Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Afrika Selatan Tolak Kedatangan Penerbangan Baru Pembawa Warga Palestina dari Gaza

Thalatie K Yani
18/11/2025 07:29
Afrika Selatan Tolak Kedatangan Penerbangan Baru Pembawa Warga Palestina dari Gaza
Ilustrasi(freepik)

PEMERINTAH Afrika Selatan menyatakan tidak ingin menerima lagi penerbangan charter yang membawa warga Palestina, setelah kedatangan 153 orang dari Gaza memicu polemik pekan lalu. Banyak aspek terkait perjalanan mereka masih tidak jelas dan saling bertentangan.

Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Ronald Lamola pada Senin mengatakan penerbangan tersebut merupakan bagian dari “agenda yang jelas untuk membersihkan Palestina dari Gaza dan Tepi Barat”. Otoritas Israel belum menanggapi tudingan tersebut, namun sebelumnya menyatakan Afrika Selatan telah setuju menerima 153 warga Palestina itu. BBC telah meminta tanggapan pemerintah Afrika Selatan.

Menurut Kedutaan Besar Palestina di Afrika Selatan, rombongan tersebut berangkat dari Bandara Ramon di Israel dan terbang ke Johannesburg melalui Nairobi “tanpa pemberitahuan atau koordinasi sebelumnya”. Mereka menuding ““organisasi yang tidak terdaftar dan menyesatkan” memanfaatkan kondisi para warga Gaza, “menipu keluarga, mengumpulkan uang dari mereka, dan memfasilitasi perjalanan mereka dengan cara yang tidak teratur dan tidak bertanggung jawab”.

Kementerian Luar Negeri Palestina, melalui kedutaan, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan pemerintah Afrika Selatan untuk menangani situasi yang muncul akibat “kelalaian” tersebut.

Penerbangan yang menjadi pusat polemik mendarat pada Kamis di Bandara Internasional OR Tambo, Johannesburg. Para penumpang awalnya ditolak masuk dan tertahan lebih dari 10 jam di dalam pesawat karena tidak memiliki cap keberangkatan pada paspor. Warga Palestina dapat masuk ke Afrika Selatan tanpa visa selama 90 hari.

Setelah adanya intervensi dari lembaga amal lokal, para penumpang akhirnya diizinkan turun. Presiden Cyril Ramaphosa mengatakan keputusan itu diambil atas dasar “empati [dan] kasih sayang”. Menurut otoritas, 23 penumpang telah melanjutkan perjalanan ke negara lain, sementara 130 orang masuk ke Afrika Selatan.

Dalam konferensi pers terkait kesiapan Afrika Selatan menjadi tuan rumah KTT G20, Lamola mengatakan penerbangan tersebut tampak sebagai bagian dari “agenda yang lebih luas untuk memindahkan warga Palestina dari Palestina ke berbagai belahan dunia”. Ia menambahkan, “[Ini] jelas merupakan operasi yang terkoordinasi dengan baik karena mereka tidak hanya dikirim ke Afrika Selatan. Ada negara-negara lain yang telah menerima penerbangan serupa.” tanpa merinci negara lain. Pemerintah menyatakan hal ini sedang diselidiki.

Dua minggu sebelumnya, sebuah pesawat lain yang membawa 176 warga Palestina juga mendarat di Johannesburg. Sebagian dari mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke negara lain, menurut organisasi Gift of the Givers yang membantu proses kedatangan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berulang kali menyatakan dukungan terhadap pemindahan warga Gaza secara “sukarela”, langkah yang menuai kritik dari warga Palestina, kelompok HAM, serta sejumlah negara.

Sehari setelah kedatangan kelompok tersebut, Presiden Ramaphosa mengatakan para penumpang “entah bagaimana secara misterius ditempatkan di pesawat yang melewati Nairobi” sebelum tiba di Afrika Selatan, sebagaimana diberitakan News24.

“Penduduk tersebut meninggalkan Jalur Gaza setelah Cogat menerima persetujuan dari negara ketiga untuk menerima mereka,” pernyataan Badan militer Israel Cogat. Pada Senin, Cogat menyebut Afrika Selatan sebagai negara ketiga tersebut.

Afrika Selatan selama ini menjadi salah satu kritik paling keras terhadap operasi militer Israel di Gaza. Solidaritas negara itu terhadap perjuangan Palestina berakar sejak dekade 1990-an, ketika Nelson Mandela menyatakan dukungan bagi pembentukan negara Palestina.

Demonstrasi besar pro-Palestina terus terjadi di berbagai kota sejak perang dimulai. Aksi pro-Israel juga berlangsung dalam skala lebih kecil, mengingat Afrika Selatan memiliki komunitas Yahudi terbesar di Afrika sub-Sahara.

Pada 2023, pemerintah Afrika Selatan mengajukan gugatan ke Mahkamah Internasional (ICJ) dengan menuduh Israel melakukan genosida di Gaza. Israel membantah tuduhan itu dan menyebutnya “baseless”. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya