Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan data ketidaksetaraan gender tetap statis selama satu dekade terakhir. Bahkan kondisi bias gender masih tertanam kuat di masyarakat meskipun ada kampanye hak asasi manusia seperti "Time's Up” dan gerakan sosial #MeToo di Amerika Serikat, (AS).
Kondisi itu, terus menghambat pemberdayaan perempuan dan membuat dunia tidak akan mampu mencapai target PBB untuk mencapai kesetaraan gender pada tahun 2030 mendatang.
Di antara pria dan wanita, norma sosial gender yang bias lazim di seluruh dunia; hampir 90 persen orang memiliki setidaknya satu bias, di antara tujuh negara yang dianalisis oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).
Baca juga: Nasib para Ibu Muda di India, Antara Harapan dan Kecemasan
"Prasangka ini tersebar luas di kalangan pria dan wanita yang menunjukkan bahwa bias-bias ini tertanam kuat dan memengaruhi pria dan wanita pada tingkat yang sama,” kata laporan tersebut.
Badan PBB telah memperbarui Indeks Norma Sosial Gender (Gender Social Norms Index/GSNI) dengan menggunakan data dari World Values Survey, sebuah proyek internasional yang mempelajari bagaimana nilai-nilai dan kepercayaan berubah di seluruh dunia.
Baca juga: Demi Sang Putri, Jodie Turner Smith Perjuangkan Kesetaraan Gender
"Indeks tersebut menunjukkan tidak ada perbaikan dalam bias terhadap perempuan dalam satu dekade," kata UNDP. Meskipun ada kampanye global dan lokal yang kuat untuk hak-hak perempuan seperti MeToo.
Sebagai contoh, 69 persen populasi dunia masih percaya bahwa laki-laki merupakan pemimpin politik yang lebih baik daripada perempuan, dan hanya 27 persen yang percaya bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki untuk berdemokrasi.
Hampir setengah populasi (46 persen) percaya bahwa pria lebih berhak atas pekerjaan, dan 43 persen percaya bahwa pria adalah pemimpin bisnis yang lebih baik.
Seperempat dari populasi juga berpikir bahwa seorang pria dapat dibenarkan untuk memukuli istrinya, dan 28 persen percaya bahwa universitas lebih penting bagi pria.
“Prasangka tersebut menciptakan rintangan bagi perempuan dan dimanifestasikan dalam pembongkaran hak-hak perempuan di berbagai belahan dunia," kata laporan tersebut.
"Tanpa mengatasi norma-norma sosial yang bias gender, kita tidak akan mencapai kesetaraan gender atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan," kata laporan tersebut.
Kurangnya kemajuan dalam mengatasi bias gender terjadi ketika PBB juga melaporkan penurunan metrik pembangunan manusia secara umum, khususnya terkait dengan pandemi Covid-19.
"Norma-norma sosial yang merusak hak-hak perempuan juga merugikan masyarakat secara lebih luas, sehingga menghambat perluasan pembangunan manusia," tegas Pedro Conceicao, direktur Kantor Laporan Pembangunan Manusia UNDP, dalam sebuah pernyataan.
"Semua orang diuntungkan dengan memastikan kebebasan dan kebebasan bagi perempuan," pungkasnya. (AFP/fer/Z-7)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Anggia Ermarini mengungkapkan IMW 2026 merupakan bentuk nyata keberpihakan Fatayat NU terhadap penguatan peran perempuan di berbagai sektor kehidupan.
Workshop peningkatan kapasitas ini diikuti lebih dari 100 pelaku UMKM perempuan ibu rumah tangga dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Forum ini menyoroti kontribusi perempuan dalam mendorong resiliensi di komunitasnya, sekaligus memberikan wadah untuk berdiskusi menggaungkan suara perempuan.
Dampak psikologis pascabencana berpengaruh terhadap proses pemulihan sosial dan ekonomi, terutama di wilayah dengan kerentanan ekonomi tinggi seperti di Sumatra.
Keberadaan petugas haji perempuan dinilai krusial untuk menghadirkan layanan terhadap kebutuhan spesifik jemaah perempuan, yang tidak selalu dapat dilakukan oleh petugas laki-laki.
Program undian ini mendapat respons positif dari masyarakat.
Ia berkata, "kita menghadapi dunia tanpa batasan yang mengikat terkait persenjataan nuklir strategis antara Federasi Rusia dan Amerika Serikat."
Para delegasi SMA Labschool Jakarta berkunjung dan diterima oleh Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dwisuryo Indroyono Soesilo di kantor KBRI Indonesia di Washington DC.
PBB menutup 2025 dengan tunggakan kontribusi mencapai US$1,6 miliar (Rp26 triliun).
PRESIDEN Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menuding Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya membentuk PBB baru melalui peluncuran Dewan Perdamaian.
PETA geopolitik dunia kembali bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi meluncurkan forum internasional baru bernama Board of Peace atau Dewan Perdamaian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved