Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
LEBIH dari 3.000 personel militer Amerika Serikat (AS) telah tiba di Laut Merah dengan dua kapal perang. Misi ini merupakan tanggapan Washington terhadap penyitaan kapal tanker oleh Iran.
Pengerahan tersebut menambah peningkatan penumpukan militer AS di perairan Teluk, yang penting bagi perdagangan minyak global dan membuat Teheran, pada Senin (7/8), menuduh AS mengobarkan ketidakstabilan regional.
Militer AS mengatakan Iran telah menyita atau berusaha mengambil alih hampir 20 kapal berbendera internasional di kawasan itu selama dua tahun terakhir. Para pelaut dan marinir AS memasuki Laut Merah pada Minggu (6/8), setelah transit melalui Terusan Suez dalam penempatan yang diumumkan sebelumnya.
Baca juga: Menteri Luar Negeri Iran Kunjungi Jepang, Pertama sejak 2019
Mereka tiba menggunakan kapal perang USS Bataan dan USS Carter Hall yang menambah kuat Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain.
"Pengerahan itu menambah upaya untuk mencegah aktivitas destabilisasi dan mengurangi ketegangan regional yang disebabkan gangguan Iran dan penyitaan kapal dagang," kata juru bicara Armada Kelima Komandan Tim Hawkins kepada AFP.
USS Bataan adalah kapal serbu amfibi yang dapat membawa pesawat sayap tetap dan putar serta kapal pendarat. Sementara USS Carter Hall adalah kapal pendaratan dermaga, pengangkut prajurit dan perlengkapan.
Baca juga: Iran Gantung 11 Orang Kaum Baluch atas Tuduhan Narkoba
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanani mengatakan pengerahan militer AS hanya melayani kepentingan Washington. Kehadiran militer pemerintah AS di kawasan Laut Merah tidak pernah menciptakan keamanan.
"Kepentingan mereka di kawasan ini selalu memaksa mereka untuk mengobarkan ketidakstabilan dan ketidakamanan. Kami sangat yakin bahwa negara-negara Teluk Persia mampu memastikan keamanan mereka sendiri," ujarnya.
Juru bicara Pengawal Revolusi Iran Ramazan Sharif sementara itu mengatakan republik Islam itu telah mencapai tingkat kekuatan dan kekuatan yang dapat membalas tindakan jahat apa pun oleh AS, seperti merebut kapal.
Pengerahan terbaru terjadi setelah Washington mengatakan pasukannya memblokir dua upaya Iran untuk merebut kapal tanker komersial di perairan internasional di lepas pantai Oman pada 5 Juli.
Layanan maritim di Iran mengatakan salah satu dari dua kapal tanker, Richmond Voyager berbendera Bahama, bertabrakan dengan kapal Iran, melukai lima awak secara serius, menurut IRNA.
Pada April dan awal Mei, Iran menyita dua kapal tanker minyak dalam waktu seminggu di perairan regional. Insiden itu terjadi setelah Israel dan AS menyalahkan Iran pada November atas apa yang mereka katakan sebagai serangan pesawat nirawak terhadap kapal tanker yang dioperasikan oleh sebuah perusahaan milik Israel di lepas pantai Oman.
AS, bulan lalu, mengumumkan mereka akan mengerahkan kapal perusak, pesawat tempur F-35 dan F-16, bersama dengan Grup Kesiapan Amfibi/Unit Ekspedisi Laut, ke Timur Tengah untuk mencegah Iran merebut kapal di Teluk.
Pekan lalu, seorang pejabat AS mengatakan kepada AFP bahwa Washington juga bersiap menempatkan personel marinir dan Angkatan Laut di atas kapal tanker komersial yang melintasi Teluk sebagai lapisan pertahanan tambahan.
Tanggapan militer Washington yang ditingkatkan datang pada saat keterlibatan yang semakin dalam antara kawasan itu dan Tiongkok, yang menengahi penghentian kejutan antara saingan Teluk Arab Saudi dan Iran pada Maret.
Hubungan Teheran dengan negara-negara Teluk Arab lainnya juga berkembang. Presiden Uni Emirat Arab dan menteri luar negeri Kuwait sama-sama ditawari undangan untuk mengunjungi republik Islam itu minggu lalu.
"Keamanan akan tetap menjadi titik gesekan dalam hubungan AS-Teluk bahkan jika ancaman yang ditimbulkan oleh serangan Iran terhadap pengiriman mereda dalam jangka pendek," kata Torbjorn Soltvedt dari firma intelijen risiko Verisk Maplecroft. (AFP/Z-1)
UNTUK kesekian kalinya, Republik Islam Iran tidak ciut nyali menghadapi gertakan negara-negara Barat, terutama Amerika.
Presiden AS Donald Trump menolak memberikan kepastian terkait langkah militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.
Memang realisme politik Trump untuk menahan kemerosotan AS merupakan preseden yang mengancam tatanan internasional.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengakui ribuan orang tewas dalam aksi protes anti-pemerintah. Ia menuding campur tangan AS dan Donald Trump sebagai pemicu kekerasan.
Presiden Iran Pezeshkian mengeklaim AS & Israel adalah dalang kerusuhan.
Otoritas Iran mengeklaim telah menahan 3.000 orang. Di sisi lain, David Barnea (Mossad) bertemu utusan Donald Trump bahas serangan militer.
Studi terbaru mengungkap terumbu karang bertindak sebagai "konduktor" yang mengatur ritme harian mikroba laut, melampaui perubahan musiman.
KETEGANGAN antara Ethiopia dan Eritrea kembali menyedot perhatian kawasan Tanduk Afrika. Dalam beberapa pekan terakhir, kedua negara terlibat saling serang pernyataan yang semakin agresif.
Houthi belum mengaku bertanggung jawab atas serangan itu yang membuat Eternity kehilangan tenaga mesin di lepas pantai kota Hodeida yang dikuasainya.
Serangan kelompok Houthi Yaman menyebabkan kerusakan struktural yang parah, memaksa awak kapal meninggalkan kapal di perairan yang ganas di lepas pantai Yaman.
Kelompok pemberontak Houthi di Yaman kembali melancarkan aksi mereka, mengakhiri masa tenang selama beberapa bulan terakhir.
DEPARTEMEN Luar Negeri Amerika Serikat (AS) akan memberikan US$15 juta kepada pihak yang dapat memberikan informasi tentang mereka yang mendanai Houthi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved