Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Cegah Overthinking Akibat Isu Perang, Pakar UI Ingatkan Pentingnya Memilah Informasi

Basuki Eka Purnama
31/3/2026 06:18
Cegah Overthinking Akibat Isu Perang, Pakar UI Ingatkan Pentingnya Memilah Informasi
Ilustrasi(Freepik)

GURU Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi, mengingatkan masyarakat untuk selektif dalam memilah informasi di tengah maraknya isu perang dunia. Hal ini dinilai krusial guna mencegah overthinking demi menjaga kesehatan mental.

“Carilah sumber yang tepat, benar, untuk pemberitaan mengenai adanya perang dan sebagainya atau serangan. Jangan diambil dari semua sosial media yang mungkin bukan intinya lagi tapi dimasukin oleh informasi-informasi tambahan yang membuat kita makin bingung,” ujar Prof. Rose Mini, dikutip Selasa (31/3).

Psikolog yang akrab disapa Bunda Romi ini menjelaskan bahwa overthinking dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi tertekan, stres, hingga situasi sosial ekonomi. 

Karakter perfeksionis dan rasa tidak percaya diri juga turut menjadi pemicu saat seseorang menghadapi situasi yang mencekam.

Menurutnya, kekhawatiran berlebih sering muncul ketika seseorang merasa rencana hidupnya terancam gagal akibat situasi global. Dalam kondisi tersebut, informasi yang tidak akurat atau sampah justru akan memperburuk keadaan.

“Tiap manusia punya rencana, pada waktu rencananya itu kemungkinan akan gagal bila terjadi sesuatu, maka dia bisa berpikir sehingga membuat menjadi was-was. Apabila hal ini terjadi, maka informasi-informasi yang sifatnya sampah itu akan memperparah situasi dan memperparah tentang kesehatan mental seseorang,” tuturnya.

Mengenali Gejala Stres

Prof. Romi memaparkan sejumlah tanda kecemasan yang perlu diwaspadai, di antaranya sulit fokus, mudah merasa takut, hingga kebiasaan mempersiapkan sesuatu yang belum tentu terjadi. 

Pada tahap tertentu, kecemasan ini dapat memicu gejala fisik seperti jantung berdebar hingga perubahan perilaku, seperti takut keluar rumah atau menghindari aktivitas rutin.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia menekankan pentingnya dukungan emosional dari keluarga atau orang terdekat (*significant others*).

“Kalau ada seperti ini, maka orang-orang di sekelilingnya, significant others-nya, itu harus memberikan satu dukungan untuk bisa dia kembali kepada realita. Jadi jangan terlalu berpikir negatif tentang segala macamnya,” imbuh Prof. Romi.

Sebagai langkah penanganan mandiri, ia menyarankan masyarakat untuk mulai mengenali kemampuan diri, tetap memantau lingkungan sewajarnya, serta memperkuat pendekatan spiritual sesuai agama masing-masing.

”Kita harus belajar untuk melihat kemampuan diri kita, membaca memang sedikit tentang apa yang ada di lingkungan. Tapi yang paling penting, percaya pada Allah atau Tuhan dengan cara dan ibadah dari tiap agama masing-masing,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya