Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 6 bulan lalu menyatakan virus covid-19 sebagai darurat internasional. Keputusan itu menuai banyak kritikan lantaran dinilai sudah terlambat. Kritik-kritik terhadap langkah WHO yang lambat dalam menanggapi pandemi covid-19 terus berlanjut hingga saat ini.
Presiden AS Donald Trump awalnya mengatakan WHO gagal meminta pertanggungjawaban Tiongkok atas perannya dalam penyebaran covid-19. Alhasil, dia memutuskan AS untuk keluar dari keanggotaan organisasi kesehatan dunia itu.
Para profesional medis juga mengatakan telah ditemukan banyak kekurangan dalam tubuh organisasi tersebut. WHO membutuhkan reformasi dalam menghadapi pandemi covid-19 yang telah menewaskan lebih dari 650.000 orang.
Selain itu, para pejabat mengatakan bahwa pandemi covid-19 juga telah dipolitisasi. Dan kurangnya kepemimpinan di beberapa negara telah menghambat respons penanganan yang efektif.
"WHO bukan murni organisasi teknis. Mereka sangat diplomatis. Mereka memiliki peran politik untuk dimainkan dan sering saya pikir adil untuk mengatakan langkah itu (penanganan pandemi) lambat," kata Keiji Fukuda, seorang profesor klinis di Universitas Hong Kong yang sebelumnya bekerja untuk WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.
Baca juga: Kasus Kematian Akibat Covid-19 di AS Melewati 150 Ribu
Kritik lain datang pada awal Juli, ketika hampir 240 ilmuwan dari seluruh dunia menandatangani surat yang menyerukan lembaga kesehatan untuk mengakui bahwa Sars-CoV-2, nama resmi virus yang menyebabkan covid-19, bisa berada lebih lama di udara.
Ada pun, covid-19 dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC) pada 30 Januari. Lalu pada 11 Maret WHO menetapkannya sebagai pandemi. Hal itu juga dinilai terlambat.
Michael Osterholm, seorang profesor epidemiologi dari University of Minnesota, dalam kesempatan yang sama mengatakan penundaan itu menahan negara-negara untuk bersiap menghadapi penyebaran wabah. Definisi WHO tentang pandemi mengacu pada penyebaran penyakit baru di seluruh dunia, sementara PHEIC meminta komunitas internasional untuk menyiapkan tanggapan terkoordinasi.
Mary-Louise McLaws, seorang profesor di Universitas New South Wales Sydney mengatakan bahwa tonggak utama mendeklarasikan PHEIC dirancang untuk memberi sinyal kepada negara-negara bahwa mereka perlu mulai bersiap.
"Orang-orang mengeluh tentang lambatnya WHO dalam mengumumkan pandemi. (Tetapi) PHEIC jauh lebih penting daripada menyebut sesuatu pandemi," kata McLaws, yang juga bagian dari panel penasihat ahli WHO untuk tanggapan covid-19.
"Ketika PHEIC diumumkan, secara hukum negara anggota harus benar-benar mulai mempersiapkan rencana mereka. Jadi pada 30 Januari, ketika Dr Tedros mengumumkan PHEIC, saat itulah setiap negara harus mulai bersiap".
Kritikan terhadap organisasi kesehatan itu menjadi penting untuk menghadapi berbagai kemungkinan pandemi di masa depan. WHO selaku pemimpin dalam menghapi pandemi global harus merespons dengan cepat dan memutuskan langkah-langkah yang tepat untuk bisa diikuti megara-negara anggotanya. (SCMP/OL-14)
KUHAP baru membawa mekanisme kontrol yang lebih ketat.
Seluruh masukan dari elemen masyarakat akan diakomodasi dalam bentuk rekomendasi resmi Komisi III untuk mempercepat pembenahan di tubuh Korps Bhayangkara.
Komite Reformasi Polri berharap pembenahan Korps Bhayangkara tidak bersifat temporer
Mekanisme baru ini dirancang untuk menciptakan kepastian hukum dan efisiensi waktu dalam proses peradilan pidana di Indonesia.
Penyesuaian institusional yang mendasar akan mampu memulihkan dan menjaga kepercayaan publik secara berkelanjutan.
Reputasi institusi kepolisian kerap meningkat pada momen tertentu, namun bisa menurun drastis ketika muncul kasus yang menyentuh rasa keadilan publik.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Peneliti simulasi wabah H5N1 pada manusia. Hasilnya, hanya ada jendela waktu sangat sempit untuk mencegah pandemi sebelum penyebaran tak terkendali.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti mengatakan selama tidak ada deklarasi epidemi di daerah maka korban keracunan MBG akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
Adanya hewan hidup dan hewan yang baru disembelih di area yang sama meningkatkan paparan cairan tubuh dan feses yang mengandung virus.
Ahli epidemiologi Michael Osterholm memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi pandemi mematikan berikutnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved