Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Telepon Hangat Xi-Trump Diperumit Taiwan, Siapa Sebenarnya yang Menggerakkan Bidak?

Haufan Hasyim Salengke
25/11/2025 17:36
Telepon Hangat Xi-Trump Diperumit Taiwan, Siapa Sebenarnya yang Menggerakkan Bidak?
Presiden Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berjabat tangan saat mereka meninggalkan pertemuan bilateral di Pangkalan Udara Gimhae pada 30 Oktober 2025, di Busan, Korea Selatan.(Andrew Harnik/Getty Images)

JURU bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning, Selasa (25/11), menyebut Amerika Serikat (AS) sebagai pihak yang menginisiasi atau memprakarsai terjadinya panggilan telepon antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump.

Mao menggambarkan percakapan antara dua kepala negara adidaya sebagai positif, bersahabat, dan konstruktif.

Berbicara dalam jumpa pers rutin di Beijing, Mao mengatakan sejak masa jabatan kedua Trump dimulai, kedua kepala negara telah menjalin komunikasi rutin.

"Seperti yang saya ketahui, panggilan telepon ini diprakarsai oleh pihak AS," kata Mao. "Suasananya sangat positif, bersahabat, dan konstruktif. Kedua kepala negara berkomunikasi mengenai isu-isu yang menjadi perhatian bersama, dan komunikasi semacam itu penting bagi perkembangan hubungan Tiongkok-AS yang stabil."

Ketika ditanya tentang panggilan telepon antara para pemimpin AS dan Jepang pada Selasa, Mao mengatakan bahwa komunikasi antara para pemimpin AS dan Jepang adalah urusan kedua negara. "Saya tidak berkomentar tentang hal itu.”

Mengenai masalah Taiwan, juru bicara menekankan bahwa itu adalah urusan internal Tiongkok dan tidak menoleransi campur tangan apa pun dari kekuatan eksternal mana pun.

Dalam percakapan terbaru, Senin (24/11) malam, kedua pemimpin mengencangkan arah hubungan AS–Tiongkok sambil menjaga stabilitas. Namun bayang-bayang Taiwan justru semakin menguat sebagai titik kritis. Xi mengirim sinyal keras soal warisan pascaperang hingga penegasan bahwa Taiwan adalah garis merah, ujian sesungguhnya bagi arah baru kedua negara.

Xi menggarisbawahi perlunya Beijing dan Washington menjaga momentum perkembangan hubungan bilateral yang stabil untuk mencapai kemajuan yang lebih positif, seraya menekankan pentingnya ‘Negeri Panda’ dan ‘Negeri Paman Sam’ untuk bersama-sama menjaga hasil kemenangan dalam Perang Dunia II.

Xi menegaskan kembali sikap berprinsip Tiongkok terkait masalah Taiwan, menekankan bahwa kembalinya Taiwan ke pangkuan Tiongkok merupakan bagian penting dari tatanan internasional pascaperang. Tiongkok dan AS pernah bersatu melawan fasisme dan militerisme, dan mengingat apa yang sedang terjadi, lebih penting untuk bersama-sama menjaga hasil kemenangan dalam Perang Dunia II, ujarnya.

Sementara Trump memuji Xi sebagai seorang pemimpin yang hebat. Trump menyatakan bahwa ia menikmati pertemuan dengan Xi di Busan dan ia sepenuhnya setuju dengan Xi atas komentarnya tentang hubungan bilateral.

Ia mengatakan bahwa kedua belah pihak secara komprehensif mengimplementasikan konsensus penting yang mereka capai pada pertemuan di Busan.

AS mengakui peran penting Tiongkok dalam kemenangan Perang Dunia II dan memahami pentingnya masalah Taiwan bagi Tiongkok, ujar Trump.

Kedua pemimpin juga membahas krisis Ukraina. Xi menekankan bahwa Tiongkok mendukung semua upaya yang kondusif bagi perdamaian, dan berharap semua pihak akan terus mempersempit perbedaan mereka untuk mencapai perjanjian perdamaian yang adil, langgeng, dan mengikat guna menyelesaikan krisis ini hingga ke akar-akarnya. (China Daily/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya