Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Fenomena Godzilla El Nino Ancam Produksi Pangan, Petani Berisiko Gagal Panen

Atalya Puspa    
03/4/2026 14:19
Fenomena Godzilla El Nino Ancam Produksi Pangan, Petani Berisiko Gagal Panen
Gagal panen, lahan sawah mengering di Indramayu.(Dok. Antara)

FENOMENA Godzilla El Nino berpotensi menekan produksi pertanian nasional akibat kekeringan berkepanjangan. Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gagal panen dan mengganggu ketahanan pangan Indonesia.

Guru Besar Agroklimatologi UGM Bayu Dwi Apri Nugroho menjelaskan El Nino merupakan siklus alami yang kini semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim global. Ia menyebut istilah Godzilla El Nino digunakan untuk menggambarkan intensitas fenomena yang jauh lebih kuat dari biasanya.

“El Nino itu sebenarnya siklus alami, sudah lama terjadi. Tapi sekarang polanya terasa makin cepat karena pemanasan global. Nah, kalau intensitasnya sudah sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi,” ujarnya, Kamis (3/4).

Menurut Bayu, dampak paling signifikan Godzilla El Nino dirasakan pada komoditas pangan utama seperti padi dan jagung yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Penurunan suplai air akan menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan berpotensi menyebabkan kerusakan permanen.

“Padi dan jagung ini paling terasa dampaknya karena butuh air cukup banyak. Kalau airnya kurang, pertumbuhannya terganggu, bahkan bisa berujung gagal panen,” katanya.

Kondisi tersebut berimplikasi langsung pada petani. Kekeringan yang terjadi setelah masa tanam berisiko menyebabkan kerugian besar karena biaya produksi tidak kembali.

“Kalau kekeringan terjadi setelah tanam, petani bisa gagal panen. Artinya, biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak kembali dan jadi kerugian,” lanjutnya.

Untuk menekan risiko, Bayu menekankan pentingnya langkah mitigasi di tingkat petani, terutama melalui penguatan komunikasi dengan penyuluh pertanian. Akses informasi cuaca dan pemilihan varietas tanaman menjadi kunci dalam pengambilan keputusan di lapangan.

“Kuncinya ada di komunikasi petani dan penyuluh. Kalau informasinya jelas, petani bisa ambil keputusan yang lebih tepat di lapangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman menghadapi El Nino, termasuk melalui program pompanisasi, irigasi hemat air, serta pengembangan varietas tahan kekeringan. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan adaptasi petani.

Dalam konteks kebijakan, Bayu mendorong penguatan sistem peringatan dini oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika hingga tingkat desa. Selain itu, inovasi teknologi pertanian perlu terus dikembangkan oleh perguruan tinggi.

“Pemerintah melalui BMKG perlu memberikan early warning yang akurat hingga level desa, sementara perguruan tinggi harus terus didorong untuk menghasilkan inovasi varietas tahan kekeringan supaya dampak El Nino bisa ditekan,” pungkasnya.
(H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya