Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
TENTARA Israel menjadikan Kompleks Medis Nasser, Gaza, Palestina, sebagai barak militer dan membahayakan nyawa pasien dan tim medis. Kementerian Kesehatan di Gaza mengkhawatirkan kondisi ratusan orang yang terjebak di dalamnya.
Sedikitnya 25 staf medis dan 136 pasien berada di Kompleks Medis Nasser.
"Rumah sakit tidak mempunyai listrik, air, makanan, oksigen, dan kemampuan pengobatan untuk kasus-kasus sulit," kata Kemenkes di Gaza yang dikuasai Hamas, Senin (19/2).
Baca juga : Israel Hancurkan Rumah Sakit Terakhir di Gaza
Menurut Kemenkes, saat ini ada upaya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus mengevakuasi pasien yang tersisa ke rumah sakit lain untuk menerima perawatan.
"Israel masih keras kepala untuk tidak biarkan bantuan medis dan kemanusiaan ke Kompleks Medis Nasser," kata Kemenkes di Gaza.
Akibat penyerbuan tentara Israel ke Nasser, rumah sakit terbesar kedua di jalur Gaza itu akhirnya berhenti beroperasi.
Baca juga : Kementerian Kesehatan Hamas Sebut Tank Israel Tembaki Rumah Sakit Gaza
Bahkan, koresponden Aljazeera mengatakan, Israel telah menangkap dokter Nahed Abu Taima, direktur Rumah Sakit Bedah di Kompleks Nasser di Khan Yunis.
Penyerbuan Israel ke berbagai rumah sakit di Jalur Gaza, dan kini menargetkan Kompleks Medis Nasser, dilakukan dengan dalih bahwa RS tersebut telah menjadi markas Hamas. Hal itu seperti mereka lakukan di RS Indonesia di Beit Lahiya, Gaza Utara, dan RS As-Syifa di Kota Gaza.
Sebelumnya, Bulan Sabit Merah telah menegaskan bahwa 12 orang yang ditangkap tentara Israel dari kalangan tim Medis di RS Nasser benar-benar tenaga medis. Bukan anggota Hamas.
Baca juga : Makin Kejam Israel, Makin Kuat Hamas Melawan
Di RS Nasser, Israel mengaku telah menangkap ratusan teroris, beberapa di antaranya menyamar sebagai staf medis dan menemukan obat-obatan dengan nama dan foto korban penculikan di tubuh mereka.
Dikatakan, para pejuang formasi komando, armada 13 pasukan Shin Bet dan pasukan khusus lainnya yang beroperasi di bawah divisi 98 beroperasi akhir pekan lalu di area rumah sakit Nasser.
"Di antara para tahanan, terdapat teroris yang ikut serta dalam pembantaian tanggal 7 Oktober, yang mempunyai hubungan dengan para korban penculikan dan merupakan agen penting dalam organisasi teroris Hamas," kata Israel Defence Force (IDF).
Baca juga : Israel Tembakkan Bom Asap di RS Nasser Gaza, Bulan Sabit Merah Palestina Kirim SOS
Klaim juru bicara tentara penjajah teroris, bahwa Hamas menggunakan Kompleks Medis Nasser dan Rumah Sakit Al-Amal di Khan Yunis, untuk tujuan militer, dibantah oleh Hamas.
"Klaim Israel bahwa tentara fasis menangkap anggota perlawanan di sana, adalah sebuah mata rantai baru. dalam serangkaian kebohongan yang ia sebarkan untuk membenarkan kejahatan perang dan pelanggaran mencolok terhadap rumah sakit dan sektor kesehatan di Jalur Gaza,"cetus Hamas dikutip dari Telegram.
Hamas mengatakan, pasukan Israel yang kalah berusaha untuk mengeliminasi RS itu dari sistem kesehatan, sebagai bagian dari kebijakan teroris pemerintahnya, yang menargetkan struktur sipil di Jalur Gaza, dan melanjutkan perang pemusnahan dan pengungsian yang dilakukan terhadap warga sipil yang tidak berdaya.
Baca juga : Setelah Khan Younis, Militer Israel Targetkan Rafah di Jalur Gaza
"Kami telah berulang kali menekankan bahwa kebijakan perlawanan Palestina adalah, dan masih, untuk menetralisir lembaga-lembaga publik, warga sipil, dan sektor kesehatan dari aktivitas militer apa pun, dan kami telah meminta lebih dari satu kali, PBB dan pihak-pihak terkait untuk melakukan hal yang sama, agar komite internasional diikutsertakan untuk memeriksa rumah sakit dan memastikan kepalsuan narasi penjajah, tanpa memenuhi permintaan kami," sergah Hamas.
Hamas menegaskan, rakyat Palestina mempunyai hak untuk membela diri, mendapatkan kembali kebebasannya, dan menentukan nasibnya sendiri. (Z-4)
Baca juga : Masuki Bulan Kelima, Hamas Pertimbangkan Gencatan Senjata
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menerima undangan untuk menghadiri KTT Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza.
Keikutsertaan Indonesia di Board of Peace berisiko dimanfaatkan sebagai legitimasi politik bagi agenda yang tidak sejalan dengan nilai yang diperjuangkan terkait kemerdekaan Palestina
Langkah baru Israel perketat kontrol di Tepi Barat menuai kecaman global. Kebijakan ini dinilai melanggar hukum internasional dan mematikan solusi dua negara.
BERGABUNGNYA Indonesia dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza yang diusung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, masih menjadi perdebatan.
PIMPINAN Pusat Muhammadiyah mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam mengambil komitmen lanjutan di Board of Peace (BoP), terutama terkait rencana keanggotaan tetap.
PIMPINAN Pusat Muhammadiyah meminta Pemerintah Indonesia mengambil sikap kritis, aktif, dan terukur di Board of Peace (BoP), agar tetap sejalan dengan kemerdekaan palestina
Lima warga Palestina, termasuk dua anak, tewas setelah serangan udara Israel menghantam tenda pengungsi di al-Mawasi dekat Khan Younis.
SEDIKITNYA dua warga Palestina, termasuk seorang anak, tewas akibat serangan pesawat nirawak Israel di wilayah timur Khan Younis, Gaza selatan.
Selama pengepungan kamp pengungsi Jenin selama 10 hari oleh tentara Israel pada Agustus 2024, tentara memaksa Al-Sititi meninggalkan bayinya yang berusia enam bulan.
PULUHAN ribu warga Palestina berangkat menuju wilayah yang dikosongkan pasukan Israel setelah gencatan senjata berlaku pada Jumat (10/10). Sebagian besar berjalan kaki.
PBB serukan keadilan atas serangan ganda yang dilakukan Israel ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Serangan itu menewaskan 20 orang.
LIMA jurnalis termasuk di antara setidaknya 20 orang yang tewas, kemarin, akibat serangan Israel menghantam Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, Jalur Gaza, Palestina.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved