Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
MANTAN Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama angkat bicara terkait penyerangan di Capitol. Melalui sebuah pernyataan yang diunggah di akun Twitter pribadinya, Obama menyebut peristiwa tersebut sebagai aib besar bagi bangsa.
“Sejarah akan mengingat kekerasan yang terjadi hari ini di Capitol, didorong oleh presiden yang tengah berkuasa dan terus berbohong tentang hasil pemilu, sebagai aib besar bagi bangsa kita,” tulisnya.
Obama menilai peristiwa hari ini merupakan akibat dari narasi kebohongan atas hasil pemilu yang jauh dari kenyataan.
Baca juga: Biden Sebut Penyerbuan Capitol sebagai Pemberontakan
“Selama dua bulan ini, sebuah partai politik dan ekosistem media yang menyertainya sudah terlalu sering tidak mau memberi tahu pengikutnya kebenaran bahwa ini bukanlah pemilihan yang terlalu ketat dan bahwa Presiden terpilih Biden akan dilantik pada 20 Januari,” tuturnya.
Dia meminta para pemimpin partai Republik untuk terus menyimpan kemarahan atau memadamkannya.
Obama pun mengapresiasi sejumlah anggota Partai Republik yang menentang peristiwa hari ini, termasuk pejabat pemilu di negara bagian seperti Georgia yang tidak bersedia diintimidasi dan telah menjalankan tugas mereka dengan baik.
“Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin seperti ini sekarang, dan dalam hari, minggu, serta berbulan-bulan ke depan karena Presiden terpilih Biden bekerja untuk memulihkan tujuan bersama dalam politik kita. Inia da di tangan kita semua sebagai warga Amerika, terlepas dari partai mana, untuk mendukungnya dalam tujuan itu,” tandasnya. (OL-1)
Presiden Donald Trump resmi membatalkan "endangerment finding" 2009, kebijakan kunci era Obama yang membatasi gas rumah kaca. Simak dampak ekonomi dan pro-kontra medisnya di sini.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011.
PRESIDEN Donald Trump memperjelas selama berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun bahwa ia termotivasi secara unik oleh keinginan untuk memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian.
Donald Trump kembali berambisi meraih Nobel Perdamaian 2025. Di balik upaya diplomatiknya, tersimpan obsesi terhadap prestise global dan persaingan dengan Barack Obama.
Jaksa Agung Pam Bondi memerintahkan pembentukan dewan juri menyelidiki dugaan rekayasa intelijen era Obama terkait Rusia.
DIREKTUR Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, merilis sejumlah dokumen yang mengaitkan pejabat pemerintahan Obama melakukan pengkhianatan terkait pemilu presiden AS pada 2016.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved