Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR 66 juta tahun lalu, sebuah asteroid raksasa menghantam Bumi dan memicu kepunahan massal. Peristiwa ini mengakhiri era dinosaurus besar yang selama jutaan tahun mendominasi planet. Namun, satu kelompok dinosaurus justru berhasil bertahan hingga kini, yaitu burung.
Sebelum kepunahan massal terjadi, sebagian dinosaurus kecil telah berevolusi menjadi bentuk awal burung. Mereka memiliki tubuh relatif kecil dan struktur tubuh yang lebih ringan. Ciri ini membuat mereka membutuhkan energi lebih sedikit dibanding dinosaurus berukuran besar.
Tumbukan asteroid menyebabkan kebakaran global dan debu tebal yang menutupi sinar Matahari selama bertahun-tahun. Tumbuhan mati, rantai makanan runtuh, dan banyak hewan kehilangan sumber makanan. Dinosaurus besar tidak mampu bertahan dalam kondisi ekstrem tersebut.
Burung purba memiliki keunggulan dalam pola makan. Paruh tanpa gigi memungkinkan mereka memakan biji-bijian dan sumber makanan sederhana yang masih tersedia. Fleksibilitas ini menjadi faktor penting dalam bertahan hidup saat ekosistem hancur.
Kemampuan terbang juga memberi burung peluang lebih besar untuk mencari tempat aman dan sumber makanan baru. Mereka dapat berpindah lokasi dengan cepat, berbeda dengan dinosaurus darat yang terjebak di lingkungan yang rusak.
Karena keunggulan inilah burung dianggap sebagai satu-satunya dinosaurus yang masih hidup hingga sekarang. Dinosaurus non-unggas tidak mampu beradaptasi dengan perubahan drastis pasca-asteroid dan akhirnya punah.
Kisah bertahannya burung menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi sering kali lebih menentukan kelangsungan hidup dibanding ukuran atau kekuatan semata.
Sumber: smithsonianmag.com, nhm.ac.uk
66 juta tahun lalu asteroid raksasa menghantam Bumi, memicu kepunahan dinosaurus, tsunami raksasa, dan hilangnya 75% spesies.
Penelitian internasional menemukan kebakaran liar tetap ada di Bumi pasca kepunahan massal Permian, meski bukti arang tampak hilang.
Penelitian terbaru mengungkap hilangnya hutan tropis menyebabkan pemanasan global berkepanjangan setelah peristiwa Great Dying 252 juta tahun lalu.
Penelitian terbaru menemukan kepunahan massal akhir Permian, yang dikenal sebagai Great Dying, mungkin tidak seburuk yang diperkirakan bagi tumbuhan.
PENELITIAN terbaru mengungkapkan bahwa peristiwa kepunahan massal sekitar 201,6 juta tahun yang lalu disebabkan oleh dingin vulkanik yang menandai berakhirnya periode Trias
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) akan melakukan revitalisasi sebanyak 59 bahasa daerah di tahun 2023.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved