Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PUSAT Pengurangan Risiko Bencana atau Disaster Risk Reduction Center (DRRC) Universitas Indonesia (UI) meluncurkan buku berjudul Pengantar, Konsep Dasar, dan Aplikasi: Biorisiko dan Keselamatan Hayati Laboratorium. Buku tersebut ditulis oleh para akademisi, yakni Anom Bowolaksono, Fatma Lestari, Windri Handayani, dan David Kusumawan.
Buku ini merupakan panduan dasar bagi mereka yang terlibat di dalam aktivitas laboratorium, baik di lingkungan perguruan tinggi maupun institusi lainnya.
Kepala DRRC UI sekaligus tim penulis buku Fatma Lestari menyampaikan proses awal dimulainya penulisan buku tersebut terjadi saat awal pandemi covid-19. Risiko dari biological hazard dapat memberi pengaruh signifikan terhadap ancaman kesehatan global. Oleh karena itu urgensi penyusunan buku ini bertujuan untuk melakukan upaya pencegahan melalui peningkatan pemahaman terhadap bagaimana cara mengelola bio-risiko.
Ia mengatakan isi buku ini tidak hanya menjamin keselamatan bagi pekerja dalam skala kecil seperti di lingkungan laboratorium melainkan dapat diterapkan juga dalam skala besar yang lebih luas lagi.
“Berangkat dari kondisi biological hazard yang ternyata dapat menyebabkan bencana tidak hanya pada skala kecil tetapi juga global yang dapat mempengaruhi kesehatan global pada masyarakat dunia. Pada saat itu penulis berinisiatif agar bencana pandemi ini dapat dicegah, maka diperlukan pemahaman bagaimana kita dapat mengelola bio risiko. Dalam hal ini tentunya menjamin keselamatan tidak hanya bagi pekerja dalam skala kecil laboratorium, tetapi juga dapat diterapkan dalam skala besar agar tidak membahayakan bagi kesehatan global," kata Fatma, melalui keterangannya, Jumat (25/4).
Para penulis tidak menampik bahwa biological harzard memiliki banyak jenis dan tingkat risiko yang signifikan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan dengan sebaik-baiknya, dan dengan cara yang tepat.
Buku tersebut hadir menjadi satu di antara panduan yang dapat menjadi pegangan para stakeholder. Karena buku ini memuat pengantar konsep dasar hingga aplikasi praktis dalam upaya pencegahan biological hazard yang dapat dilakukan melalui pendekatan bio-risiko. Tujuan akhirnya adalah pencegahan bahaya agar tidak menyebar dan mengganggu kesehatan secara global.
Salah satu penulis, Anom Bowolaksono menyampaikan dirinya pernah melakukan mitigasi laboratorium yang kondisinya belum terkelola dengan baik dalam hal keselamatan dan juga mitigasi risikonya. Pengalaman saat bertugas di UPT K3L Universitas Indonesia turut menjadi referensi penulis dalam menyusun buku yang dilaunching tersebut.
"Dari pengalaman tersebut didapatkan fakta bahwa sangat sedikit sekali buku dan referensi yang membahas serta memberikan panduan terkait standar bio-safety atau keselamatan hayati juga bio-risiko di laboratorium," kata Anom.
Ia mengatakan buku yang berisikan 15 bab ini didedikasikan untuk semua kalangan, baik masyarakat, mahasiswa, akademisi, maupun industri. Kondisi ini menyesuaikan dengan konteks DRRC UI yang bersinergi dan berkolaborasi dengan banyak institusi, lembaga, maupun industri.
“Kita juga memberikan pemahaman dasar kepada mahasiswa kita bagaimana kita melakukan penanganan dan juga dekontaminasi. Di bab selanjutnya juga dibahas tentang pengantar investigasi kecelakaan insiden. Terakhir kita berbicara panduan sistem manajemen laboratorium berdasarkan pada standar internasional yang berlaku.” tutur Anom. (H-3)
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Peneliti simulasi wabah H5N1 pada manusia. Hasilnya, hanya ada jendela waktu sangat sempit untuk mencegah pandemi sebelum penyebaran tak terkendali.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti mengatakan selama tidak ada deklarasi epidemi di daerah maka korban keracunan MBG akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
Adanya hewan hidup dan hewan yang baru disembelih di area yang sama meningkatkan paparan cairan tubuh dan feses yang mengandung virus.
Ahli epidemiologi Michael Osterholm memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi pandemi mematikan berikutnya.
UPAYA pengendalian resistensi antimikroba (AMR) dibutuhkan untuk mencegah kemunculan berbagai penyakit berbahaya, termasuk yang bisa menimbulkan pandemi.
SEBUAH kelompok peneliti telah menerbitkan temuan baru di "Science Policy Forum" mengenai potensi risiko yang ditimbulkan oleh pengembangan mirror bacteria atau bakteri cermin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved