Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
TRICERATOPS adalah dinosaurus herbivora raksasa yang hidup sekitar 66 juta tahun yang lalu. Hewan ini sangat ikonik karena tiga tanduk serta jumbai tulang raksasa pada bagian kepalanya. Namun, Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal The Anatomical Record mengungkapkan hidung raksasa dinosaurus herbivora ini memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar indra penciuman.
Untuk mengungkap rahasia tersebut, Seishiro Tada dari Museum Universitas Tokyo dan rekan-rekannya dari museum sejarah alam di Amerika Serikat, Kanada, Jepang, dan Tiongkok melakukan pemindaian CT berbasis sinar-X pada tengkorak yang telah memfosil.
Melalui teknologi ini, mereka berhasil membangun model komputer 3D untuk mengintip struktur internal yang selama ini tersembunyi. Selain itu, tim ahli juga membandingkan anatomi fosil tersebut dengan struktur hidung hewan modern, seperti burung dan buaya.
Hasil penelitian menunjukkan rongga hidung Triceratops tidaklah kosong, melainkan dipenuhi jaringan saraf dan pembuluh darah yang rumit. Salah satu temuan unik berkaitan dengan saraf kranial terbesar, yakni jalur saraf trigeminal yang memberikan sensitivitas pada wajah.
Pada kebanyakan reptil, saraf ini biasanya mencapai lubang hidung melalui jalur rahang. Namun, karena bentuk tengkorak Triceratops yang masif dan padat, jalur tersebut terblokir. Kondisi anatomi ini akhirnya memaksa sistem saraf dan pembuluh darah mengambil rute alternatif yang unik melalui cabang hidung.
Para peneliti juga menemukan bukti adanya respiratory turbinate, yaitu struktur tulang melengkung di dalam hidung yang biasanya ditemukan pada mamalia dan burung, namun jarang terlihat pada dinosaurus. Struktur ini berfungsi seperti radiator alami yang membantu menghangatkan serta melembapkan udara yang dihirup.
Meskipun Triceratops mungkin tidak sepenuhnya berdarah panas seperti hewan modern, keberadaan turbinasi ini membuktikan adanya sistem pengaturan suhu dan kelembapan yang sangat efisien dalam tubuh raksasa tersebut.
Bagi hewan sebesar Triceratops, menjaga stabilitas suhu tubuh merupakan mekanisme vital untuk kelangsungan hidup. Organ-organ utama seperti jantung, paru-paru, dan otak hanya dapat bekerja maksimal dalam rentang suhu yang aman. Jika suhu tubuh terlalu ekstrem, sistem biologis mereka bisa terganggu.
Mengingat Triceratops hidup di iklim hangat Zaman Kapur Akhir, tubuhnya yang masif memiliki risiko tinggi untuk memerangkap panas berlebih (overheating). Dengan rasio volume tubuh yang besar dibandingkan luas permukaannya, proses pendinginan suhu tubuh secara alami menjadi tantangan besar.
Di sinilah hidung berperan sebagai sistem pendingin sentral. Dengan membantu mendinginkan udara yang masuk serta melepaskan panas berlebih melalui jaringan pembuluh darah yang kompleks, Triceratops dapat mencegah stres panas yang bisa berakibat fatal.
Selain suhu, pengendalian kelembapan juga menjadi kunci utama. Dengan menjaga uap air tetap berada di dalam tubuh saat bernapas, dinosaurus ini dapat terhindar dari dehidrasi, terutama saat menghadapi lingkungan yang kering. (BBC/Nautilus/Z-2)
Para ilmuwan menemukan gigi Tyrannosaurus tertancap di tengkorak Edmontosaurus berusia 66 juta tahun. Temuan langka ini mengungkap interaksi predator dan herbivora di akhir zaman Kapur.
Studi terbaru menggunakan CT scan dan rekonstruksi 3D mengungkap struktur hidung Triceratops yang kompleks
Penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan: beberapa spesies buaya purba berevolusi menjadi herbivora, memakan tumbuhan, berbeda dari buaya modern yang karnivora.
Tim peneliti internasional menemukan Foskeia Pelendonum, dinosaurus herbivora mini dengan tengkorak kompleks, dari periode Kapur Awal di Spanyol.
Dinosaurus jenis Chilesaurus diegosuarezi mematahkan stigma tradisional bahwa dinosaurus yang tampak seperti predator pastilah pemakan daging.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved