Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
JURU bicara militer Israel mengungkap perpecahan semakin besar antara kepemimpinan politik dan militer negara tersebut. Dia juga mempertanyakan tujuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menghancurkan Hamas di Jalur Gaza agar perang berakhir.
Setelah sembilan bulan perang yang menewaskan lebih dari 37.000 warga Palestina atas nama pemusnahan kelompok bersenjata yang memerintah daerah kantong yang terkepung, Laksamana Muda Daniel Hagari mengatakan bahwa tugas tersebut tidak mungkin dan hanya langkah salah.
"Urusan menghancurkan Hamas, membuat Hamas menghilang, itu hanya membuang pasir ke mata publik," katanya kepada stasiun televisi Channel 13 Israel pada Rabu (19/6).
Baca juga : Kabinet Perang Israel Selesai, Siapa yang Tersisa?
"Hamas ialah suatu ide. Hamas ialah suatu partai. Hal ini berakar dari hati masyarakat. Siapa pun yang mengira kita bisa melenyapkan Hamas ialah orang yang salah," sebutnya.
Dilaporkan dari Amman, Yordania, Hamdah Salhut dari Al-Jazeera mengatakan kantor Netanyahu marah atas pernyataan Hagari. "Ini hanya memberi Anda gambaran tentang kebijakan Benjamin Netanyahu dalam perang ini dan tentara di lapangan mengatakan hal itu sebenarnya tidak realistis," tambahnya.
Kantor Netanyahu menanggapi dengan mengatakan bahwa kabinet keamanan, yang diketuai oleh perdana menteri, telah menetapkan penghancuran kemampuan militer dan pemerintahan Hamas sebagai salah satu tujuan perang. Militer Israel, tentu saja, berkomitmen terhadap hal ini.
Baca juga : PM Kanada Trudeau Dukung Proposal Gencatan Senjata Gaza
Militer segera mengeluarkan klarifikasi dengan mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk mencapai tujuan perang sebagaimana ditetapkan oleh cabinet. Mereka pun berupaya mencapai tujuan ini sepanjang perang, siang dan malam, dan akan terus melakukannya.
Komentar Hagari, mengacu pada penghancuran Hamas sebagai suatu ideologi dan ide, dan hal ini dikatakan olehnya dengan sangat jelas dan eksplisit, tambah pernyataan militer tersebut. "Klaim lain mana pun mengambil hal-hal di luar konteks," ujarnya.
Analis politik Israel Akiva Eldar mengatakan Hagari telah merusak doktrin Netanyahu bahwa Hamas dapat dikalahkan sekali dan untuk selamanya. "Saat ini, tampaknya untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, terjadi eskalasi antara pemerintah yang dipimpin oleh Netanyahu dan rombongan wartawannya, para analis yang sebenarnya (secara tidak resmi) berada di timnya, yang mencemarkan nama baik pemimpin tersebut," kata Eldar kepada Al-Jazeera.
Baca juga : Warga Gaza tidak Henti Pindah Mengungsi
"Ini semacam skenario apokaliptik saat juru bicara militer--yang melapor kepada kepala staf--meremehkan doktrin Netanyahu, yaitu, kita harus mengakhiri pemerintahan Hamas untuk selamanya di Gaza," sebut Eldar. "Yang dikatakan Hagari menantang Netanyahu dan mengatakan, sebenarnya Anda sedang berhalusinasi," tambahnya.
Tanda-tanda ketidakpuasan sebelumnya
Sudah ada tanda-tanda ketidakpuasan atas penanganan perang oleh pemerintahan Netanyahu. Koalisi ini mencakup kelompok garis keras sayap kanan yang menentang segala bentuk penyelesaian dengan Hamas.
Baca juga : Israel Bunuh Lebih 500 Warga Palestina di Tepi Barat
Pembicaraan gencatan senjata yang dimediasi secara internasional selama berbulan-bulan, termasuk proposal yang diajukan bulan ini oleh Presiden AS Joe Biden, telah terhenti.
Benny Gantz, mantan panglima militer dan politisi sentris, mengundurkan diri dari kabinet perang Netanyahu awal bulan ini. Ia beralasan frustrasi atas perilaku perang yang dilakukan perdana menteri.
Netanyahu menyatakan ketidaksenangannya terhadap keputusan tentara yang mendeklarasikan jeda taktis di kota Rafah di Gaza selatan untuk membantu menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Seorang ajudannya mengatakan Netanyahu terkejut dengan pengumuman tersebut. Stasiun TV Israel mengutip pernyataannya, "Kita punya negara yang punya tentara, bukan tentara yang punya negara," pungkasnya. (Aljazeera/Z-2)
Otoritas Israel batalkan salat Jumat di Masjid Al-Aqsa dengan dalih konflik Iran. Imam Besar Al-Aqsa mengecam penutupan yang dianggap tidak berdasar tersebut.
Pasukan Israel serbu belasan desa di Ramallah, tahan satu pemuda, aniaya warga, hingga sita rumah dan uang tunai penduduk dalam operasi militer Kamis malam.
Bantuan ini merupakan aksi kolaborasi antara sektor swasta dan lembaga filantropi Islam dalam merespons krisis kemanusiaan di Palestina.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) terus menunjukkan komitmennya dalam misi kemanusiaan global dengan menyalurkan bantuan paket makanan siap saji bagi warga terdampak konflik di Palestina.
Baznas kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang terdampak konflik. Kali ini, bantuan yang disalurkan berupa pakaian dengan total 2.400 paket.
Israel menutup Masjid Al-Aqsa untuk hari ketiga di tengah Ramadan 2026 pasca-perang dengan Iran. Warga Palestina peringatkan perubahan status quo permanen.
Israel menutup Masjid Al-Aqsa untuk hari ketiga di tengah Ramadan 2026 pasca-perang dengan Iran. Warga Palestina peringatkan perubahan status quo permanen.
Pasukan Indonesia akan dikerahkan ke Jalur Gaza mulai April 2026 sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional. Simak detail penempatannya di sini.
Wamenlu Arab Saudi Waleed Elkhereiji dalam pertemuan OKI di Jeddah tegaskan dukungan Solusi Dua Negara dan apresiasi peran AS untuk perdamaian Palestina.
Dubes Rusia Sergei Tolchenov hormati keputusan Presiden Prabowo gabung Board of Peace (BoP) Gaza, namun ungkap alasan Rusia tak ikut serta. Cek faktanya.
Serangan brutal pemukim ilegal Israel di desa Susya, Hebron, hanguskan rumah dan kendaraan warga Palestina di tengah bulan Ramadan. Simak kronologinya.
Menlu RI Sugiono tegaskan kesiapan Indonesia pimpin Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) dan kirim 8.000 prajurit TNI untuk perdamaian Palestina.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved