Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKISTAN, Kamis (14/5), menekankan pentingnya penegakan implementasi perjanjian antara Amerika Serikat dan Taliban untuk perdamaian Afghanistan, di tengah lonjakan kekerasan di negera itu.
"Pakistan percaya Perjanjian Perdamaian AS-Taliban telah memberikan jendela peluang bagi rakyat Afghanistan dalam bekerja sama mewujudkan tujuan akhir perdamaian dan rekonsiliasi di Afghanistan. Kami berharap Perjanjian Perdamaian diimplementasikan secara keseluruhan sehingga mengarah ke tahap selanjutnya dari negosiasi Intra-Afghanistan," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Aisha Farooqui pada briefing mingguannya.
Farooqui ditanya tentang penolakan Taliban atas seruan gencatan senjata kemanusiaan dan perintah Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani kepada pasukan keamanan untuk menyudahi posisi pertahanan aktif dan melanjutkan serangan terhadap kelompok-kelompok militan termasuk Taliban.
Baca juga: Pasien Covid-19 di Pakistan Sembuh dengan Terapi Plasma
Dia mengatakan belum ada proposal yang dipertimbangkan oleh Pakistan untuk menjadi tuan rumah perundingan intra-Afghanistan di Islamabad.
Namun ia mengatakan upaya sedang dilakukan untuk membantu memulai perundingan intra-Afghanistan, yang merupakan langkah logis berikutnya setelah penandatanganan perjanjian perdamaian AS-Taliban.
"Kami berharap upaya ini berhasil di tahap paling awal," kata Farooqui, seraya menambahkan Pakistan dan Afghanistan berbagi tujuan akhir yaitu Afghanistan yang damai dan stabil.
"Pakistan selalu mendukung Afghanistan yang damai, demokratis, bersatu, stabil, dan makmur yang terhubung dengan kawasan ini. Kedua negara mempertahankan kontak rutin pada masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama. Pakistan berharap perdamaian abadi akan dibangun di Afghanistan," kata juru bicara.
Taliban dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian di Qatar pada akhir Februari, yang membuka jalan bagi penarikan semua pasukan asing.
Perjanjian tersebut menghadapi tantangan karena dialog intra-Afghanistan yang dijadwalkan dimulai pada 10 Maret tidak dapat dimulai karena terjadi silang pendapat mengenai pembebasan 5.000 tahanan Taliban. (Xinhua/A-2)
Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi tegaskan tidak butuh gencatan senjata dan siap hadapi invasi darat AS.
Pada Jumat (27/2) belum ada permintaan resmi yang bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan.
Dubes Iran di Jakarta tegaskan Ali Khamenei telah memfatwakan nuklir itu haram. Ia menyebut tuduhan senjata nuklir hanyalah dalih AS-Israel untuk melakukan pembunuhan.
Iran tunjuk badan pemerintahan sementara beranggotakan 3 orang pasca wafatnya Ali Khamenei. Di saat bersamaan, AS siapkan operasi militer 100 hari ke Teheran.
Amerika Serikat pertimbangkan operasi militer hingga 100 hari terhadap Iran. Pentagon tambah personel intelijen di tengah eskalasi konflik yang meluas.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa setiap proses perundingan dengan Amerika Serikat berakhir dengan pelanggaran kesepakatan atau bahkan serangan militer terhadap Iran.
Setidaknya 10 negara dalam operasi yang berkisar dari serangan pesawat tak berawak hingga invasi, seringkali beberapa kali dalam satu tahun.
Presiden Iran Pezeshkian mengatakan pemerintah tetap beroperasi meskipun perang di negara itu semakin memanas.
Sebanyak sembilan orang dilaporkan tewas dan 40 lainnya mengalami luka-luka dalam bentrokan antara aparat kepolisian dan pengunjuk rasa Konsulat Amerika Serikat di Karachi, Pakistan.
Juru Bicara Taliban Zabiullah Mujahid mengecam serangan udara Pakistan di Kabul dan Kandahar. Kabul klaim lancarkan operasi balasan besar-besaran di perbatasan.
Hubungan Pakistan dan Afghanistan mencapai titik terendah. Islamabad meluncurkan serangan udara ke Kabul dan Kandahar sebagai balasan atas agresi Taliban.
Pakistan melancarkan serangan udara ke Nangarhar dan Paktika di Afghanistan. Kabul menuduh warga sipil tewas dan terluka, sementara Islamabad mengklaim operasi menargetkan TTP dan ISKP.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved