Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Italia Setuju Ekstradisi Serhiy Kuznetsov ke Jerman dalam Kasus Sabotase Nord Stream

Thalatie K Yani
20/11/2025 07:05
Italia Setuju Ekstradisi Serhiy Kuznetsov ke Jerman dalam Kasus Sabotase Nord Stream
Nord Stream. (Danish Defence Handout)

PENGADILAN banding tertinggi Italia memutuskan seorang warga Ukraina yang diduga terlibat dalam peledakan pipa gas Nord Stream antara Rusia dan Jerman akan diekstradisi ke Berlin. Serhiy Kuznetsov, mantan perwira militer Ukraina, akan menghadapi dakwaan sabotase anti-konstitusional dan diperkirakan dipindahkan dalam beberapa hari mendatang di bawah pengawalan polisi Jerman.

Jaksa Jerman meyakini Kuznetsov berperan sebagai koordinator sekaligus pimpinan kelompok yang menanam bahan peledak di pipa gas yang berada jauh di dasar Laut Baltik pada 2022. Meski demikian, otoritas belum mengungkapkan bukti apa pun terkait dugaan tersebut. Kasus ini memicu sensitivitas politik, mengingat Jerman merupakan pemasok bantuan militer terbesar untuk Ukraina di Eropa.

Pengacara Kuznetsov, Nicola Canestrini, mengatakan kliennya “merasa seperti kambing hitam” dan kecewa karena pemerintah Ukraina tidak memberikan pembelaan. Ia bahkan tidak mengonfirmasi status Kuznetsov sebagai tentara aktif saat insiden terjadi.

“Jika dia melakukan serangan itu, maka dia melakukannya karena diperintahkan. Ia sudah pasti seorang kapten di angkatan bersenjata Ukraina,” ujar Canestrini usai sidang pada Rabu. BBC melihat salinan kartu identitas militer Kuznetsov dalam berkas pengadilan. Hingga kini, Kuznetsov belum memberikan pernyataan publik mengenai keterlibatannya.

“Pemerintah Ukraina tahu persis di mana ia berada setiap hari pada September 2022. Jadi, jika dia tidak bersalah, mengapa mereka tidak mengatakan itu? Jika dia melakukannya, mengapa mereka tidak mengatakannya? Itulah pertanyaannya,” tambah sang pengacara. Pemerintah Ukraina yang dimintai komentar oleh BBC belum memberikan respons.

Kuznetsov ditangkap di Italia utara pada akhir Agustus, di sebuah lokasi glamping dekat kota Rimini, tempat ia menginap beberapa hari bersama istri dan dua anaknya. Data paspornya yang diinput saat check-in otomatis terkirim ke carabinieri, kepolisian lokal Italia. Tak lama kemudian, petugas mengetuk pintu penginapannya.

Sebulan setelah penangkapan itu, tersangka kedua asal Ukraina, Volodymyr Zhuravlyov, ditahan di rumahnya dekat Warsawa atas surat perintah Jerman. Zhuravlyov, seorang penyelam amatir yang telah tinggal di Polandia sejak sebelum invasi besar-besaran Rusia pada 2022, sempat ditahan 17 hari sebelum pengadilan menolak ekstradisinya. Hakim menyatakan tidak seorang pun warga Ukraina dapat dipidana atas tindakan yang ia anggap sebagai “pembelaan sah” terhadap invasi Rusia yang “berdarah dan genosidal”.

Namun di Italia, suasana politik berbeda. Canestrini menyebut putusan pengadilan banding sebagai “kekecewaan besar”, namun menegaskan perjuangan hukum akan berlanjut di Jerman dengan harapan kliennya dibebaskan berdasarkan argumen serupa.

Di luar gedung pengadilan megah di Roma, seorang pria terlihat berdiri sambil membentangkan bendera Ukraina dan membawa poster bertuliskan: “Serhiy Kuznetsov adalah pembela, bukan penjahat.” (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya