Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

10 Kebiasaan yang Bisa Menurunkan Kesuburan Pria, Termasuk Rokok Vape

 Gana Buana
10/12/2025 21:01
10 Kebiasaan yang Bisa Menurunkan Kesuburan Pria, Termasuk Rokok Vape
Kebiasaan yang bisa menurunkan kesuburan pria, mulai dari vape, rokok, stres, hingga pola hidup buruk. S(Freepik)

KESUBURAN pria tidak hanya dipengaruhi faktor genetik, tetapi juga gaya hidup sehari-hari. Tanpa disadari, beberapa kebiasaan umum seperti merokok, begadang, atau sering duduk terlalu lama dapat menurunkan kualitas sperma. Salah satu yang sering dianggap aman tetapi ternyata berisiko adalah rokok elektrik atau vape.

Berikut rangkuman kebiasaan yang dapat menurunkan kesuburan pria dan penjelasan ilmiah di baliknya.

1. Rokok dan Vape (Rokok Elektrik)

Merokok sudah lama diketahui merusak kualitas sperma. Namun, vape juga memiliki risiko serupa meski sering dianggap lebih aman.

Dampak rokok dan vape terhadap kesuburan pria:

  • Menurunkan jumlah sperma (sperm count)
  • Mengurangi motilitas atau kemampuan sperma bergerak
  • Meningkatkan jumlah sperma abnormal
  • Mengganggu produksi testosteron

Cairan vape mengandung nikotin, logam berat dari coil, dan bahan kimia flavoring yang dapat menyebabkan stres oksidatif, yaitu kondisi yang merusak sel sperma dan DNA.

Kesimpulan: vape bukan solusi aman, efeknya terhadap kesuburan tetap signifikan.

2. Konsumsi Alkohol Berlebihan

Alkohol dapat mengganggu keseimbangan hormon seperti testosteron, FSH, dan LH. Penggunaan jangka panjang bisa:

  • Menurunkan jumlah sperma
  • Memicu impotensi
  • Mengganggu kualitas sperma secara keseluruhan

3. Kafein Berlebihan

Kopi pada batas wajar aman, namun konsumsi kafein berlebihan (lebih dari 400 mg/hari) dapat menurunkan motilitas sperma. Minuman energi lebih berisiko karena kandungan bahan aditif lain.

4. Kurang Tidur dan Pola Tidur Tidak Teratur

Tidur kurang dari 6 jam per malam dapat menurunkan produksi testosteron. Hasilnya:

  • Libido menurun
  • Kualitas sperma ikut terdampak
  • Risiko stres oksidatif meningkat

5. Pola Makan Buruk dan Obesitas

Asupan tinggi gula, fast food, dan makanan ultra-proses dapat meningkatkan peradangan tubuh. Obesitas membuat produksi testosteron menurun serta meningkatkan suhu skrotum, yang akhirnya menghambat spermatogenesis (produksi sperma).

6. Terpapar Panas Berlebih

Testis membutuhkan suhu yang lebih dingin dibanding suhu tubuh. Kebiasaan berikut bisa meningkatkan suhu testis:

  • Sering sauna atau mandi air panas
  • Menaruh laptop di paha
  • Menggunakan kursi mobil berpemanas
  • Peningkatan suhu menghambat produksi sperma secara signifikan.

7. Stres Kronis

Saat stres meningkat, tubuh memproduksi hormon kortisol. Kortisol yang tinggi dalam jangka panjang dapat menekan produksi testosteron, memengaruhi libido, dan menurunkan kualitas sperma.

8. Penggunaan Steroid Anabolik

Steroid anabolik sering digunakan untuk mempercepat pembentukan otot, tetapi efek sampingnya sangat berat terhadap kesuburan:

  • Menghambat produksi sperma drastis
  • Membuat testis mengecil
  • Pemulihan butuh waktu panjang (bulan hingga tahun)

9. Kurang Bergerak dan Terlalu Banyak Duduk

Gaya hidup sedentari membuat aliran darah ke area panggul berkurang dan meningkatkan suhu sekitar testis. Hal ini menurunkan:

  • Jumlah sperma
  • Motilitas sperma
  • Vitalitas sperma

10. Paparan Bahan Kimia Berbahaya

Beberapa zat seperti pestisida, BPA dari plastik, hingga ftalat dapat mengganggu hormon pria. Zat ini dikenal sebagai endocrine disruptor, yang sifatnya dapat merusak sistem reproduksi secara perlahan.

Bagaimana Cara Meningkatkan Kesuburan Pria?

Untuk mengembalikan kualitas sperma dan meningkatkan peluang kehamilan, langkah-langkah ini dapat dilakukan:

  • Berhenti merokok dan vape
  • Mengurangi alkohol dan kafein berlebih
  • Menurunkan berat badan bila berlebih
  • Tidur 7-9 jam per hari
  • Mengelola stres
  • Olahraga rutin tanpa berlebihan
  • Perbanyak asupan antioksidan (buah, sayur, ikan berlemak)
  • Kurangi paparan panas di area testis. (Sumber: American Society for Reproductive Medicine/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya