Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Cegah Gelombang Kedua Pandemi Covid-19, Kota Beijing Diperketat

Deri Dahuri
14/4/2020 12:17
Cegah Gelombang Kedua Pandemi Covid-19, Kota Beijing Diperketat
Petugas keamanan menjaga secara ketat Kota Beijing, Tiongkok.(AFP/File / NICOLAS ASFOURI)

PEMERINTAH Kota Beijing telah membentengi diri terhadap masuknya orang-orang dari luar Beijing sebagai upaya serius untuk menangkal ancaman gelombang kedua virus korona baru atau Covid-19 dari negara lain.

Kendati dikatakan sukses mengendalikan wabah Covid-19, pemerintah pusat Tiongkok juga tetap mengambil kebijakan untuk melarang orang-orang asing masuk ke negaranya. Kini Tiongkok masih sangat khawatir akan terjadi pandemi Covid-19 gelombang kedua yang berasal dari negara luar. Kendati sebenarnya, mereka yang datang masuk ke Tiongkok adalah warga negara Tiongkok sendiri.        

Untuk menangkal gelombang kedua pandemi Covid-19, pemerintah Kota Beijing telah melangkah lebih jauh dengan memberlakukan karantina 14 hari yang ketat terhadap mereka yang masuk ke wilayah Tiongkok. Penerapan karatina dilakukan kepada siapapun kendati hasil rapid test bahwa mereka dinyatakan negatif Covid-19.

Saat pemberlakuan karatina selama 14 hari diterapkan di Kota Beijing, namun beberapa kota-kota di wilayah Tiongkok tidak menerapkan kebijakan serupa.

Baca juga : Tiongkok Laporkan 89 Kasus Baru Covid-19

Terkait masih ada ancaman pandemi Covid-19 gelombang kedua, partai tunggal atau Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa juga telah menunda pelaksanaan kongres yang dilaksanakan setahun sekali. Kongres yang dikenal sebagai "dua sesi" seharusnya digelar pada Maret 2020.

Para ahli mengatakan penundaan Kongres Partai Komunis Tiongkok tidak lain untuk menghindari risiko terpapar virus korona. Pasalnya kongres tahunan tersebut dihadiri ribuan peserta.    

"Memperkuat pengaturan orang-orang yang kembali ke Beijing telah menjadi prioritas paling kritis, tidak mungkin untuk menciptakan kondisi yang tepat untuk melaksanakan  dua sesi (kongres)," kata Ma Liang, profesor dari  Renmin University's School of Public Administration and Policy.

Alfred Wu, profesor associate dari National University of Singapore's Lee Kwan Yew School of Public Policy, mengatakan pembatalan Kongres Partai Komunis Tiongkok tak lain untuk melindungi para elite partai yang berkuasa.  

 "Pada saat ini, pemerintah pusat dan kepemimpinan inti perlu terlindungi secara ketat sehingga orang awam tak boleh terkena imbasnya," kata Wu kepada AFP.

Pemerintah Beijing telah memberlakukan karantina 14-hari wajib pada semua mahsiswa yang kembali ke Kota Beijing walaupun mereka telah dinyatakan negatif Covid-19.  Tak hanya itu, semua tamu hotel harus mendapat catatan negatif Covid-19,  tujuh hari sebelum mereka menginap.

Dengan ketatnya peraturan Kota Beijing, warga Tiongkok dari wilayah lain sulit untuk masuk ke Kota Beijing. Chen Na, seorang satpam dari Provinsi Anhui, mengaku dirinya tidak dapat kembali ke mantan majikannya di Beijing karena wilayahnya dilabeli ‘berisiko tinggi’.

"Ketika mereka melihat dari mana asalku, percakapan terhenti. Aku bahkan tidak bisa mendapatkan wawancara. Aku sudah tidak bekerja sejak Februari," katanya. (AFP/OL-09)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Deri Dahuri
Berita Lainnya