Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Momen Karbon Asia: Memasuki Era Aksi Nyata dan Transparansi Teknologi

Basuki Eka Purnama
11/3/2026 15:11
Momen Karbon Asia: Memasuki Era Aksi Nyata dan Transparansi Teknologi
Ilustrasi--Foto udara areal hutan mangrove di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (25/10/2025).(ANTARA/Andry Denisah)

SELAMA bertahun-tahun, pembahasan mengenai pasar karbon di Asia cenderung terjebak pada diskusi potensi dan pembangunan kerangka kerja. Namun, memasuki 2026, fase negosiasi tersebut resmi berakhir dan berganti menjadi era implementasi nyata.

CEO & Chairman The GrowHub Limited Lester Chan menekankan bahwa posisi Asia sangat krusial dalam peta iklim dunia. 

"Asia kini berkontribusi terhadap lebih dari setengah emisi global. Kawasan ini juga memiliki beberapa penyerap karbon (carbon sink) alami terpenting di dunia, seperti ekosistem mangrove, hutan tropis, dan kawasan pegunungan," ujarnya. 

Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah seberapa cepat dan kredibel kawasan ini mampu menghasilkan dampak yang dapat diverifikasi.

Dorongan Regulasi di Asia Tenggara

MI/HO

Sejalan dengan tren global, negara-negara di Asia Tenggara mulai memperkuat mekanisme penetapan harga karbon mereka. 

Indonesia, misalnya, telah meluncurkan bursa karbon bernama IDX Carbon. Langkah ini dipayungi oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) serta regulasi turunan dari Otoritas Jasa Keuangan (POJK Nomor 14 Tahun 2023).

Negara tetangga pun tidak ketinggalan. Thailand telah meloloskan RUU Perubahan Iklim, Vietnam memulai uji coba sistem perdagangan emisi (ETS), dan Malaysia tengah bersiap menerapkan pajak karbon. 

Perkembangan ini mengirimkan pesan kuat bagi dunia usaha bahwa karbon bukan lagi sekadar isu tambahan dalam laporan ESG, melainkan faktor penentu biaya, risiko, dan daya saing perusahaan.

Kualitas dan Transparansi Berbasis Teknologi

Seiring meningkatnya jumlah proyek, pengawasan terhadap kualitas kredit karbon menjadi semakin ketat. 

Data menunjukkan adanya pergeseran minat pasar dari kredit penghindaran emisi yang murah menuju proyek penurunan emisi dan penyerapan karbon dengan integritas tinggi. 

Pada 2025 saja, investasi pada proyek karbon baru meningkat tiga kali lipat hingga melampaui US$ 10 miliar.

Di tengah tuntutan transparansi ini, Measurement, Reporting, and Verification (MRV) menjadi elemen vital. 

Tanpa data tepercaya mengenai acuan (baseline) dan keberlanjutan dampak, pasar tidak akan memiliki kepercayaan. 

Menjawab tantangan tersebut, perusahaan teknologi Singapura, The GrowHub Limited, mengembangkan solusi manajemen emisi karbon berbasis kecerdasan buatan (AI) dan blockchain.

Teknologi AI digunakan untuk memantau dan membuat pemodelan kinerja proyek, sementara blockchain memastikan jejak data yang dihasilkan tidak dapat diubah dari lapangan hingga ke registri. 

“Kemampuan tersebut kini bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan standar dasar bagi proyek yang ingin memiliki kredibilitas jangka panjang,” ungkap Lester Chan.

Fase Krusial Masa Depan

Pasar karbon di Asia kini berada pada titik balik. Beberapa tahun ke depan akan menentukan apakah kawasan ini mampu memanfaatkan sumber daya alamnya dengan integritas yang dibutuhkan dunia. 

Prioritas tertinggi saat ini adalah pelaksanaan yang disiplin dan berkualitas, dengan investor serta pengembang proyek harus mendukung tata kelola yang kuat dan selaras dengan kebijakan pemerintah.

Dukungan teknologi dan regulasi yang matang diharapkan mampu mengubah potensi besar Asia menjadi dampak nyata yang terukur bagi upaya mitigasi perubahan iklim global. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya