Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Presiden Libanon Kecam Serangan Israel di Beirut Selatan

Budi Ernanto
24/11/2025 13:44
Presiden Libanon Kecam Serangan Israel di Beirut Selatan
Joseph Aoun.(AFP/ALEXI J ROSENFELD)

PRESIDEN Libanon Joseph Aoun, Minggu (23/11), menegaskan bahwa serangan udara Israel di wilayah pinggiran Beirut bagian selatan kembali menunjukkan bahwa Israel mengabaikan berbagai desakan untuk menghentikan agresinya.

Pernyataan tersebut disampaikan tidak lama setelah serangan Israel yang menewaskan lima orang dan melukai 28 lainnya. Israel mengklaim operasi itu ditujukan kepada kepala staf Hezbollah, Ali Tabatabai. Pihak Hezbollah kemudian mengonfirmasi bahwa Tabatabai memang gugur dalam serangan tersebut.

Dalam keterangannya, Aoun menyebut bahwa serangan tersebut, yang bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Libanon ke-82, merupakan "bukti tambahan bahwa Israel mengabaikan seruan untuk menghentikan agresinya terhadap Libanon."

Ia menambahkan bahwa Israel "menolak untuk menerapkan resolusi internasional dan menolak semua upaya dan inisiatif yang bertujuan untuk mengakhiri eskalasi dan memulihkan stabilitas tidak hanya di Libanon tetapi juga di seluruh kawasan."

Aoun menegaskan bahwa Libanon telah mematuhi penghentian permusuhan "selama hampir satu tahun" dan berulang kali menyampaikan berbagai inisiatif untuk menjaga stabilitas. Ia kembali mengimbau komunitas internasional untuk "memikul tanggung jawab dan melakukan intervensi secara serius dan tegas untuk menghentikan serangan terhadap Libanon dan rakyatnya, mencegah kerusakan dan pertumpahan darah lebih lanjut."

Pada Jumat (21/11), Aoun menyatakan bahwa Libanon bersedia membuka pembicaraan dengan Israel "di bawah naungan PBB, AS, atau internasional bersama" guna mencapai "akhir yang tuntas" dari agresi lintas batas tersebut.

Perdana Menteri Libanon Nawaf Salam juga mengecam serangan Israel dan menyerukan agar seluruh elemen negara bersatu mendukung institusi nasional. Ia menekankan bahwa perlindungan warga sipil serta pencegahan agar Libanon tidak masuk ke "jalur berbahaya" menjadi prioritas pemerintah. Dalam pernyataan melalui akun X, ia mengatakan bahwa pemerintah akan terus menempuh "semua jalur politik dan diplomatik dengan negara-negara sahabat dan saudara" untuk menjaga keselamatan warga, menghindari eskalasi tanpa akhir, menghentikan serangan Israel, mendorong penarikan pasukan Israel dari wilayah Libanon, serta memperjuangkan pembebasan tahanan Libanon.

Salam menambahkan bahwa pengalaman sebelumnya menunjukkan stabilitas jangka panjang hanya dapat dicapai melalui implementasi menyeluruh Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang menyerukan penghentian permusuhan, pembentukan zona bebas senjata dari Sungai Litani hingga Garis Biru yang ditetapkan PBB, serta memperkuat kewenangan negara dan memberi tentara Libanon kapasitas penuh menjalankan mandatnya.

Israel tercatat telah melakukan sejumlah serangan di wilayah selatan Beirut sejak masa gencatan senjata, termasuk yang terakhir pada Juni. Ketegangan di Libanon selatan semakin meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan serangan udara Israel hampir terjadi setiap hari dan diklaim menyasar anggota maupun infrastruktur Hezbollah.

Data Kementerian Kesehatan Libanon menunjukkan sedikitnya 331 orang tewas dan 945 orang terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan pada 27 November 2024. UNIFIL juga mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran udara dan darat oleh Israel.

Sesuai ketentuan gencatan senjata, pasukan Israel seharusnya menarik diri dari Libanon selatan pada Januari ini, tetapi baru sebagian yang mundur dan masih mempertahankan keberadaan militer di lima pos perbatasan. (Ant/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik