Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Kualitas Sperma Paling Tinggi di Musim Panas, Ini Hasil Studinya

Thalatie K Yani
26/2/2026 10:12
Kualitas Sperma Paling Tinggi di Musim Panas, Ini Hasil Studinya
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH penelitian terbaru mengungkapkan fakta menarik mengenai kesehatan reproduksi pria. Studi yang melibatkan belasan ribu sampel menemukan kualitas sperma pria mencapai titik tertinggi pada musim panas dan berada pada level terendah saat musim dingin.

Para peneliti dari Inggris, Kanada, dan Denmark menganalisis sampel semen dari 15.581 pria berusia 18 hingga 45 tahun yang berlokasi di Denmark dan Florida, Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan motilitas sperma, yakni kemampuan sperma untuk berenang secara efektif, secara konsisten mencapai puncaknya pada bulan Juni dan Juli di kedua wilayah tersebut.

Temuan ini memberikan perspektif baru bagi dunia medis, terutama dalam mengoptimalkan waktu perawatan kesuburan dan pengujian fertilitas guna memberikan panduan yang lebih baik bagi pasangan yang sedang mencoba untuk memiliki keturunan.

Konsisten di Berbagai Iklim

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Reproductive Biology and Endocrinology ini menunjukkan tingkat motilitas sperma berubah mengikuti musim, bukan sekadar perbedaan iklim. Menariknya, level terendah ditemukan pada bulan Desember dan Januari, meskipun wilayah Florida cenderung tetap hangat sepanjang tahun.

Para ilmuwan mencatat meskipun kemampuan gerak (motilitas) sperma bervariasi secara musiman, variabel lain seperti konsentrasi sperma total dan volume ejakulasi tetap stabil tanpa dipengaruhi oleh perubahan musim. Hal ini menunjukkan waktu dalam setahun lebih memengaruhi kualitas "daya renang" sperma daripada jumlah sperma yang diproduksi.

Bukan Sekadar Faktor Suhu

Secara biologis, suhu optimal testis seharusnya berada dua hingga empat derajat lebih rendah dari suhu tubuh rata-rata (37 derajat Celsius). Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dari rentang tersebut diketahui dapat berdampak negatif pada motilitas sperma.

Namun, Profesor Allan Pacey dari University of Manchester, yang juga salah satu penulis studi ini, menyoroti adanya faktor lain di luar suhu lingkungan.

"Kami terkejut betapa miripnya pola musiman di dua iklim yang sangat berbeda. Bahkan di Florida, di mana suhu tetap hangat, motilitas sperma tetap memuncak di musim panas dan menurun di musim dingin, yang menunjukkan bahwa suhu lingkungan saja tidak mungkin menjelaskan perubahan ini," ujar Profesor Pacey.

Ia menambahkan studi ini sangat penting dalam mengevaluasi kualitas semen pria.

"Studi kami menyoroti pentingnya mempertimbangkan faktor musiman saat mengevaluasi kualitas semen. Temuan ini memperdalam pemahaman kita tentang kesehatan reproduksi pria dan dapat membantu meningkatkan hasil fertilitas," tambahnya. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya