Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Hadapi Potensi El Nino, Perusahaan Sawit Perkuat Deteksi Dini Karhutla

Andhika Prasetyo
31/3/2026 22:55
Hadapi Potensi El Nino, Perusahaan Sawit Perkuat Deteksi Dini Karhutla
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa(PTPN IV)

PTPN IV PalmCo menetapkan status siaga dalam menghadapi potensi musim kemarau tahun ini, seiring prediksi kemungkinan munculnya fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada paruh kedua 2026. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa istilah El Nino Godzilla yang beredar di masyarakat tidak dikenal dalam kajian ilmiah. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut klasifikasi El Nino secara resmi hanya terdiri dari kategori lemah, moderat, dan kuat, dengan peluang sekitar 50–60 persen untuk El Nino lemah hingga moderat setelah pertengahan tahun.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, mengatakan perusahaan telah menyiapkan langkah mitigasi sejak dini dengan pendekatan yang cenderung konservatif. Salah satu fokus utama adalah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah operasional Sumatra dan Kalimantan.

Untuk mendukung upaya tersebut, perusahaan memanfaatkan sistem berbasis kecerdasan buatan bernama Arfina (Artificial Intelligence Fire Monitoring Integrated Ground Checking Nusantara) yang mampu memantau potensi titik panas secara real-time.

“Sistem ini digunakan untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas,” ujar Jatmiko, Selasa (31/3).

Selain teknologi, perusahaan juga menyiapkan tim siaga di lapangan untuk merespons setiap peringatan dini. Infrastruktur pendukung turut diperkuat melalui pembangunan embung dan sekat kanal di area rawan kekeringan, serta patroli bersama TNI dan Polri.

Di sisi budidaya, potensi kemarau panjang diperkirakan dapat memengaruhi produktivitas kelapa sawit, mulai dari terganggunya pertumbuhan tanaman, meningkatnya risiko serangan hama, hingga penurunan rendemen. Tanaman belum menghasilkan (TBM) menjadi perhatian khusus karena lebih rentan terhadap stres air.

“Karena itu, kami menerapkan strategi agronomi yang adaptif, termasuk pengelolaan kelembapan tanah dan tata air yang lebih efisien untuk menjaga stabilitas produksi di tengah tekanan iklim,” tutup Jatmiko. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya