Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA beberapa tahun terakhir, hasrat Arab Saudi terhadap senjata telah tumbuh dan normalisasi hubungan dengan Israel tidak lagi menjadi mimpi. The Jerusalem Post menduga kerajaan tersebut kemungkinan akan meminta sesuatu dari Washington sebagai imbalan.
Awal pekan ini, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terbang ke kota Neom di Saudi bersama sekretaris militernya, Brigjen Avi Bluth, dan Direktur Mossad Yossi Cohen bertemu dengan Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo. The Wall Street Journal kemudian melaporkan bahwa seorang penasihat senior Saudi mengatakan ketiganya membahas normalisasi dan Iran tetapi tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Meski begitu, fakta kedua pemimpin itu bertemu langsung dan membiarkan pertemuan itu bocor ke media menunjukkan bahwa normalisasi antara dua negara paling kuat di Timur Tengah itu tidak terlalu jauh.
Meskipun Washington telah menjual senilai miliaran dolar AS berupa peralatan militer kepada Riyadh, AS telah terikat dalam Qualitative Military Edge (QME) Israel di Timur Tengah sebelum menjual persenjataan canggih apa pun ke negara-negara kawasan.
Namun musim panas ini, setelah normalisasi hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengumumkan penjualan paket senjata ke UEA senilai hampir US$23,4 miliar mencakup jet tempur siluman F-35, drone dengan antikapal selam, dan rudal jelajah siluman. Arab Saudi tidak akan menandatangani kesepakatan normalisasi apa pun tanpa paket serupa atau yang bahkan mungkin lebih tinggi.
Laporan bulan Maret yang diterbitkan oleh Stockholm International Peace Research Institute menemukan bahwa impor senjata oleh negara-negara di Timur Tengah meningkat sebesar 61% antara 2015-2019 dibandingkan selama 2010-2014. Arab Saudi menerima 35% dari semua transfer senjata ke wilayah tersebut diikuti oleh Mesir (16%) dan UEA (9,7%).
Ekspor senjata Amerika ke Timur Tengah meningkat 79% selama dekade terakhir dan menyumbang 51% dari total ekspor senjata AS antara 2015-2019. Tahun lalu, lembaga itu menemukan impor senjata Timur Tengah hampir dua kali lipat dalam lima tahun sebelumnya. Arab Saudi menjadi importir senjata terbesar di dunia antara 2014-2018.
Penjualan senjata ke Arab Saudi tetap kontroversial, karena kerajaan itu memiliki catatan hak asasi manusia yang mengerikan dan memimpin aliansi negara-negara Arab (termasuk UEA) dalam perang melawan Houthi yang didukung Iran di Yaman. Perang itu telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia dan menyebabkan lusinan negara memberlakukan larangan penjualan senjata kepada Saudi.
Tetapi Riyadh mengimpor sebagian besar senjatanya, seperti jet tempur, tank, rudal, peralatan pengumpulan intelijen canggih, dan banyak lagi dari Amerika Serikat. Washington pun belum memberlakukan larangan apa pun.
Pembelian senjata Saudi tidak hanya terjadi dengan latar belakang perang di Yaman. Permusuhan dengan Iran yang meningkat juga menyebabkan kerajaan ingin memperoleh lebih banyak senjata.
Dengan Israel memberi Washington lampu hijau untuk menjual F-35 ke UEA, Arab Saudi kemungkinan menuntut hal yang sama. Selain rudal presisi canggih, Riyadh juga telah menyatakan minatnya pada sistem perlindungan aktif untuk kendaraan lapis baja, baterai pertahanan rudal, sistem interferensi elektronik, dan radar canggih, serta sistem deteksi lain. Mungkin juga menginginkan drone bersenjata canggih seperti drone MQ-9 Reaper dan persenjataan maritim.
Menyusul kesepakatan senjata yang ditandatangani antara UEA dan AS, banyak yang menyuarakan kekhawatiran bahwa hal itu akan membawa siklus baru proliferasi senjata di wilayah yang sudah dipenuhi senjata. Apalagi negara-negara besar tidak ragu menggunakan kelompok proxy untuk berperang.
Dengan Iran dipandang sebagai ancaman global oleh Tel Aviv, Washington, dan Riyadh, Israel mungkin sekali lagi akan memberi lampu hijau pada penjualan senjata skala besar lain ke Saudi untuk meningkatkan keseimbangan kekuatan lebih jauh terhadap Teheran. (OL-14)
BANK sentral Iran tampaknya menggunakan sejumlah besar mata uang kripto yang didukung oleh politikus Inggris, Nigel Farage, yaitu stablecoin Tether.
EKOSISTEM aset digital Iran melampaui angka US$7,78 miliar atau sekitar Rp132 triliun pada 2025. Ini tumbuh lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.
DI tengah rezim Iran yang semakin terdesak, menghadapi tekanan luar biasa baik dari dalam maupun luar negeri, mata uang kripto muncul sebagai alternatif keuangan bagi banyak warganya.
UNTUK kesekian kalinya, Republik Islam Iran tidak ciut nyali menghadapi gertakan negara-negara Barat, terutama Amerika.
Presiden AS Donald Trump menolak memberikan kepastian terkait langkah militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.
Memang realisme politik Trump untuk menahan kemerosotan AS merupakan preseden yang mengancam tatanan internasional.
Presiden Donald Trump membentuk Board of Peace untuk perdamaian Gaza. Indonesia, Saudi, hingga Turki resmi bergabung, sementara Putin masih mempertimbangkan.
Menhaj menjelaskan alasan petugas haji 2026 dilatih semi-militer. Fokus pada disiplin, kesiapan fisik-mental, dan tantangan medan di Arab Saudi.
Melihat gaya bermain Jepang yang mengandalkan penguasaan bola (possession) dan kecepatan transisi, kedua calon lawan ini menawarkan tantangan yang sangat berbeda secara taktikal.
Pernyataan itu juga menyampaikan bahwa KJRI Jeddah turut memfasilitasi pemulangan satu WNI dengan kondisi lumpuh akibat sakit ke Indonesia.
ARAB Saudi memberi tahu Iran bahwa kerajaan tersebut tidak akan mengizinkan wilayah udara atau teritorialnya digunakan untuk menyerang republik Islam itu.
ARAB Saudi memperingatkan sekutunya bahwa serangan militer AS yang tidak efektif terhadap Iran akan menguntungkan rezim Iran dalam menekan aktivitas protes yang terjadi di seluruh negeri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved