Selasa 04 Mei 2021, 17:44 WIB

Pemimpin Oposisi India Serukan Lockdown Nasional

Nur Aivanni | Internasional
Pemimpin Oposisi India Serukan Lockdown Nasional

Diptendu DUTTA / AFP
Ketua Partai Kongres Rahul Gandhi saat kampanye di Siliguri, India.

 

PEMIMPIN oposisi India Rahul Gandhi menyerukan penguncian nasional ketika penghitungan infeksi virus korona di negara itu melonjak melewati 20 juta hari ini, menjadi negara kedua setelah Amerika Serikat yang melewati tonggak sejarah yang suram.

Gelombang kedua infeksi Covid-19 yang mematikan di India menjadi lonjakan infeksi virus korona terbesar di dunia.

Di India, hanya butuh waktu lebih dari empat bulan untuk menambahkan 10 juta kasus Covid-19 untuk gelombang kedua. Padahal untuk gelombang pertama, butuh lebih dari 10 bulan untuk bertambah 10 juta kasus Covid-19. Saat ini, negara itu memiliki 3,45 juta kasus aktif.

Hari ini atau Selasa (4/5), India melaporkan 357.229 kasus baru selama 24 jam terakhir, sementara kematian naik 3.449 sehingga total jumlah korban menjadi 222.408 orang, menurut data Kementerian Kesehatan India

Pakar medis mengatakan angka sebenarnya di India bisa lima hingga 10 kali lebih tinggi daripada yang dilaporkan.

"Satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran korona sekarang adalah penguncian penuh ... kelambanan pemerintah India membunuh banyak orang yang tidak bersalah," kata anggota parlemen Kongres Gandhi di Twitter.

Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi enggan memberlakukan penguncian nasional karena berdampak pada ekonomi, namun beberapa negara bagian telah memberlakukan berbagai pembatasan sosial. (Malay Mail/Nur/OL-09)

Baca Juga

AFP

PM Kamboja Ingin Pulihkan Posisi Myanmar di ASEAN

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 07 Desember 2021, 15:24 WIB
Myanmar berada dalam kekacauan dan ekonominya lumpuh sejak para jenderal menggulingkan pemerintah sipil Aung San Suu Kyi pada...
Handout / Ukrainian presidential press-service / AFP

Biden Ancam Putin dengan Sanksi Ekonomi Terkait Krisis Ukraina

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 07 Desember 2021, 13:58 WIB
Presiden AS Joe Biden akan memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang konsekuensi ekonomi yang parah jika Rusia melanjutkan...
 Kirill KUDRYAVTSEV / AFP

Dianggap Promosikan ujaran Kebencian, Facebook Dituntut Pengungsi Rohingya US$150 miliar

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 07 Desember 2021, 13:34 WIB
Kelompok mayoritas Muslim itu menghadapi diskriminasi yang meluas di Myanmar, di mana mereka dihina sebagai penyelundup meskipun telah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya