Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA pengungsi perang yang kelelahan membentuk antrian panjang di dekat gerbang di Bandara Port Sudan. Beberapa orang melihat ke arah spanduk besar di atas yang menunjukkan doa muslim untuk para pelancong.
Setelah melewati hari-hari yang menegangkan di jalan dengan risiko dari pasukan saingan pemerintahan Sudan, banyak dari mereka yang dengan tenang melafalkan doa sambil berharap bisa keluar dari negara itu.
Hampir sebulan setelah konflik berdarah di Sudan, warga sipil masih berusaha melarikan diri, menaiki pesawat evakuasi dengan hanya membawa sedikit barang dan meninggalkan rumah, kerabat, dan kehidupan mereka.
Baca juga : Pertempuran Sengit Berlanjut di Khartoum Sudan
Bagi mereka yang mengantri di bandara, setelah perjalanan berbahaya mereka dari Khartoum, sekitar 850 kilometer (530 mil) jauhnya dengan mobil atau bus, melarikan diri dari Sudan terasa sangat dekat.
Namun setelah berjam-jam menunggu, hanya segelintir dari mereka yang berjalan perlahan di bawah teriknya matahari, menuju dua pesawat di landasan, sambil menggendong anak-anak dan tas-tas kecil.
Baca juga : Presiden Jokowi Sebut 969 WNI Telah Dievakuasi dari Sudan
Dokter gigi Saeed Nour-Addaem Saeed, 25, adalah salah satu dari sekitar selusin pengungsi yang beruntung yang menumpang pesawat Emirat menuju Abu Dhabi.
"Saya berada di jalan selama dua hari," kata Saeed, dia mengenakan kemeja merah terang dan celana panjang putih, yang bersiap untuk bergabung dengan orang tuanya di Uni Emirat Arab.
"Saya terbangun karena suara tembakan ketika perang pecah... dan sejak saat itu saya melihat hal-hal yang mengerikan," katanya kepada AFP.
Dua tahun lalu, terlepas dari gejolak politik Sudan, Saeed memutuskan untuk tetap tinggal setelah lulus dari sebuah universitas di Ibu Kota Khartoum, dengan harapan suatu hari nanti ia dapat membuka sebuah klinik.
"Saya tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi," katanya. "Saya meninggalkan semuanya. Mimpi saya hancur,” tambahnya.
Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata menyatakan lebih dari 750 orang telah terbunuh sejak pertempuran meletus antara tentara dan pasukan paramiliter pada tanggal 15 April.
Sekitar 177.000 orang telah melarikan diri dari negara yang dilanda kemiskinan ini, sementara sedikitnya 736.000 orang mengungsi, seperti dilaporkan badan-badan PBB. (AFP/Z-4)
Namun di beberapa titik terparah di Pekalongan, genangan masih mencapai 80 hingga 100 sentimeter, terutama di kawasan Tirto dan sekitarnya.
Berdasarkan data BPBD, di Kabupaten Pekalongan jumlah pengungsi mencapai 1.411 orang dan di Kota Pekalongan meningkat dari sebelumnya 1.472 orang menjadi 2.400 orang.
Senin (19/1) banjir di Kota Pekalongan meluas dari sebelumnya melanda 2 Kecamatan, kini telah merendam ribuanvrunah di 5 kecamatan yakni Wiradesa, Tirto, Sragi, Siwalan, dan Wonokerto.
Berdasarkan pemantauan terbaru, jumlah pengungsi mulai menunjukkan tren penurunan seiring dengan surutnya genangan di beberapa wilayah.
Proses distribusi dilakukan secara terukur agar bantuan tepat sasaran sesuai dengan eskalasi kebutuhan di setiap lokasi.
Selain warga Jakarta Barat, terdapat delapan KK warga Kelurahan Cipete Utara yang terpaksa mengungsi di Mushalla Nurul Iman.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai Rusia tidak menunjukkan itikad untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir tiga tahun.
Kecemasan akan aksi militer sudah berbulan-bulan menghantui warga Venezuela sejak Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengerahkan armada laut besar ke Karibia.
Peta diplomasi penyelesaian konflik Ukraina-Rusia semakin rumit, dengan Eropa ingin terlibat, Amerika Serikat ingin memimpin, dan Rusia mencari legitimasi.
Protes yang diselenggarakan oleh partai Sahra Wagenknecht Alliance Reason and Justice (BSW) tersebut berlangsung di Gerbang Brandenburg.
Peimpin Korea Utara, Kim Jong Un, serukan percepatan perluasan kemampuan senjata nuklir di negaranya.
Kepala Negara mengingatkan bahwa meskipun Indonesia tidak menyukai perang, realitas menunjukkan konflik bersenjata terjadi di berbagai belahan dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved