Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Bukan Cuma Sawit dan Kopi, Beras Hingga Singkong Jadi Pemicu Tersembunyi Deforestasi Global

Thalatie K Yani
28/3/2026 08:00
Bukan Cuma Sawit dan Kopi, Beras Hingga Singkong Jadi Pemicu Tersembunyi Deforestasi Global
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, publik sering kali menunjuk cokelat, kopi, atau minyak sawit sebagai biang keladi utama penggundulan hutan dunia. Namun, sebuah studi global terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan, tanaman pangan harian yang kita konsumsi secara lokal ternyata memainkan peran yang jauh lebih besar dalam hilangnya hutan dunia.

Produk pangan pokok seperti jagung, beras, dan singkong tercatat mendorong kerusakan hutan lebih masif dibandingkan banyak komoditas ekspor. Sayangnya, karena dikonsumsi secara lokal, dampak lingkungan dari tanaman-tanaman ini sering kali luput dari perhatian dunia.

Memetakan Pelaku Utama Kerusakan Hutan

Tim peneliti dari Chalmers University of Technology, Swedia, mengembangkan model mutakhir bernama Deforestation Driver and Carbon Emissions (DeDuCE). Model ini menggabungkan citra satelit dengan data statistik pertanian di 179 negara untuk melacak keterkaitan antara 184 komoditas dengan hilangnya hutan.

"Kaitan deforestasi dengan produksi pangan telah lama dipelajari, namun sering kali terfokus pada beberapa produk seperti daging sapi, kedelai, dan minyak sawit yang sudah dikenal luas," ujar Chandrakant Singh, salah satu penulis studi tersebut.

Menurut Singh, studi ini memberikan gambaran paling komprehensif hingga saat ini. Data menunjukkan bahwa antara tahun 2001 hingga 2022, sektor pertanian telah melenyapkan sekitar 122 juta hektare hutan, di mana lebih dari 80% kerusakan terjadi di wilayah tropis.

Pangan Pokok vs Komoditas Ekspor

Temuan ini menantang asumsi umum. Meski industri skala besar seperti daging sapi masih mendominasi di Amerika Selatan, tanaman pangan pokok menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Gabungan jagung, beras, dan singkong menyumbang sekitar 11% dari total deforestasi akibat pertanian. Sebagai perbandingan, gabungan cokelat, kopi, dan karet justru berkontribusi kurang dari 5%.

Hal ini menjadi tantangan besar karena tanaman pangan pokok ditanam di hampir seluruh negara, bukan hanya di titik panas (hotspot) tertentu, sehingga dampaknya menyebar luas dan lebih sulit dipantau.

Co-author studi tersebut, Martin Persson, menekankan pentingnya mengubah sudut pandang.

"Debat mengenai deforestasi selama ini banyak berkisar pada bagaimana orang-orang di negara kaya menyebabkan deforestasi melalui impor komoditas, dan ini sangat penting untuk ditangani. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa sebagian besar deforestasi didorong oleh produksi pertanian untuk pasar domestik. Jadi, untuk benar-benar mengurangi deforestasi, kita juga harus mengambil tindakan di negara-negara produsen," jelas Persson.

Dampak Nyata pada Emisi Karbon

Proses pembukaan lahan hutan biasanya melibatkan pembakaran, yang melepaskan simpanan karbon ke atmosfer. Studi ini memperkirakan bahwa deforestasi akibat pertanian dan kehutanan menghasilkan sekitar 41 miliar ton karbon dioksida antara 2001-2022, rata-rata hampir 2 miliar ton per tahun.

Meskipun angka ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, dampaknya tetap signifikan bagi perubahan iklim. "Bahkan jika angkanya lebih rendah, deforestasi akibat pertanian tetap menyumbang sekitar lima persen dari total emisi karbon dioksida dunia," tambah Singh.

Langkah ke Depan

Para peneliti berharap model DeDuCE dapat menjadi panduan bagi pembuat kebijakan dan perusahaan untuk menyusun strategi yang lebih tepat sasaran. Ke depannya, model ini direncanakan mencakup sektor non-pangan seperti pertambangan dan produksi energi yang juga menekan kelestarian hutan.

Dengan data yang lebih akurat, diharapkan setiap negara tidak hanya fokus pada standar ekspor, tetapi juga mulai membenahi cara pangan lokal diproduksi demi menjaga paru-paru dunia yang tersisa. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya