Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Banjir Grobogan Rendam 1.842 Ha Sawah, 9.736 KK Terdampak & Klaim AUTP

Akhmad Safuan
18/2/2026 13:43
Banjir Grobogan Rendam 1.842 Ha Sawah, 9.736 KK Terdampak & Klaim AUTP
Ilustrasi(MI/Akhmad Safuan)

BANJIR akibat tanggul jebol dan air sungai yang meluap di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, merendam sedikitnya 1.842 hektare sawah. Selain mengancam ketahanan pangan lokal, bencana ini juga berdampak langsung pada 9.736 keluarga di puluhan desa.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini sedang mengupayakan percepatan klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) guna meringankan beban petani yang terancam mengalami gagal panen atau puso.

Kronologi dan Sebaran Wilayah Terdampak

Kepala BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, mengungkapkan bahwa banjir dipicu oleh intensitas hujan tinggi di daerah hulu pada Minggu (15/2/2026) malam. Kondisi tersebut menyebabkan luapan pada Sungai Glugu, Sungai Jajar, Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi.

"Banjir di Grobogan merendam 45 desa di sejumlah kecamatan. Selain mengakibatkan 9.736 keluarga terdampak, ribuan hektare sawah juga terendam dan dikhawatirkan gagal panen. Kami masih melakukan pendataan lebih lanjut dan penanganan di titik-titik banjir yang masih tinggi," ujar Wahyu pada Rabu (18/2).

Berdasarkan pemantauan di lapangan, ketinggian air di area persawahan masih mencapai 50-100 centimeter. Di wilayah yang mulai surut, tanaman padi berusia 1,5 bulan tampak rusak berat akibat tertimbun lumpur yang dibawa arus banjir.

Jeritan Petani: Kerugian Modal Capai Rp12 Juta per Hektare

Potensi gagal panen massal menjadi ancaman nyata bagi para petani. Warsito (45), petani di Kecamatan Klambu, menyebutkan tanaman padinya kemungkinan besar tidak bisa diselamatkan karena sudah terendam selama tiga hari berturut-turut.

"Sudah dipastikan gagal panen (puso), karena sawah terendam sejak Senin (16/2). Sebagian besar tanaman padi mati atau hilang terhanyut banjir," keluh Warsito.

Hal senada disampaikan Slamet (59), petani di Kecamatan Godong. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian khusus karena modal yang dikeluarkan tidak sedikit. Estimasi kerugian petani mencapai Rp12 juta per hektare, yang mencakup biaya pengadaan bibit, pupuk, hingga tenaga kerja.

Info Penting: Petani yang memiliki polis AUTP diimbau segera melaporkan kerusakan lahan kepada petugas lapangan melalui WhatsApp untuk mempercepat proses verifikasi klaim ke Jasindo.

Mekanisme Klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP)

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menegaskan pentingnya akurasi data lapangan. Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) telah diterjunkan ke puluhan desa terdampak.

"Pendataan akurat sangat penting untuk pengajuan klaim asuransi ke PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebagai penanggung jawab program AUTP. Proses pengajuan klaim ini memiliki tenggat waktu satu pekan," jelas Defransisco.

Meski ribuan hektare lahan terdampak, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tetap optimistis target produksi padi sebesar 8,3 juta ton tahun 2026 tetap terpenuhi. Optimisme ini didasarkan pada pengalaman mitigasi bencana tahun-tahun sebelumnya yang mencakup area lebih luas.

Hingga berita ini diturunkan, koordinasi antara BPBD, Distanak, dan pihak asuransi terus diperkuat guna memastikan bantuan dan ganti rugi bagi petani dapat tersalurkan tepat waktu.

 

PENAFIAN _Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya