperingatkan jika eskalasi ini berlanjut, Venezuela berpotensi menghadapi krisis kemanusiaan yang lebih parah, sedangkan pasar minyak dunia dapat kembali diguncang gelombang volatilitas baru. (Dhk/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya