Headline
Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, para ilmuwan meyakini makhluk laut pertama di Bumi menghilang secara bertahap sebelum terjadinya peristiwa kepunahan besar. Namun, penemuan fosil terbaru di Inner Meadow, Kanada Timur, memutarbalikkan teori tersebut dan mengungkap tabir tentang kepunahan massal pertama dalam sejarah hewan yang dikenal sebagai Krisis Kotlin.
Penemuan ini mengubah pandangan ilmuwan dari yang semula menganggapnya sebagai penurunan spesies biasa, menjadi sebuah bencana katastrofe yang terjadi sekitar 550 juta tahun lalu.
Di permukaan batu yang kaya akan fosil, puluhan organisme laut berbentuk daun terawetkan dengan sangat detail. Dr. Duncan McIlroy dari Memorial University of Newfoundland mengidentifikasi fosil tipe Avalon ini berada di lapisan batuan yang berusia sekitar 551 juta tahun.
Hal ini mengejutkan karena organisme tersebut sebelumnya hanya ditemukan pada lapisan yang jauh lebih tua. Penemuan di Inner Meadow menunjukkan bahwa makhluk-makhluk ini masih hidup hingga sesaat sebelum kepunahan terjadi, memaksa para ahli menilai kembali seberapa mendadak ekosistem purba tersebut runtuh.
Sebelumnya, ilmuwan percaya kehidupan kompleks awal muncul dalam tiga gelombang yang saling menggantikan. Namun, data penanggalan menunjukkan fosil Inner Meadow berusia 13 juta tahun lebih muda dari situs serupa lainnya. Ini membuktikan kelompok organisme tua dan muda sebenarnya hidup berdampingan di lingkungan yang berbeda, seperti laut dalam dan laut dangkal.
Penemuan ini mematahkan ide bahwa satu kelompok spesies sekadar menggantikan kelompok lainnya. Sebaliknya, mereka berkembang bersama hingga bencana melanda di puncak keragaman mereka.
Dengan ditemukannya bentuk kehidupan tua ini tepat di ambang kepunahan, skala kerusakan akibat Krisis Kotlin ternyata jauh lebih besar dari perkiraan semula. “Tingkat keparahan peristiwa kepunahan Krisis Kotlin jauh lebih mendalam,” ujar McIlroy.
Estimasi kerugian kini melonjak hingga 80% dari seluruh makroorganisme (fosil besar yang dapat dilihat tanpa mikroskop) yang musnah dalam satu gelombang tunggal. Sebelumnya, angka kepunahan di periode Ediakaran terlihat sangat rendah, namun Krisis Kotlin mengubah kestabilan tersebut menjadi bencana dalam waktu singkat.
Meski situs Inner Meadow tidak bisa membuktikan penyebab tunggal secara pasti, petunjuk kimiawi pada lapisan batuan menunjukkan adanya penurunan kadar oksigen di lautan purba. Kondisi ini kemungkinan besar membuat hewan-hewan terdesak ke zona layak huni yang semakin menyempit hingga akhirnya kolaps.
Fosil-fosil ini dapat terawetkan dengan sempurna karena abu vulkanik yang mengendap di dasar laut menyegel organisme tersebut dari pembusukan, menjadikannya sebuah situs Lagerstätte atau situs dengan pengawetan luar biasa.
Studi ini menegaskan bahwa kehidupan kompleks awal Bumi tidak berevolusi secara tenang menuju ledakan Kambrium. Sebaliknya, mereka harus melewati masa kehilangan yang sangat menghancurkan. Krisis Kotlin kini bukan lagi sekadar transisi evolusi yang lambat, melainkan bukti nyata bahwa bencana lingkungan mampu menyapu bersih kejayaan keragaman hayati hanya dalam sekejap mata. (Earth/Z-2)
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Burung purba memiliki keunggulan dalam pola makan. Paruh tanpa gigi memungkinkan mereka memakan biji-bijian dan sumber makanan sederhana yang masih tersedia.
Penelitian internasional menemukan kebakaran liar tetap ada di Bumi pasca kepunahan massal Permian, meski bukti arang tampak hilang.
Penelitian terbaru mengungkap hilangnya hutan tropis menyebabkan pemanasan global berkepanjangan setelah peristiwa Great Dying 252 juta tahun lalu.
Penelitian terbaru menemukan kepunahan massal akhir Permian, yang dikenal sebagai Great Dying, mungkin tidak seburuk yang diperkirakan bagi tumbuhan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved