Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi fenomena El Nino yang diperkirakan mulai terjadi pada Mei 2026. Penguatan stok dinilai krusial untuk menjaga ketersediaan pangan di tengah risiko penurunan produksi akibat kekeringan.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan telah menyiapkan langkah mitigasi sejak dini, termasuk memperkuat stok pangan dari produksi dalam negeri.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan penguatan cadangan pangan menjadi strategi utama dalam menghadapi potensi dampak El Nino.
“Begitu mendengar potensi El Nino, kami langsung menyiapkan kewaspadaan. Penguatan cadangan pangan menjadi ujung tombak,” ujarnya dikutip dari siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (3/4).
Berdasarkan laporan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), fenomena El Nino diperkirakan akan berdampak pada wilayah selatan Indonesia, seperti Lampung, Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Untuk itu, pemerintah memperkuat produksi pangan nasional melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian serta meningkatkan penyerapan hasil panen oleh Perum Bulog guna menambah cadangan beras pemerintah.
“Kami berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian untuk menjaga produksi. Penyerapan gabah oleh Bulog menjadi krusial dalam memperkuat CPP,” tambah Ketut.
Selain beras, pemerintah juga memperkuat stok komoditas lain seperti jagung pakan, minyak goreng, gula, hingga daging. Per 2 April 2026, stok CPP tercatat mencapai 4,4 juta ton beras, 168 ribu ton jagung pakan, 121 ribu kiloliter minyak goreng, serta komoditas lainnya dalam jumlah yang dinilai memadai.
Program intervensi juga terus berjalan, di antaranya penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras yang telah mencapai 70 ribu ton sejak awal Maret. Sementara bantuan pangan telah terealisasi berupa 21,3 juta kilogram beras dan 4,2 juta liter minyak goreng.
Di sisi lain, pemerintah tengah menyiapkan program SPHP jagung pakan dengan target penyaluran 242 ribu ton, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Peneliti klimatologi dari BRIN, Erma Yulihastin, mengingatkan potensi El Nino tahun ini tergolong kuat atau bahkan masuk kategori Super El Nino.
“Ini akan terus diperbarui setiap minggu. Potensinya cukup besar dengan dampak panas dan kekeringan yang lebih tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan pemerintah telah mempercepat langkah mitigasi, baik dari sisi produksi maupun cadangan pangan.
“Stok beras pemerintah saat ini 4,4 juta ton dan ditargetkan mencapai 5 juta ton dalam waktu dekat. Persiapan kita jauh lebih baik dibanding sebelumnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, capaian tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga diharapkan mampu menjadi bantalan dalam menjaga stabilitas pangan nasional di tengah ancaman El Nino. (H-3)
Bapanas mencatat realisasi penyaluran bantuan pangan beras dan minyak goreng per 25 Maret telah menyentuh hingga 382.529 penerima di 24 provinsi.
Pemerintah menargetkan agar harga pangan pokok strategis terus bergerak menuju kondisi yang stabil pasca-Lebaran.
PEMERINTAH melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan membuka diri bagi masyarakat apabila menemukan anomali harga pangan pokok di pasaran.
TREN harga dua komoditas pangan strategis, yakni cabai rawit merah dan daging ayam ras, menunjukkan penurunan signifikan secara nasional di awal Maret 2026.
Harga cabai rawit merah mulai melandai di kisaran Rp60.000 per kg seiring membaiknya cuaca dan panen raya di sentra produksi. Cek update harga terbaru di sini.
MENTERI Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mempercepat langkah mitigasi menghadapi potensi El Nino melalui implementasi lima strategi utama di lapangan.
Indonesia dinilai memiliki ketahanan pangan yang kuat sehingga tetap aman meskipun banyak negara lain menghadapi kesulitan akibat gejolak global.
Berdasarkan neraca pangan hingga April 2026, Indonesia telah mencapai swasembada pada sembilan komoditas strategis dengan posisi surplus produksi yang kuat.
Berdasarkan Neraca Pangan, proyeksi hingga akhir Maret 2026, sejumlah komoditas utama menunjukkan ketersediaan yang jauh melampaui kebutuhan konsumsi Februari dan Maret 2026.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toba, Sumatra Utara, berkomitmen untuk terus menjaga ketersediaan pangan dan memastikan harga pangan tetap stabil di tingkat masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved